
IMF: Jangan subsidi semua, bantuan tunai terarah lebih efektif hadapi inflasi

Warga mengantre bahan bakar minyak di sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Bogor, Jawa Barat, pada 14 September 2022. (Indonesia Window)
New York City, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Dukungan keuangan yang ditargetkan, alih-alih subsidi menyeluruh, merupakan cara paling efektif untuk melindungi rumah tangga rentan saat inflasi melonjak, ungkap Dana Moneter Internasional (IMF) pada Selasa (6/10).
Transfer tunai yang ditargetkan dan bersifat sementara dapat melindungi rumah tangga miskin dari lonjakan harga kebutuhan pokok, sekaligus membatasi beban pada keuangan negara, ungkap IMF dalam laporan Prospek Ekonomi Dunia (World Economic Outlook) edisi Oktober 2026 yang bertajuk ‘Menavigasi Dunia yang Rentan Guncangan: Pelajaran dari Krisis Biaya Hidup’ (Navigating a Shock-Prone World: Lessons from Cost-of-Living Crises).
Bantuan semacam itu menyalurkan sumber daya yang terbatas kepada mereka yang paling membutuhkan, sekaligus membiarkan harga pasar yang lebih tinggi menjadi sinyal kelangkaan dan mendorong konsumen untuk mengurangi konsumsi, ungkap laporan tersebut.
IMF menyampaikan bahwa dukungan tersebut harus disesuaikan dengan porsi sementara dari guncangan harga dan mencakup batas waktu yang jelas, alih-alih memberikan kompensasi kepada rumah tangga atas harga yang secara permanen lebih tinggi.
Jika pemerintah memperluas kriteria kelayakan, bantuan harus tetap dikaitkan dengan rata-rata dampak guncangan tersebut terhadap rumah tangga berpenghasilan rendah, papar IMF.
Rekomendasi tersebut dirilis menyusul kurun waktu lima tahun ketika harga kebutuhan pokok sehari-hari, termasuk pangan, listrik, dan bahan bakar, melonjak tajam di banyak negara, sehingga menekan anggaran rumah tangga dan, dalam beberapa kasus, mengancam stabilitas ekonomi yang lebih luas.
IMF menuturkan dampaknya dapat bertahan lama setelah lonjakan awal harga pangan dan energi mereda. Ekspektasi inflasi dapat bertahan di atas tingkat sebelum krisis selama bertahun-tahun, sementara penurunan upah riil menggerus daya beli rumah tangga.
Seiring semakin rentannya perekonomian terhadap guncangan, pemerintah harus memperkuat sistem perlindungan sosial sebelum krisis melanda, tutur IMF. Langkah tersebut dapat menjadikan intervensi di masa mendatang lebih efektif, sekaligus menjaga ruang fiskal untuk merespons guncangan baru.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Inflasi di Belanda naik jadi 10 persen lebih untuk kali pertama sejak 1975
Indonesia
•
05 Aug 2022

Harga minyak naik dipicu pasokan ketat, Brent dekati 84 dolar per barel
Indonesia
•
12 Jan 2022

Penjualan produsen otomotif China Geely naik 8 persen pada 2022
Indonesia
•
10 Jan 2023

Sekjen PBB sambut baik perpanjangan kesepakatan ekspor biji-bijian Laut Hitam
Indonesia
•
18 Nov 2022


Berita Terbaru

Investasi AI dongkrak ekonomi ASEAN+3, proyeksi pertumbuhan 2027 naik jadi 4,1 persen
Indonesia
•
07 Oct 2026

Di tengah proteksionisme global, Hong Kong jadi ekonomi paling bebas dunia, ini yang membuatnya unggul
Indonesia
•
07 Oct 2026

Feature – Hainan olah 4.200 ton sampah per hari, hasilkan 1,7 juta kWh listrik
Indonesia
•
04 Oct 2026

Feature – 10 perusahaan pangan China bidik pasar Indonesia, kerja sama kuliner meluas
Indonesia
•
04 Oct 2026
