
Harga pangan dunia tembus level tertinggi dalam hampir 4 tahun, apa pemicunya?

Seorang petani memeriksa bulir gandum hasil panen di daerah pedesaan Damaskus, Suriah, pada 30 Juni 2026. (Xinhua/Ammar Safarjalani)
Roma, Italia (Xinhua/Indonesia Window) – Harga pangan dunia naik pada September hingga mencapai level tertinggi dalam hampir empat tahun di tengah gangguan logistik dan kekhawatiran akan kondisi cuaca, demikian disampaikan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Jumat (2/10).
Indeks Harga Pangan FAO rata-rata mencapai 136,0 poin pada September, naik dari angka yang telah direvisi sebesar 134,0 poin pada Agustus. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak November 2022.
Indeks acuan FAO untuk harga serealia, gula, dan minyak nabati semuanya meningkat pada bulan lalu, sedangkan harga daging dan produk susu menurun.
Kepala Ekonom FAO Maximo Torero mengatakan gangguan di Selat Hormuz dan Laut Hitam, ditambah dengan guncangan iklim, menekan sektor energi, transportasi, dan sejumlah komoditas pangan utama.
Jika terus berlanjut, tekanan-tekanan tersebut pada akhirnya dapat berdampak pada harga pangan konsumen, terutama di negara-negara yang bergantung pada impor pangan dan energi, kata Torero.
Menurut FAO, kekhawatiran terhadap pola cuaca El Nino yang parah mendorong harga gula internasional mencapai level tertinggi dalam 18 bulan.
Sementara itu, gangguan terhadap perdagangan di Laut Hitam di tengah konflik mendorong kontrak berjangka gandum mencapai level tertinggi dalam tiga tahun pada awal September.
FAO memperkirakan produksi serealia dunia pada 2026 mencapai 2,979 miliar metrik ton, relatif tidak berubah dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya. Angka tersebut 2,1 persen lebih rendah dibandingkan dengan produksi pada 2025, tetapi masih akan menjadi produksi tertinggi kedua yang pernah tercatat.
FAO juga memangkas perkiraan perdagangan serealia dunia pada 2026/2027 sebesar 0,7 persen dibandingkan dengan perkiraan pada September, dengan alasan ekspektasi ekspor gandum dan jagung yang lebih rendah di tengah keterbatasan rute pelayaran di Laut Hitam.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Pelonggaran pembatasan Swiss diharapkan tingkatkan ekspor Indonesia
Indonesia
•
12 Aug 2021

Bahan bakar fosil pendorong utama krisis iklim
Indonesia
•
21 May 2026

Pendapatan pariwisata China capai 3.864 triliun rupiah pada paruh pertama 2022
Indonesia
•
08 Apr 2022

PM Slovakia sebut negaranya berpotensi tangguhkan bantuan ke Ukraina di tengah sengketa transit gas
Indonesia
•
11 Jan 2025


Berita Terbaru

Kekhawatiran krisis energi meningkat di Asia Tenggara, survei ungkap penyebabnya
Indonesia
•
02 Oct 2026

Indonesia punya 57 industri rumput laut berkapasitas 197.650 ton per tahun, 80 persen karagenan masih setengah jadi
Indonesia
•
02 Oct 2026

Punya 1.300 spesies ikan air tawar, BRIN siapkan jalan ikan hias Indonesia ke pasar global
Indonesia
•
02 Oct 2026

Krisis energi global mengintai, Putra Mahkota Saudi serukan keamanan jalur pelayaran
Indonesia
•
01 Oct 2026
