
1,4 miliar hektare lahan terbuang untuk pangan yang tak pernah dimakan, FAO ungkap dampak besarnya

Ilustrasi. (John Cameron on Unsplash)
Roma, Italia (Xinhua/Indonesia Window) – Mengurangi susut dan limbah pangan (food loss and waste) dapat membantu mentransformasi sistem pertanian pangan, melestarikan sumber daya alam, serta meredakan tekanan terhadap kawasan hutan, menurut Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Qu Dongyu pada Selasa (29/9).
Qu menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah acara yang digelar bersama oleh FAO dan Badan PBB untuk Lingkungan Hidup (UNEP) di kantor pusat FAO di Roma, dalam rangka memperingati Hari Kesadaran Internasional tentang Susut dan Limbah Pangan ketujuh.
Menurut FAO, sebanyak 13,4 persen dari total pangan yang diproduksi secara global mengalami susut setelah panen hingga sebelum mencapai tingkat ritel, sementara 19 persen pangan yang tersedia bagi konsumen terbuang di tingkat ritel, layanan makanan, dan rumah tangga.
Susut dan limbah pangan juga berimplikasi pada pemborosan lahan, air, serta berbagai sumber daya lain yang digunakan dalam proses produksi pangan. FAO memperkirakan bahwa sekitar 1,4 miliar hektare lahan digunakan untuk memproduksi pangan yang pada akhirnya sama sekali tidak dikonsumsi.
Mengingat ekspansi pertanian masih menjadi pendorong utama deforestasi secara global, upaya mengurangi susut dan limbah pangan dapat membantu mengoptimalkan pemanfaatan lahan pertanian yang ada sekaligus mengurangi tekanan terhadap hutan, ungkap FAO.
"Untuk melindungi hutan, kita harus mentransformasi sistem pertanian pangan; untuk mentransformasi sistem pertanian pangan, kita harus mengurangi susut dan limbah pangan; dan dengan mengurangi susut serta limbah pangan, kita turut membantu melindungi hutan," ujar Qu.
Susut dan limbah pangan menyumbang sekitar 10 persen dari emisi gas rumah kaca global. Ketika makanan yang dibuang membusuk, terutama di tempat pembuangan akhir (TPA) dalam kondisi tanpa oksigen, proses tersebut juga menghasilkan metana, gas rumah kaca yang sangat kuat.
Meskipun telah ada berbagai komitmen internasional, dunia belum menunjukkan kemajuan berarti dalam mengurangi susut pangan sejak 2015 dan masih melenceng dari jalur pencapaian target 12.3 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG), yang bertujuan untuk memangkas setengah limbah pangan per kapita di tingkat ritel dan konsumen serta mengurangi susut pangan di sepanjang rantai produksi dan pasokan pada 2030.
Dalam acara tersebut, FAO juga meluncurkan peta data Indeks Susut Pangan interaktif, yang menyajikan estimasi susut pangan untuk 2024 di tingkat subregional dan regional.
FAO menyatakan bahwa perangkat tersebut akan memperluas akses terhadap data susut pangan serta mendukung perumusan kebijakan berbasis bukti dan berbagai upaya untuk menekan susut pangan di seluruh sistem pertanian pangan.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Italia negara tamu kehormatan CICPE, bidik lebih banyak kerja sama perdagangan
Indonesia
•
12 Apr 2023

Feature – San Francisco berharap pekan APEC kembali rebut hati pengunjung internasional, terutama dari China
Indonesia
•
16 Nov 2023

Utang AS memburuk dramatis saat anggota parlemen berargumen soal batas pinjaman
Indonesia
•
18 Feb 2023

Irak ekspor sekitar 99 juta barel minyak mentah pada April 2023
Indonesia
•
03 May 2023


Berita Terbaru

Bensin tembus 55 ribu per liter, warga Belanda berburu BBM ke Belgia dan Jerman
Indonesia
•
29 Sep 2026

Kedalaman air hanya 1 meter, kekeringan Sungai Rhine tambah beban logistik Jerman
Indonesia
•
29 Sep 2026

Fokus Berita – Investasi China di Jawa Tengah ciptakan lebih dari 500 lapangan kerja, batik dan kantin halal jadi bagian strategi
Indonesia
•
29 Sep 2026

Fokus Berita – Perdagangan Fujian-Indonesia tembus 200 triliun rupiah, dari pabrik makanan halal hingga kawasan industri
Indonesia
•
30 Sep 2026
