
Fokus Berita – 20 tahun BRICS, Xi serukan kelompok Global South jadi pelopor tatanan dunia baru

Para pemimpin negara-negara BRICS berfoto bersama dalam Sesi I Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 di New Delhi, India, pada 12 September 2026. (Xinhua/Wang Ye)
New Delhi, India (Xinhua/Indonesia Window) – Presiden China Xi Jinping pada Sabtu (12/9) menyerukan kepada negara-negara BRICS untuk dengan tegas berpihak pada sisi sejarah yang benar dan berupaya menjadi pelopor di masa kini.
Saat menyampaikan pidato dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 di New Delhi, Xi mengungkapkan bahwa tahun ini menandai peringatan 20 tahun kerja sama BRICS, seraya mengatakan bahwa mekanisme tersebut telah menjadi platform kerja sama paling berpengaruh di dunia bagi emerging market dan negara-negara berkembang.
Selama dua dekade terakhir, BRICS telah berkembang menjadi platform yang lebih luas untuk mendorong pertumbuhan bersama, dialog, dan keterwakilan yang lebih besar bagi Global South di organisasi-organisasi internasional, kata para analis.
Mereka menilai kelompok tersebut diharapkan dapat menghasilkan lebih banyak hasil yang nyata serta mendorong tatanan dunia yang lebih seimbang dan inklusif di masa depan.
Dua Dekade Kerja Sama BRICS
Mekanisme kerja sama BRICS secara resmi diluncurkan pada 2006. KTT BRIC perdana digelar di Yekaterinburg, Rusia, pada 2009. Setahun kemudian, Afrika Selatan bergabung dengan kelompok tersebut, sehingga BRIC menjadi BRICS.
Sejak saat itu, mekanisme tersebut terus berkembang, baik dari segi keanggotaan maupun bidang kerja sama. Saat ini, negara-negara BRICS mencakup hampir setengah dari populasi dunia, sekitar 30 persen perekonomian global, dan seperlima perdagangan dunia, serta menjadi kekuatan untuk mendorong dunia yang lebih representatif dan multipolar sekaligus memperkuat suara Global South.
Memuji berbagai pencapaian selama dua dekade terakhir, Xi mengatakan bahwa mekanisme kerja sama BRICS terus tumbuh dan berkembang, serta telah menunjukkan vitalitas dan dinamisme yang luar biasa.
Menguraikan sejarah mekanisme tersebut selama 20 tahun, Xi menuturkan bahwa periode tersebut merupakan 20 tahun kemandirian dan penguatan diri, seraya menambahkan bahwa negara-negara BRICS telah secara aktif mengeksplorasi jalur pembangunan yang sesuai dengan kondisi nasional masing-masing, menjadi contoh penguatan diri melalui persatuan di antara emerging market dan negara-negara berkembang.
Dekade pertama kerja sama BRICS terutama merupakan periode pembentukan kelembagaan, sedangkan dekade kedua merupakan periode ekspansi, kata Rakhim Oshakbayev, direktur TALAP Center for Applied Research di Kazakhstan sekaligus mantan wakil menteri investasi dan pembangunan Kazakhstan.
Namun, signifikansi BRICS melampaui pertumbuhan jumlah anggotanya.
Xi mengatakan bahwa negara-negara BRICS telah membangun kerangka kerja sama yang komprehensif dan bertingkat, serta memasuki tahap baru pembangunan berkualitas tinggi bagi kerja sama BRICS yang lebih luas.
Alih-alih menggantikan institusi global yang sudah ada, BRICS berupaya memperkuat dialog, kesetaraan, sikap saling menghormati, dan kerja sama antarnegara, tutur Balew Demissie, konsultan senior di Policy Studies Institute Ethiopia.
BRICS, dengan keanggotaannya yang telah diperluas, menyediakan platform bagi emerging economy di seluruh dunia untuk memiliki suara yang lebih kuat dalam isu-isu global seperti perdagangan, pembangunan, keuangan, perubahan iklim, serta perdamaian dan keamanan, ujar Demissie.
Peran pelopor
Mengenai perkembangan BRICS di masa depan, Xi menyerukan agar kelompok tersebut menjadi pelopor dalam mendorong pembangunan yang digerakkan oleh inovasi.
Menurut Xi, negara-negara BRICS perlu memperkuat kerja sama di bidang kecerdasan buatan (AI) serta mendorong kerja sama praktis ke bidang-bidang baru dan tingkat yang lebih tinggi.
China mengusulkan inisiatif untuk mempromosikan industrialisasi baru melalui AI di antara negara-negara BRICS dan bersedia bekerja sama dengan semua pihak untuk menghasilkan lebih banyak capaian dalam penelitian, pengembangan, dan penerapan, serta mempererat kerja sama dalam rantai industri dan rantai pasokan, ujarnya.
Oshakbayev mengatakan bahwa teknologi baru, seperti AI, berisiko menciptakan kesenjangan teknologi baru antara negara-negara yang memiliki model canggih, daya komputasi, serta kemampuan menetapkan standar dengan negara-negara yang sebagian besar masih berperan sebagai pengguna teknologi.
Penelitian bersama, jaringan penelitian, pendidikan, dan pelatihan di bawah BRICS dapat memberikan peluang yang lebih besar bagi negara-negara berkembang untuk berpartisipasi dalam inovasi teknologi, imbuhnya.
Xi juga menyerukan agar BRICS menjadi pelopor dalam menjaga perdamaian dan stabilitas.
Menyebut bahwa situasi di Timur Tengah masih kompleks dan dinamis, Xi mengatakan perang tersebut telah menimbulkan kerugian serius bagi masyarakat di negara-negara di kawasan itu dan bertentangan dengan kepentingan bersama masyarakat internasional.
China akan bekerja sama dengan negara-negara anggota BRICS lainnya untuk memainkan peran yang semestinya dalam membawa perdamaian dan ketenteraman ke Timur Tengah, ujarnya.
Diaa Helmy, pendiri sekaligus sekretaris jenderal Kamar Dagang Mesir-China, mengatakan bahwa BRICS menawarkan platform penting untuk kerja sama alih-alih konfrontasi. "Di dalam BRICS, kami tidak bersaing; kami saling melengkapi," ujarnya.
Mengenai pertukaran antarperadaban, Xi menyerukan agar negara-negara BRICS menjunjung nilai-nilai kemanusiaan bersama serta mendorong pertukaran dan pembelajaran timbal balik antarperadaban sekaligus hidup berdampingan secara harmonis.
Pertukaran semacam itu dapat membantu masyarakat lebih memahami satu sama lain dengan tetap menghormati perbedaan, kata Oshakbayev.
Menurutnya, BRICS dapat memberikan pengalaman yang bermanfaat bagi dialog antarperadaban yang setara.
Xi selanjutnya menyerukan agar BRICS menjadi pelopor dalam mereformasi dan menyempurnakan tata kelola global.
Dia mendesak kelompok tersebut untuk mengikuti tren menuju demokrasi yang lebih besar dalam hubungan internasional, mendorong sistem tata kelola global yang lebih adil dan setara, serta menegakkan otoritas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Demissie, pakar dari Ethiopia, mengatakan bahwa BRICS tidak berupaya untuk menggantikan lembaga-lembaga global yang sudah ada, melainkan membuat tata kelola global menjadi lebih representatif dan lebih responsif terhadap kepentingan serta aspirasi negara-negara Global South.
Dalam pidatonya, Xi mengumumkan bahwa China akan memegang kepemimpinan bergilir BRICS dan menjadi tuan rumah KTT BRICS ke-19 tahun depan.
Dalam masa keketuaan sebelumnya, China memainkan peranan penting dalam memajukan agenda BRICS. Selama dua dekade terakhir, China telah menjadi tuan rumah tiga KTT BRICS, yang masing-masing menandai tonggak baru dalam perkembangan kelompok tersebut.
Ketika China menggelar KTT BRICS pertamanya di resor tropis Sanya pada 2011, Afrika Selatan untuk pertama kalinya menghadiri pertemuan tersebut sebagai anggota baru.
Enam tahun kemudian, di Xiamen, Xi mengusulkan pendekatan kerja sama "BRICS Plus", dengan mengundang para pemimpin dari negara-negara non-anggota BRICS untuk membahas kerja sama pembangunan internasional dan memperdalam kerja sama Selatan-Selatan.
Ketika China kembali memegang kepemimpinan BRICS pada 2022, para pemimpin negara anggota bertemu secara virtual. China menyerukan "kemitraan berkualitas tinggi yang lebih komprehensif, erat, praktis, dan inklusif" serta menekankan pembangunan global. KTT tersebut meletakkan dasar bagi ekspansi besar kelompok itu pada tahun berikutnya.
Ketika kerja sama BRICS memasuki ‘dekade emas’ ketiganya, babak baru dimulai dengan China, dengan suara Global South yang semakin kuat.
China diharapkan bekerja sama dengan anggota BRICS lainnya untuk mendorong sistem tata kelola global yang lebih adil dan setara dengan mengedepankan multilateralisme serta meningkatkan keterwakilan Global South di lembaga-lembaga keuangan dan politik, ungkap Farhana Paruk, pakar China-Afrika yang berbasis di Cape Town.
"Saya percaya bahwa kepemimpinan China mendatang dalam BRICS dapat membuka fase baru yang lebih menekankan pembangunan praktis dan mempersempit kesenjangan di antara perekonomian negara-negara anggota," kata Salah El-Din Fahmy, profesor ilmu ekonomi di Universitas Al-Azhar Mesir.
"BRICS masih terus berkembang," ujar Fahmy, seraya menambahkan bahwa China dapat membantu memajukan proses tersebut secara bertahap selama masa keketuaannya mendatang dengan berfokus pada bidang-bidang yang menjadi kepentingan bersama di kalangan negara anggota serta mendorong kerja sama yang membuat kelompok tersebut semakin solid dan lebih mampu menghadapi tantangan global.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Minyak melonjak ke titik tertinggi 13 pekan dipicu permintaan bensin AS
Indonesia
•
09 Jun 2022

BAIC berencana perkenalkan dua mobil listrik di Indonesia pada 2026
Indonesia
•
06 Mar 2026

Menpar dorong pariwisata jadi penggerak ekonomi rakyat
Indonesia
•
05 Sep 2025

China berjanji dorong pertumbuhan ekonomi swasta
Indonesia
•
21 Jul 2023


Berita Terbaru

Fokus Berita – Industri konser gerakkan ekonomi, bisnis sewa ponsel ‘flagship’ jadi sumber ‘cuan’
Indonesia
•
14 Sep 2026

Deklarasi KTT ke-18 BRICS di New Delhi perkuat barisan Global South, serukan reformasi tata kelola dunia
Indonesia
•
14 Sep 2026

Fokus Berita – Dari Bishkek hingga New Delhi, Xi Jinping dorong kerja sama Global South
Indonesia
•
12 Sep 2026

Harga minyak WTI tembus 100 dolar AS per barel, konflik Timur Tengah Memanas
Indonesia
•
12 Sep 2026
