Feature – Tradisi teh China Gong Fu Cha Bikin Takjub, Setiap Tegukan Ternyata Punya Makna Mendalam

Foto yang diabadikan pada 24 Januari 2026 ini memperlihatkan Septian, seorang staf kedai, sedang memulai proses penyeduhan teh, serta berbagai peralatan yang digunakan dalam sesi 'workshop' Gong Fu Cha di Kedai Pieces of Peace di kawasan Petak Enam, Glodok, Jakarta Barat. (Xinhua/Noviyanti)

Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Uap tipis mengepul dari teko teh kecil di atas meja. Aroma daun teh yang baru diseduh perlahan memenuhi ruangan Kedai Pieces of Peace di kawasan Petak Enam, Glodok, Jakarta Barat. Di tempat itu, sebuah workshop memperkenalkan Gong Fu Cha, seni menyeduh dan menikmati teh khas China yang telah diwariskan selama berabad-abad.

Lebih dari sekadar cara membuat minuman, Gong Fu Cha menghadirkan perpaduan antara keterampilan, ketelitian, dan penghormatan terhadap alam maupun sesama manusia. Setiap gerakan dalam proses penyeduhan memiliki makna tersendiri, mulai dari membersihkan peralatan hingga cara menikmati aroma teh sebelum menyesapnya.

Dalam sesi workshop tersebut, Septian, staf Kedai Pieces of Peace, menjelaskan bahwa Gong Fu Cha kerap hadir dalam berbagai momen penting budaya China. "Biasanya upacara tradisional China ini dikaitkan dengan acara seperti lamaran, menghargai orang tua, atau permintaan maaf bagi orang yang salah dengan tuan rumah," ujarnya kepada peserta workshop dan juga Xinhua.

Di atas meja tersusun berbagai peralatan khas yang menjadi bagian penting dalam ritual tersebut. Terdapat cha pan (nampan teh), cha hu (teko kecil), cha hai yang dikenal sebagai ‘cangkir keadilan’, serta cha bei (cangkir teh berukuran kecil). Selain itu, terdapat seperangkat cha dao yang terdiri dari sendok teh, penjepit, dan saringan, serta suihu berupa set tungku dan cerek, dan cha jin sebagai lap pembersih.

Masing-masing alat memiliki fungsi yang mendukung proses penyeduhan agar berlangsung rapi dan konsisten. Namun, di balik fungsi praktisnya, beberapa di antaranya juga mengandung filosofi mendalam.

Salah satu yang paling menarik adalah cha hai atau ‘cangkir keadilan’. Setelah teh selesai diseduh di dalam cha hu, seluruh hasil seduhan harus dituangkan terlebih dahulu ke dalam wadah tersebut sebelum dibagikan ke setiap cangkir.

Prinsipnya sederhana, yaitu memastikan setiap orang memperoleh rasa teh yang sama. Jika teh dituangkan langsung dari teko ke beberapa cangkir secara bergantian, cangkir terakhir akan memiliki rasa lebih pekat karena daun teh terus mengalami proses ekstraksi. Dengan menggunakan cha hai, seluruh seduhan tercampur merata sehingga tidak ada perbedaan rasa.

Dalam sesi workshop itu, peserta diperkenalkan pada Biluochun, salah satu teh hijau terkenal dari China yang memiliki daun kecil menggulung menyerupai siput. Sebagai pembanding, disajikan pula teh putih Silver Needle yang diproduksi di Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.

Silver Needle merupakan salah satu jenis teh putih yang hanya menggunakan pucuk daun pertama dari tanaman teh. Daun muda tersebut dipetik pada waktu tertentu untuk mempertahankan kualitas dan karakter rasanya yang khas. Di Indonesia, varietas serupa dikenal dengan sejumlah nama berbeda tergantung daerah pengembangannya.

Sebelum penyeduhan dimulai, seluruh peralatan terlebih dahulu disterilkan menggunakan air panas. Daun teh juga mengalami proses pencucian singkat dengan cara disiram air panas lalu segera dibuang.

Menurut Septian, tahap tersebut penting untuk menjaga kebersihan karena daun teh telah melalui perjalanan panjang, mulai dari pemetikan, pengeringan, hingga pengemasan.

"Selain peralatannya dicuci hingga steril, tehnya juga ikut dicuci," ujar Septian. "Jadi, untuk Anda yang pakai teh dari lokal ataupun dari luar negeri sebaiknya dicuci. Karena proses teh panjang. Mulai dari pemetikan, pemilihan daun teh, proses pengeringan, sampai ke packaging, itu sudah pasti kena debu dan kena campur tangan manusia. Jadi, untuk yang pakai teh celup, atau teh yang biasanya ada di rumah, harus tetap dicuci," jelasnya lebih lanjut.

Setelah itu, daun teh dimasukkan ke dalam teko menggunakan cha shi atau sendok takar khusus. Untuk teko berkapasitas sekitar 200 mililiter, digunakan sekitar 3 gram teh. Seduhan pertama berlangsung sekitar 40 detik hingga satu menit, tergantung tingkat kepekatan teh yang diinginkan.

Suhu air juga menjadi faktor penting. Untuk teh hijau dan teh putih, suhu ideal berada pada kisaran 70 hingga 80 derajat Celsius. Air yang terlalu panas dapat merusak daun teh dan mengubah karakter rasanya. Sebaliknya, teh hitam dan teh merah justru memerlukan air mendidih untuk menghasilkan cita rasa terbaik.

Septian menggambarkan hubungan antara teko dan air seperti hubungan "ibu dan anak" yang harus selaras agar menghasilkan seduhan yang sempurna.

Selain mengajarkan teknik penyeduhan, Gong Fu Cha juga menanamkan nilai penghormatan terhadap para petani teh. Sebelum diminum, cangkir dipegang dengan tangan kiri menopang bagian bawah, sementara tangan kanan menutupi bagian atas cangkir. Sebelum menyeruput teh, aroma yang keluar dari seduhan dihirup perlahan.

Menurut Septian, tindakan sederhana tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada para petani teh yang telah bekerja keras menanam dan memanen daun teh. Di sejumlah wilayah pegunungan di China, proses budidaya teh dilakukan di daerah terpencil yang sulit dijangkau kendaraan. Medan yang curam dan kondisi alam yang menantang membuat pekerjaan memetik daun teh membutuhkan ketekunan dan pengorbanan yang tidak sedikit.

Karena itu, menikmati aroma teh sebelum meminumnya dipandang sebagai bentuk apresiasi terhadap perjalanan panjang yang telah dilalui daun teh hingga akhirnya tersaji dalam cangkir.

Selain teknik dan filosofi, Gong Fu Cha juga mengajarkan etika saat bertamu. Dalam tradisi tersebut, tamu dianjurkan menerima dan mencicipi seduhan pertama sebagai bentuk penghormatan kepada tuan rumah.

Bahkan bagi mereka yang tidak terbiasa minum teh, seduhan pertama tetap dianggap penting untuk diterima. Setelah itu, tamu dapat menentukan sendiri apakah ingin melanjutkan menikmati seduhan berikutnya atau tidak.

Praktik tersebut menunjukkan bahwa dalam budaya teh China, secangkir teh sering kali berfungsi sebagai sarana komunikasi sosial yang mempererat hubungan antarindividu.

Melalui secangkir teh, Gong Fu Cha menghadirkan pelajaran tentang kesabaran, keseimbangan, dan penghargaan terhadap proses. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, tradisi ini menawarkan kesempatan untuk berhenti sejenak, menikmati aroma yang menguar dari cangkir, dan merasakan makna yang tersimpan dalam setiap tegukan.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait