
Feature – Tak perlu tutup jalan, teknologi China bikin jembatan ‘pintar’ bisa pantau kondisinya sendiri

Foto yang diabadikan pada 11 Juli 2026 ini menunjukkan penampakan lokasi konstruksi pekerjaan perbaikan yang dilakukan oleh Intelligent Engineering Connections Incorporated (IEC) dan mitra lokalnya di Jembatan Jamuna yang membentang di atas Sungai Jamuna di Bangladesh utara-tengah. (Xinhua)
Chengdu, China (Xinhua/Indonesia Window) – Selama puluhan tahun, para engineer menghadapi dilema yang berat, yakni bagaimana cara memeriksa dan memelihara komponen-komponen jembatan yang krusial tanpa menghentikan arus lalu lintas. Kini, sebuah perusahaan China membantu mengubah paradigma tersebut.
Intelligent Engineering Connections Incorporated (IEC), yang berbasis di Chengdu, ibu kota Provinsi Sichuan, China barat daya, melengkapi jembatan-jembatan di seluruh dunia dengan apa yang disebutnya ‘sambungan pintar’ (smart joint), yakni bantalan jembatan (bridge bearing) dan perangkat ekspansi (expansion device) berteknologi tinggi yang dapat dikalibrasi saat mendapatkan beban penuh, mendeteksi tegangan struktural secara waktu nyata (real-time), dan bahkan dapat dicopot serta didaur ulang setelah digunakan.
Teknologi ini membantu produk-produk IEC dipakai di lebih dari 30 negara dan kawasan, mulai dari Asia Selatan hingga Timur Tengah dan Amerika Utara.
Perusahaan itu kembali mengambil langkah besar dalam ekspansi globalnya pada Senin (13/7), dengan menandatangani perjanjian kerja sama strategis dan distribusi eksklusif dengan Pan Sarawak Holdings Sdn Bhd dari Malaysia, yang akan memperkenalkan sistem kembar digital canggih milik IEC untuk pemantauan kesehatan struktural jembatan ke pasar Malaysia.
Bantalan jembatan berfungsi sebagai ‘sambungan krusial’ dalam sistem penahan beban (load-bearing system) jembatan, yang menyerap gaya-gaya eksternal dari lalu lintas, fluktuasi suhu, dan aktivitas seismik.
Dalam jangka waktu lama, bantalan jembatan yang digunakan bekerja menanggung beban secara terus-menerus, sehingga metode kalibrasi dan inspeksi tradisional, yang memerlukan pelepasan beban dan pemindahan bantalan, menjadi sulit dilakukan dan mengganggu kelancaran arus lalu lintas.
Untuk memeriksa apakah bantalan jembatan berfungsi dengan baik, para engineer biasanya harus melepaskan beban dan memindahkan keseluruhan struktur. Proses ini menyebabkan gangguan besar, mahal, dan sering kali mengharuskan penutupan jalan.
"Konektor-konektor tradisional hanyalah 'kerangka' infrastruktur. Kami ingin konektor-konektor tersebut menjadi 'saraf', yang berarti mampu merasakan dan bahkan berpikir," ujar Wu Dacheng, direktur IEC.
IEC mengubah keadaan tersebut. Teknologi mereka kini dapat melakukan kalibrasi bantalan secara tepat di tempatnya, tanpa perlu melepaskan beban atau memindahkannya.
Teknologi itu, yang secara resmi dinamai ‘Perangkat Pengukuran/Kalibrasi Gaya Cerdas Struktural dan Sistem Pemantauan Keselamatan’ (Structural Intelligent Force Measurement/Calibration Device and Safety Monitoring System), baru-baru ini diakui sebagai salah satu produk ‘unggulan industri’ batch pertama pemerintah Chengdu. IEC kini memegang 170 paten, termasuk 27 paten invensi China dan tiga paten PCT internasional.
Terobosan ini saja telah menghemat jutaan dolar untuk biaya pemeliharaan dan menghindari gangguan lalu lintas selama berjam-jam di berbagai proyek, ujar Wu.
IEC juga menanamkan sensor Internet of Things (IoT) ke dalam bantalan, yang berfungsi sebagai ‘dokter keluarga’ nonstop sepanjang waktu untuk setiap jembatan.
"Dengan sistem pengukuran gaya struktural cerdas, kalibrasi, dan pemantauan keselamatan yang kami kembangkan secara mandiri, bantalan dapat memantau gaya internal, perpindahan, percepatan, dan parameter penting lainnya secara waktu nyata," tutur Zhao Weichao, seorang engineer IEC.
"Jika terjadi sesuatu yang tidak normal, sistem ini tidak hanya membunyikan peringatan tetapi juga melakukan penyesuaian secara adaptif. Sistem ini dapat mendeteksi masalah sebelum struktur benar-benar mengalami kerusakan," ungkap Zhao.
Pada Februari 2026, teknologi ini membuktikan kemampuannya di Jembatan Jamuna di Bangladesh, salah satu jembatan terbesar di negara Asia Selatan tersebut.
Bekerja di ruang yang sempit dan terbatas di bawah dek jembatan, IEC dan mitra lokalnya melakukan retrofit pada struktur jembatan tanpa menghentikan satu mobil pun di atasnya.
"Ruang kerja sangat sempit sehingga metode konvensional nyaris tidak mungkin dilakukan," kata Li Shaofang, seorang manajer di CCCC Second Harbor Engineering Company, salah satu mitra dalam proyek tersebut.
"Peralatan pintar IEC memungkinkan kami melakukan pekerjaan dengan presisi tinggi dan kendali penuh di ruang yang terbatas itu tanpa mengganggu arus lalu lintas. Teknologi ini memiliki potensi besar untuk penerapan lebih luas, baik dalam proyek-proyek domestik maupun luar negeri," sebut Li.
Rekam jejak IEC telah menjangkau seluruh dunia. Sambungan siar muai (expansion joint) buatan IEC terbukti mampu bertahan di tengah panasnya gurun di jalan lingkar Doha, yang dibangun untuk Piala Dunia FIFA 2022. Bantalan gesernya (sliding bearing) menopang sistem atap yang kompleks di Stadion SoFi, Los Angeles, yang akan menjadi tuan rumah Olimpiade 2028. Pusat-pusat layanan baru juga direncanakan di Singapura dan Brisbane.
IEC, yang merupakan salah satu pemain terkemuka di pasar domestik China, telah membukukan pesanan senilai 300 juta yuan untuk tahun ini, menargetkan pertumbuhan nilai output tahunan sebesar 30 persen.
*1 yuan = 2.665 rupiah
"Kami mengubah 'Made in China' (Buatan China) menjadi label untuk solusi cerdas dan rendah karbon," papar Wu. "Ini bukan sekadar membangun jembatan. Ini tentang memastikan jembatan tersebut lebih tahan lama, lebih cerdas, dan lebih ramah lingkungan."
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan temukan virus yang paling mungkin sebabkan hepatitis misterius pada anak
Indonesia
•
26 Jul 2022

Studi: Emisi pembakaran biomassa tingkatkan konsentrasi CO2 global
Indonesia
•
22 Mar 2023

China luncurkan label sertifikasi emisi karbon untuk dukung budi daya yang lebih ramah lingkungan
Indonesia
•
02 Aug 2024

Penelitian: Sildenafil kandidat obat untuk penyakit Alzheimer
Indonesia
•
07 Dec 2021


Berita Terbaru

Sel Surya tandem perovskit-organik bisa menyala terus 625 jam, tetap pertahankan 90 persen performanya
Indonesia
•
17 Jul 2026

Teknologi laser bisa deteksi minuman beralkohol palsu tanpa membuka botol
Indonesia
•
17 Jul 2026

ITB perkuat kerja sama riset energi, garap AI, hidrogen, hingga teknologi penangkap karbon
Indonesia
•
17 Jul 2026

AI tak boleh lepas kendali, konferensi AI dunia serukan empat prinsip tata kelola global
Indonesia
•
17 Jul 2026
