Feature – Saat sekolah lain fokus pada nilai, sekolah ini justru mengajarkan anak bertani dan memasak

Para murid belajar membuat hidangan dingin di Sekolah Dasar No. 23 di Distrik Xingqing, Yinchuan, Daerah Otonom Etnis Hui Ningxia, China barat laut, pada 21 Mei 2026. (Xinhua/Ai Fumei)

Yinchuan, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tugasnya adalah membuat hidangan dingin, tetapi godaan untuk mencicipinya lebih dulu sulit untuk ditahan!

Saat murid kelas lima, Nan Haoyi, berusaha menata sepiring salad, sepasang sumpit terus menjulur dari samping. "Berhenti makan," protesnya sambil menepis sumpit seorang teman sekelas. "Nanti tidak ada yang tersisa."

Suasana yang hidup dan sedikit riuh itu bukan terjadi di kantin sekolah, melainkan di sebuah kelas pendidikan keterampilan kerja di Sekolah Dasar No. 23 di Distrik Xingqing, Yinchuan, ibu kota Daerah Otonom Etnis Hui Ningxia di China barat laut. Di sana, murid belajar mencuci sayuran, menggunakan pisau, mencampur bumbu, dan membersihkan area kerja – serta, secara lebih luas, memahami betapa banyak usaha yang dibutuhkan untuk menyajikan makanan sehari-hari.

Pada suatu hari baru-baru ini, para murid datang ke kelas dengan membawa bahan makanan dari rumah, lalu mereka mengenakan celemek dan topi koki, dan segera membagi tugas di antara mereka. Tak lama kemudian, ruangan itu berubah menjadi beberapa area kerja kecil. Di satu meja, para murid menyiapkan sayuran, sementara di meja lain para murid melakukan proses belansir. Di meja berikutnya, bumbu dicampur dalam mangkuk, sementara piring-piring menunggu untuk ditata.

Guru mereka, Yu Haiyan, yang juga mengajar bahasa Mandarin, hanya memberikan beberapa pengingat, yakni mereka harus berhati-hati saat mengolah bahan makanan dan selalu waspada saat menggunakan pisau. Setelah itu, para murid mulai mengerjakan tugas masing-masing.

Salah satu kelompok gagal membuat kentang serut seperti yang direncanakan. Alih-alih membuang hidangan tersebut, para murid dengan cepat mengubahnya menjadi kentang tumbuk. Kemudian, ketika Yu bertanya pelajaran apa yang mereka peroleh dari kelas tersebut, seorang murid mengatakan bahwa pengalaman menunjukkan pentingnya beradaptasi ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan.

Bagi para guru di sekolah ini, improvisasi kecil semacam itu adalah bagian dari apa yang seharusnya diajarkan dalam kelas pendidikan keterampilan kerja.

Di seluruh China, pendidikan keterampilan kerja kembali mendapat perhatian resmi dalam beberapa tahun terakhir, dengan sekolah-sekolah didorong untuk membantu anak-anak mengembangkan keterampilan hidup dasar dan rasa hormat terhadap pekerjaan.

Namun, di banyak sekolah perkotaan, gagasan tersebut tidak mudah diwujudkan. Keterbatasan ruang, tanggung jawab keselamatan yang besar, serta latar belakang guru yang umumnya berasal dari mata pelajaran lain menjadi tantangan. Akibatnya, kelas kerja kerap terpinggirkan, bahkan di beberapa tempat hanya diwujudkan melalui video atau bentuk ‘pengalaman daring’ lainnya.

Di sekolah ini di Yinchuan, para pengelola berupaya mengubah mata pelajaran yang mudah menjadi sekadar simbolis itu menjadi sesuatu yang benar-benar dapat disentuh, dimasak, dan dibersihkan langsung oleh murid-murid.

Selama lima tahun terakhir, sekolah tersebut telah membangun tiga fasilitas yang memungkinkan anak-anak belajar melalui praktik langsung, yaitu sebidang lahan pertanian kecil, ruang kelas memasak, dan museum benih. Ketiganya membentuk apa yang oleh sekolah itu disebut sebagai sistem pendidikan kerja ‘dari ladang ke meja makan’ (field-to-table). Para murid mempelajari benih dan tanaman, berpartisipasi dalam menanam serta merawat sayuran, berlatih memasak, dan membersihkan sendiri setelah pekerjaan selesai. 

Sekolah tersebut memulai dengan sebidang lahan pertanian pada 2021, kemudian menambahkan ruang kelas memasak dua tahun setelahnya, dan membuka museum benih pada 2025, sebuah upaya bertahap untuk menyediakan ruang, baik secara harfiah maupun figuratif, bagi mata pelajaran yang mudah untuk ditugaskan namun lebih sulit diajarkan.

"Dengan adanya ruang-ruang nyata seperti ini, pendidikan keterampilan kerja bukan lagi sekadar jadwal di atas kertas," ujar Shen Hao, direktur kantor urusan akademik sekolah tersebut. "Hal itu bukan lagi menjadi sekadar aktivitas yang dilakukan sekali saja."

Pembelajaran dimulai dengan pekerjaan sehari-hari yang sederhana. Di kelas-kelas awal, anak-anak berlatih melipat pakaian, merapikan tas sekolah, dan mengupas bawang putih. Seiring bertambahnya tingkatan kelas, mereka belajar mengenali berbagai jenis tanaman pertanian, mencoba memasak hidangan sederhana, merawat lahan pertanian sekolah, dan menyiapkan hidangan rumahan. Saat kelulusan, pihak sekolah berharap dapat menyelenggarakan ‘jamuan kelulusan’ bagi para orang tua dan guru.

"Kami tidak sedang mencoba melatih juru masak atau petani," sebut Wang Yongli, seorang administrator senior di sekolah tersebut. "Kami ingin anak-anak memahami kehidupan sehari-hari dan menghargai pekerjaan."

Para murid berlomba mengupas bawang putih dalam sebuah kompetisi keterampilan kerja pada peringatan Hari Anak Internasional di Kampus Lijing Sekolah Dasar No. 23 di Yinchuan, Daerah Otonom Etnis Hui Ningxia, China barat laut, pada 1 Juni 2026. (Xinhua/Ai Fumei)

Namun, suasana dapur yang tampak ceria itu sebenarnya bergantung pada sistem aturan, pengawasan, dan persiapan yang cermat dari orang dewasa.

Sebelum setiap kelas memasak, para murid harus mengisi formulir keamanan pangan terlebih dahulu dan memeriksa riwayat alergi atau kebutuhan diet khusus di dalam kelompok mereka. Bahan-bahan makanan harus dibeli dari supermarket umum, dan struk pembeliannya wajib disimpan. Hidangan yang sudah jadi kemudian disimpan sebagai sampel selama 48 jam untuk mengantisipasi jika ada masalah yang perlu dilacak. Selain itu, ruang kelas juga dilengkapi dengan kompor induksi, yang dinilai oleh pihak sekolah jauh lebih aman bagi anak-anak.

Tantangan lain adalah ketersediaan tenaga pengajar. Pada awalnya, kelas keterampilan kerja sering diajarkan oleh guru bahasa Mandarin atau matematika, sehingga pelajaran ini mudah kembali menjadi pembelajaran akademik biasa. Untuk menjaga agar pembelajaran tetap pada jalurnya, pihak sekolah kemudian menyusun buku panduan pendidikan keterampilan kerja mereka sendiri. Panduan ini merinci keterampilan yang harus dikuasai murid di setiap tingkat kelas, sekaligus memperkuat sistem pengawasan di dalam kelas.

Yu menyebutkan kemampuan memasaknya semula hanya biasa-biasa saja, jadi dia berlatih terlebih dahulu sebelum mengajar muridnya.

Menurutnya, itu menjadi kerja tambahan, tetapi melihat kepercayaan diri para muridnya membuat semua usaha tersebut sepadan.

Para orang tua juga menyadari perubahan tersebut. Li Rongrong, ibu dari seorang murid kelas lima, mengatakan bahwa anaknya dulu hampir tidak tahu apa-apa tentang pekerjaan rumah tangga dasar dan selalu menolak saat diajari. Namun, setelah belajar bersama teman-teman sekelasnya, anak itu menjadi jauh lebih bersemangat untuk mencoba dan kini bahkan sudah bisa memasak untuk sang ibu saat dia sedang kurang sehat.

Kembali ke ruang memasak, para murid beralih dari sesi diskusi ke sesi mencicipi hidangan. Para murid mengambil mangkuk dan sumpit, berbaris untuk mencicipi hidangan yang telah mereka buat, lalu membersihkan meja dapur dan wastafel.

Bagi Ma Xiaoying, seorang murid lainnya, pelajaran itu memiliki makna yang lebih sederhana. "Orang tua saya tidak perlu khawatir lagi saya akan kelaparan," ujarnya. 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait