
Feature – Orang Indonesia habiskan 5,7 jam per hari di ponsel, tapi enggan detoks digital

Foto yang diabadikan pada 6 Juni 2026 ini menunjukkan suasana di dalam sebuah kendaraan transportasi umum di Jakarta. (Xinhua/Istimewa)
Kecanduan gawai membawa dampak negatif yang nyata secara fisik, psikologis, sosial, hingga akademik atau pekerjaan.
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Bagi sebagian besar warga Indonesia, menatap layar gawai (gadget) bukan lagi sekadar aktivitas pengisi waktu luang, melainkan sudah menjadi denyut nadi kehidupan. Berdasarkan data terbaru Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Tanah Air telah menembus angka luar biasa yakni 235,26 juta jiwa, dengan tingkat penetrasi mencapai 81,72 persen dari total populasi.
Lebih mengejutkan lagi, laporan dari GoodStats mencatat bahwa masyarakat Indonesia sukses menjadi ‘jawara global’ dalam urusan screen time, dengan rata-rata durasi penggunaan ponsel mencapai 5,7 jam per orang setiap harinya. Di tengah kepungan notifikasi yang tiada henti, sebuah gerakan penyeimbang mulai berdengung, yakni detoks digital. Namun, dengan sederet manfaatnya, tren ini terlihat masih berjalan di tempat.
Memahami detoks digital
Secara sederhana, detoks digital adalah periode waktu ketika seseorang secara sukarela berhenti menggunakan perangkat elektronik seperti ponsel pintar, komputer, dan media sosial. Tujuannya bukan untuk kembali ke zaman batu, melainkan untuk mengurangi stres, mencegah kecemasan, dan memulihkan kembali fokus pada kehidupan nyata.
Dengan melakukan detoks, seseorang diharapkan mampu memutus rantai ketergantungan pada notifikasi yang terus-menerus memicu kecemasan.
Bagi sebagian orang, istilah detoks digital mungkin terdengar intimidatif, seolah-olah kita harus membuang semua gawai dan hidup terisolasi. Padahal, esensinya jauh dari itu.
Ria Damayanti (41), seorang karyawan swasta di Jakarta yang juga pelaku detoks digital, mengaku pada awalnya dia bahkan tidak tahu istilah formal dari apa yang dilakukannya. Dia baru familier dengan frasa tersebut setelah ramai diperbincangkan di media sosial. Menurut Ria, detoks digital yang diterapkannya bukanlah bentuk mengisolasi diri secara ekstrem dari teknologi.
"Detoksku bukan yang bener-bener gak pakai barang digital atau ngilang dari medsos gitu ya, tapi aku batasin aksesnya," ujarnya kepada Xinhua di Jakarta pada Kamis (4/6).
Strateginya cukup cerdik, dia menghapus aplikasi media sosial di ponselnya, namun sesekali tetap memantau pembaruan informasi secara terbatas melalui laptop.
Saat gawai mulai menguasai diri
Ketertarikan seseorang untuk membatasi diri dari teknologi biasanya berakar dari rasa tidak nyaman akibat ketergantungan. Ria, misalnya, memutuskan mengambil jeda karena merasa gim, ponsel, dan media sosial telah membuat dirinya tidak fokus dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari.
Dampak buruk dari ketergantungan berlebih ini bukan sekadar perasaan subjektif. Muhammad Fijar Rotul Akbar (37), counselor di BINUS International Jakarta, menegaskan bahwa kecanduan gawai membawa dampak negatif yang nyata secara fisik, psikologis, sosial, hingga akademik atau pekerjaan.
“Kalau dilihat dari sisi fisik, penggunaan gadget berlebihan bisa membuat mata lelah, sakit kepala, kurang tidur, postur tubuh memburuk, dan badan kurang bergerak," tutur pria yang akrab disapa Fijar itu kepada Xinhua di Jakarta pada Jumat (5/6).
Sementara itu, dari sisi psikologis, seseorang bisa menjadi lebih mudah cemas, sulit fokus, cepat bosan, mudah marah, atau merasa tidak tenang kalau tidak memegang ponsel, imbuhnya.
"Dari sisi sosial, hubungan dengan keluarga atau teman bisa merenggang. Fenomena ini sering memicu masalah di mana orang hadir secara fisik, tetapi pikirannya ada di layar gawai," ungkap Fijar.
Dia juga menyebutkan bahwa dampak ketergantungan gawai pada anak dan remaja juga bisa terlihat pada menurunnya konsentrasi belajar, kurangnya kemampuan mengelola emosi, dan berkurangnya kebiasaan berinteraksi secara langsung.
Ketika seseorang berhasil menerapkan batasan digital, perubahan positif akan langsung terasa. Ria merasakan sendiri bagaimana detoks digital membantunya sampai bisa mengontrol fokusnya kembali.
Manfaat terbesar yang dia rasakan adalah kemampuan untuk bisa lebih fokus dengan ‘kenyataan’, mulai dari membangun kedekatan emosional dengan orang-orang di sekitar, menyelesaikan tugas-tugas nyata yang sempat tertunda, hingga kembali terkoneksi dengan diri sendiri.
Melepaskan kelekatan berlebih dengan dunia digital terbukti mampu menyehatkan kembali kondisi mental dan mengembalikan ketajaman fokus yang sempat hilang.
Jalan di tempat
Sayangnya, pemahaman akan manfaat ini belum mampu membuat tren detoks digital melesat di Indonesia. Gerakan ini cenderung jalan di tempat karena besarnya tantangan internal maupun eksternal yang dihadapi para pelakunya.
Fijar mengamati bahwa banyak orang langsung mengalami kegagalan karena menetapkan target yang terlalu ekstrem di awal, seperti ingin langsung berhenti total padahal sebelumnya mereka adalah pengguna berat.
"Perubahan yang terlalu drastis ini justru membuat mental seseorang cepat menyerah. Jadi, lebih baik kurangin hal yang effort-nya besar, mulailah dari hal yang paling kecil. Perubahan kecil tapi konsisten itu lebih baik," ujarnya.
Lebih lanjut Fijar menyebutkan, kesalahan taktis lainnya adalah ketiadaan aktivitas pengganti. Ketika waktu menatap layar dikurangi tanpa diisi oleh kegiatan lain yang menarik, rasa bosan yang menyergap akan secara otomatis menyeret seseorang kembali ke pola lama.
Selain faktor internal berupa rasa penasaran yang besar dan ketakutan akan tertinggal informasi atau FOMO (fear of missing out), faktor lingkungan sosiokultural di Indonesia juga memegang kendali besar.
Tuntutan dari teman, keluarga, hingga beban pekerjaan yang mengharuskan seseorang untuk selalu siaga dan online membuat upaya mengurangi gawai menjadi berkali-kali lipat lebih sulit. Terlebih lagi, gawai sering kali sudah terlanjur bertransformasi menjadi mekanisme pelarian emosional instan saat seseorang dilanda stres atau masalah.
"Untuk mengatasinya, coba cari coping mechanism yang jauh lebih sehat, seperti olahraga, beraktivitas, belajar mengelola stres, dan meregulasi emosi dengan baik," ungkap Fijar.
Pada akhirnya, tolok ukur keberhasilan detoks digital ini tidaklah kaku dan sangat bergantung pada tujuan personal masing-masing individu. Seperti yang ditekankan oleh Ria, jika tujuan awal kita adalah lepas dari kecanduan menggulir media sosial tanpa arah, maka keberhasilan itu tercapai ketika kita sudah mampu kembali bersosial media namun dengan kendali penuh untuk membatasi waktunya sendiri.
Detoks digital bukan tentang memusuhi kemajuan teknologi, melainkan sebuah upaya sadar untuk menempatkan kembali teknologi sebagai alat bantu kehidupan, bukan sebagai penguasa atas diri kita, ujar Ria.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Cuaca ekstrem landa dunia pada Januari, badan global WMO desak penguatan sistem peringatan dini
Indonesia
•
31 Jan 2026

Survei: 17.000 warga lansia Jepang yang hidup seorang diri meninggal di rumah pada Januari-Maret 2024
Indonesia
•
20 May 2024

Presiden Xi memotivasi generasi muda Hongaria belajar banyak tentang China
Indonesia
•
31 Jan 2023

Lumpia Semarang, lahir dari akulturasi hingga jadi ikon pariwisata
Indonesia
•
02 Sep 2025


Berita Terbaru

Brasil salah satu favorit juara Piala Dunia
Indonesia
•
10 Jun 2026

Piala Dunia 2026 diramaikan 7 pasang saudara kandung, sebagian bela negara berbeda
Indonesia
•
10 Jun 2026

Pertukaran lintas perbatasan dorong kemitraan baru antara Huangshan dan Yogyakarta
Indonesia
•
09 Jun 2026

‘Hard drive’ yang seharusnya dimusnahkan malah dijual, 510.000 data pasien terancam bocor
Indonesia
•
09 Jun 2026
