Feature – Mengapa orang Indonesia tetap demam Piala Dunia meski timnas tak bermain? Ini jawaban psikolog

Para pendukung tim Meksiko menyaksikan siaran langsung pertandingan Piala Dunia FIFA 2026 antara Meksiko melawan Korea Selatan di Mexico City, Meksiko, pada 18 Juni 2026. (Xinhua/Francisco Canedo)

Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Gelaran akbar Piala Dunia 2026 resmi bergulir di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Meski tim nasional Indonesia gagal melaju ke Piala Dunia dan tak pernah menjadi tuan rumah, gaung hajatan empat tahun sekali itu tetap terasa kuat di dalam negeri.

Xinhua berbincang dengan akademisi/peneliti sekaligus pakar psikologi sosial dan perilaku masyarakat dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Haidar Buldan Thontowi Ph.D., yang pernah menjabat direktur Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) UGM, guna mengulas beragam fenomena sosial yang kerap melanda masyarakat sebagai dampak euforia si kulit bundar.

Identitas sosial

Ketika ditanya mengapa banyak masyarakat Indonesia bersikap militan dalam membela tim negara lain meski tak memiliki pertalian dan hubungan darah secara langsung, Buldan memaparkan jawaban menarik yang terkait dengan identifikasi sosial.

"Tentu ada beberapa identitas sosial yang saling beririsan, misalnya karena sama-sama berasal dari Asia, maka tim Jepang dan Korea Selatan dinilai memiliki kesamaan identitas. Hal lainnya mungkin faktor kesamaan agama, sehingga negara yang mayoritas beragama Islam seperti Uzbekistan atau Turkiye juga sangat mungkin memunculkan kesamaan identitas bagi penonton Indonesia," ujar Buldan ketika berbincang dengan Xinhua pada Jumat (19/6).

Meski demikian, ungkap Buldan, tak tertutup kemungkinan adanya identifikasi lain yang bersifat lebih personal bagi seorang individu, seperti pemain idola, kekaguman fisik, prestasi, atau gaya permainan yang menjadi inspirasi. Hal ini menerangkan mengapa banyak penonton Indonesia juga mendukung tim dari Eropa seperti Jerman, Belanda, atau bahkan Inggris yang merupakan negeri asal sepak bola.

"Tim Belanda contohnya, secara historis dianggap dekat dengan Indonesia, karena saat ini banyak pemain naturalisasi dari negara tersebut yang bergabung dengan skuad Indonesia, sehingga membangkitkan identitas baru," terang Buldan yang saat ini mengepalai Unit Jaminan Mutu (UJM) di Fakultas Psikologi UGM.

Menurutnya, identifikasi tersebut tentu bukanlah hal yang negatif selama tidak membawa kerugian dan justru dapat dimanfaatkan untuk hal yang konstruktif.

"Contoh saja, dulu sangat jarang ada tim Asia yang mampu melenggang ke Piala Dunia, namun kini semakin banyak tim Asia yang masuk dan diperhitungkan, hal ini dapat dipetik sebagai bahan inspirasi dan motivasi pribadi bagi para suporter untuk turut berprestasi," ujarnya.

Kesehatan mental

Secara jam tayang, Piala Dunia merupakan hiburan berbentuk olahraga yang penyelenggaraannya berbeda zona waktu dengan Indonesia. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat yang ingin menikmati gelaran pertandingan. Lantas, bagaimana cara menyikapi hal tersebut dengan bijaksana?

Buldan membagikan tips agar Piala Dunia 2026 tetap dapat dinikmati masyarakat tanpa mengganggu kesehatan mental. "Paling penting untuk diperhatikan adalah jam tidur yang cukup, karena istirahat yang minim tak hanya berpengaruh bagi kesehatan fisik, namun juga kesehatan mental," ujarnya.

Oleh sebab itu, Buldan berpesan agar masyarakat dapat selektif dan bijaksana dalam memilih waktu menonton guna menjaga keseimbangan waktu tidur.

"Ketika Piala Dunia berlangsung, aktivitas masyarakat juga berlangsung seperti biasa setiap harinya, yaitu bekerja, sekolah, dan lain-lain. Memilih jam tayang idealnya dilakukan secara selektif pada pertandingan yang dirasa menarik saja sehingga tidak harus terjaga hingga larut malam setiap hari yang justru akan mengganggu produktivitas," ungkap Buldan.

Meski demikian, menurutnya, ada banyak faktor lain yang dapat dimanfaatkan dari gelaran Piala Dunia untuk digiring menuju hal positif.

"Acara nonton bareng bermanfaat untuk mempererat hubungan keluarga, pertemanan, bahkan membuat komunikasi di kantor lebih cair karena terjadi interaksi sosial dan ikatan emosional dalam situasi yang menyenangkan," ujar Buldan mencontohkan.

Hooliganisme

Dalam kasus yang lebih luas, fanatisme terhadap tim tertentu tak jarang berujung pada konflik, seperti ketika tim pujaannya kalah dan memicu kericuhan. Piala Dunia 2026 pun nyatanya tak lepas dari hal tercela tersebut.

Dilansir dari berbagai sumber, terjadi bentrokan antara suporter Argentina dan Aljazair di kawasan Times Square, New York City, pada Selasa malam waktu setempat atau Rabu (17/6) WIB. Insiden yang dipicu aksi provokasi itu berujung saling dorong dan pukul di tengah kerumunan penggemar.

Selain itu, di dalam stadion, keributan hebat pecah antara para pemain Kanada dan Qatar pada Kamis (18/6) waktu setempat atau Jumat (19/6) WIB setelah pertandingan usai. Rekaman video memperlihatkan bagaimana aksi saling dorong dan tarik-menarik terjadi di lingkaran tengah lapangan.

Menurut Buldan, dinamika tersebut dapat diterangkan melalui pendekatan keilmuan psikologi.

"Ada beberapa penelitian dalam literatur psikologi yang mengaitkan kepribadian dengan hooliganisme (hooliganism), atau yang dalam kasus ini disebut football hooliganism," ujar Buldan.

"Penelitian tersebut menunjukkan adanya psychopathic traits atau sifat-sifat tertentu dari orang yang cenderung terlibat dalam kekerasan ketika timnya kalah," ujar Buldan. Dua sifat turunan psychopathic traits tersebut di antaranya adalah callous unemotional dan impulsive irresponsibility.

Ciri dari sifat callous unemotional menerangkan mengapa seseorang dengan mudah akan melakukan kekerasan ketika timnya kalah. "Hal tersebut dikarenakan sang individu tidak menganggap tindak-tanduknya sebagai suatu kesalahan, yang diakibatkan kurangnya empati, ketidakpedulian, dan emosi dangkal," lanjutnya.

"Sementara sifat lainnya, impulsive irresponsibility, mencirikan kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan seperti memukul atau menghancurkan sesuatu tanpa terlebih dahulu memikirkan dampaknya."

Kedua ciri sifat tersebut seolah menjawab mengapa kekerasan kerap mewarnai gelaran Piala Dunia di dalam maupun di luar area pertandingan. "Ada pula teori yang mengaitkannya dengan criminal association, di mana peluang seseorang untuk ikut melakukan kekerasan atau kejahatan akan semakin besar ketika ia berada dalam kelompok yang terdiri dari banyak orang, tutur Buldan.

Bagaimana mencegahnya? Masih dari sudut keilmuan psikologi sosial, menurut Buldan aksi anarkis tersebut perlu diberikan sanksi tegas karena jika dibiarkan akan membuat si pelaku merasa menikmatinya. "Secara psikologis jika ada tindakan negatif yang tidak mendapat konsekuensi apa pun maka akan mendorong pelaku untuk melakukan hal itu kembali di masa depan, karena mendapat semacam reward dan pembenaran atas tindakan itu," ungkapnya.

Sementara itu, dari internal organisasi penyelenggara pertandingan, menurut Buldan sangatlah penting untuk memastikan kecurangan tidak terjadi guna menghindari rasa ketidakadilan yang bisa memicu kemarahan, sesuai teori massa.

Hal lain yang tak kalah penting menurutnya adalah edukasi terkait nilai sportivitas dan kompetisi. "Teori intergroup conflict menyatakan bahwa ketika kompetisi ditingkatkan maka permusuhan atau hostility yang memicu agresi juga akan meningkat," jelas Buldan. Oleh sebab itu, penting untuk mengingatkan bahwa olahraga tidaklah berkaitan dengan agresi, sehingga kekerasan bukanlah sesuatu yang dapat dibenarkan. "Kepada pemain, ofisial, dan suporter, harus terus ditanamkan bahwa mendukung tim tidak berarti diperbolehkan melakukan kekerasan kepada sang lawan," lanjutnya.

Era digital

Dibanding gelaran tahun-tahun sebelumnya, Piala Dunia 2026 dihelat pada era ketika teknologi informasi tengah merajai. Masyarakat pun semakin mudah untuk berbagi atau mengakses informasi real-time terkait Piala Dunia secara daring.

"Berkat jaringan kencang dan perangkat pintar, dunia mampu dengan cepat menyaksikan bagaimana slogan Fair Play dari Piala Dunia diwarnai kontroversi. Wasit asal Somalia ditolak masuk Amerika Serikat, demikian pula beberapa ofisial tim Iran yang mengalami pembatasan oleh tuan rumah," jelas Buldan.

Meski demikian, sejauh mana Piala Dunia 2026 akan mampu menyihir perhatian masyarakat Indonesia? Peraih gelar doktor dari St. Andrews University, Inggris, tersebut punya pendapat sendiri mengingat lanskap teknologi saat ini yang jauh berbeda dibandingkan masa lalu.

"Saat ini, fokus masyarakat mungkin tidak hanya pada Piala Dunia saja, berbeda dibandingkan dahulu ketika kita hanya bisa menyaksikannya di televisi. Meski platform online menjanjikan kecepatan dan keleluasaan informasi, namun hal ini juga menyuguhkan tantangan berupa derasnya beragam informasi melalui puluhan kanal berbeda. Euforia Piala Dunia akan bersaing dengan hal yang lebih relevan bagi kehidupan masyarakat sehari-hari, seperti kenaikan BBM, kasus korupsi, ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintah, dan lain-lain," ujarnya.

Menurutnya, dalam era digital entertainment saat ini, perhatian masyarakat pun berpotensi terbagi karena banyaknya opsi jenis hiburan yang bisa dikustomisasi dan dipilih masyarakat secara instan, seperti YouTube, Netflix, Disney, atau platform lainnya. "Sejauh mana Piala Dunia akan memuncaki trending nanti bisa kita cek saja datanya, seperti dari media sosial," kata Buldan.

Sumber inspirasi

Pada akhirnya, meski tanpa partisipasi tim Garuda, masyarakat Indonesia diharapkan dapat mengambil manfaat riil dari gelaran Piala Dunia 2026. Secara filosofis, capaian sang idola di Piala Dunia merupakan perwujudan dari siklus kompetensi yang dapat diterapkan untuk diri sendiri.

"Bukan soal menang atau kalah, kompetisi olahraga secara universal mengajarkan kita untuk meningkatkan diri, memperbaiki diri dan terus bersaing hingga level yang lebih tinggi lagi. Piala Dunia sendiri prosesnya panjang, ada seleksi regional, babak kualifikasi, hingga perjuangan di putaran final Piala Dunia. Pencapaian tim menjadi bukti kerja keras individu atau organisasi yang mewadahi atlet sepak bola tersebut. Kita mendapat inspirasi dari menonton Piala Dunia, selanjutnya mari mencontoh dan mengimplementasikannya pada diri sendiri," tutup Buldan.

Selesai

Penulis: Prabowo Destyan

 

Bagikan

Komentar

Berita Terkait