
Feature – Ingat mainan ‘Made in China’ zaman kecil? Kini ada robot AI, ‘blind box’ hingga ‘action figur’

Deretan model kit buatan Tianwei ACG Tech (Guangzhou) Limited Company dipamerkan dalam ajang Indonesia International Baby Products & Toys Expo (IBTE) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 22 Agustus 2026. (Xinhua/Hajar Wahyudi)
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Bagi banyak dari kita, tulisan ‘Made in China’ mungkin sudah akrab sejak masa kanak-kanak. Label itu tercetak di balik berbagai mainan yang dijajakan di toko, pasar, maupun lapak pedagang di sekitar sekolah, mulai dari mobil-mobilan, miniatur hewan, boneka, hingga robot-robotan plastik. Produk-produk tersebut umumnya hadir dengan bentuk sederhana dan harga terjangkau, sehingga lekat dengan keseharian anak-anak.
Pada awal 2000-an, kategori mainan beroda dan kereta dorong boneka menjadi salah satu kelompok yang menonjol dalam impor mainan Indonesia dari China, menurut kajian Universitas Indonesia berbasis data UN Comtrade dan BPS.
Seiring perkembangan industri mainan China, jenis produk yang masuk ke pasar Indonesia kini semakin beragam, mulai dari action figure, blind box, boneka plush, building blocks, robot, mainan edukatif hingga berbagai play set.
Perubahan itu terlihat dalam ajang Indonesia International Baby Products & Toys Expo (IBTE) 2026 yang digelar pada 19-22 Agustus di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran.
Menurut penyelenggara, lebih dari 1.000 peserta dari lebih dari 24 negara mengikuti pameran tersebut.
Di antara produk yang dipamerkan, mainan China hadir dalam berbagai konsep, mulai dari mainan edukatif dan interaktif hingga boneka berbasis kecerdasan buatan (AI), produk berlisensi karakter, building blocks, blind box, hingga barang koleksi.
Keragaman produk itu terlihat dari sejumlah peserta China di IBTE 2026. Dongguan BDS Technology Limited, misalnya, membawa produk robotika yang menggabungkan permainan dengan pendidikan sains.
Sementara itu, Guangdong No.1 Industrial Co., Ltd. menampilkan berbagai produk berbasis kekayaan intelektual (IP), termasuk ornamen boneka dan keychain pendant. Ada pula Guangdong Xinlexin Education and Culture Co., Ltd. yang membawa building blocks.
Di segmen mainan anak, Guang Dong Jollybaby Products Co., Ltd. menawarkan mainan edukatif dan produk berbasis IP, sementara Dongguan Jiandudu Jiandudu Trading Co., Ltd. memperkenalkan kategori AI Interactive Toys.
Produk-produk tersebut menunjukkan bahwa mainan China kini tidak hanya mengandalkan produksi massal, tetapi juga mengedepankan edukasi, IP, desain, teknologi dan pengalaman bermain.
Perubahan tersebut juga terlihat dari berkembangnya pasar kolektor dewasa. David, pembuat konten ulasan dan unboxing mainan melalui akun @koleksidavid, menilai perkembangan mainan China berlangsung sangat pesat.
"Sangat pesat. Dulu kalau membayangkan mainan China, pasti yang terbayang adalah sesuatu yang terlihat murah dan terasa 'plastik'. Tapi sekarang, mainan dari China makin bervariasi, mulai dari yang dibuat khusus untuk anak sampai mainan dengan detail luar biasa untuk para kolektor dewasa," kata David.
Menurutnya, produk yang menyasar kolektor juga menunjukkan peningkatan dari sisi material dan desain.
"Karena sudah menargetkan kolektor yang lebih serius terhadap koleksi mereka, material yang digunakan sudah semakin di-upgrade. Kombinasi bahan plastik, metal, dan bahkan rubber pada beberapa bagian membuat sebuah mainan jadi lebih poseable dan terlihat keren," ujarnya.
David mengatakan produk mainan China kini tersedia dalam berbagai segmen harga dan kualitas.
"Mainan China punya range variasi yang luas. Mainan yang murah ada, tapi ada juga mainan yang lebih tinggi kelasnya. Tapi, desainnya harus diakui selalu unik dan semuanya tetap terjaga kualitasnya," katanya.
Di salah satu stan, pasangan Rina dan Alex tertarik pada boneka berbulu lembut berbasis AI dari Jiandudu. Bagi keduanya, produk tersebut menghadirkan pengalaman yang berbeda dibandingkan mainan yang mereka kenal saat kecil.
"Dulu saya punya mainan boneka plastik," kata Rina. Alex memiliki kenangan berbeda. "Kalau saya dulu mobil-mobilan," ujarnya.
Menurut pasangan tersebut, perkembangan mainan buatan China kini terlihat dari semakin luasnya pilihan produk yang tersedia bagi konsumen. "Sekarang mainan China sangat beragam, mulai dari boneka keychain hingga boneka berbasis AI," kata Alex.
Perubahan itu turut dirasakan konsumen sekaligus importir mainan. Intan Andriana, pengunjung yang telah menghadiri IBTE selama tiga tahun berturut-turut menilai kualitas mainan China terus meningkat.
"Kalau saya lihat dari tahun sebelumnya, jujur semakin beragam sekali. Kualitasnya juga semakin baik dari banyak produk yang terlihat dan yang saya impor dari sana," ujarnya.
Menurutnya, harga yang terjangkau masih menjadi salah satu daya tarik utama produk mainan China, tetapi konsumen kini juga semakin mempertimbangkan aspek lain, terutama nilai edukasi dan keamanan.
"Di era sekarang, para mama lebih memilih mainan dari nilai edukasinya, lalu keamanan, dan harganya karena akan diberikan kepada anak," katanya.
Perubahan tersebut juga tercermin dalam hubungan perdagangan Indonesia dan China.
Pada 2025, nilai impor Indonesia dari China untuk kategori mainan, permainan dan perlengkapan olahraga mencapai sekitar 670 juta dolar AS, berdasarkan data UN Comtrade yang dikutip Trading Economics. Besarnya nilai tersebut menunjukkan kuatnya hubungan antara industri mainan China dan pasar Indonesia.
*1 dolar AS = 17.799 rupiah
Seiring pilihan produk yang semakin luas, mainan ‘Made in China’ di Indonesia kini tidak hanya menawarkan harga terjangkau, tetapi juga beragam desain, fungsi, dan teknologi.
Dari boneka plastik dan mobil-mobilan hingga mainan interaktif berbasis AI, perkembangan tersebut mencerminkan perubahan industri mainan China yang semakin beragam dan inovatif.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Presiden China dorong pekerja bidang geologi tingkatkan peran dalam eksplorasi mineral
Indonesia
•
05 Oct 2022

Sekjen ASEAN serukan negara-negara Asia manfaatkan penuh kemitraan untuk jajaki potensi kerja sama baru
Indonesia
•
31 Mar 2024

Tak lagi butuh manusia, perusahaan ‘software’ Australia WiseTech Global PHK 2.000 pekerja
Indonesia
•
25 Feb 2026

China tepis tudingan UE terkait ekspor kelebihan kapasitas kendaraan listrik
Indonesia
•
25 Nov 2023


Berita Terbaru

Perang dagang dengan Kanada makin sengit, Trump ubah nama Danau Ontario jadi ‘Danau Amerika’
Indonesia
•
28 Aug 2026

Gamescom 2026 pecahkan rekor, 1.600+ peserta dari 67 negara ramaikan pameran gim dunia
Indonesia
•
27 Aug 2026

Jawa Timur sumbang 9,1 persen penjualan nasional, merek mobil China berebut pasar Surabaya
Indonesia
•
27 Aug 2026

Feature – Dari kapal Cheng Ho ke jalan tol, bagaimana hubungan Indonesia-China terus berlanjut?
Indonesia
•
27 Aug 2026
