Feature – Di samping Masjid Nusantara Akihabara, ada toko kecil tempat melepas rindu warga Indonesia

Agus (55), pemilik toko suvenir yang berlokasi di samping Masjid Nusantara Akihabara, berpose untuk difoto di dalam tokonya di kawasan Akihabara di Tokyo, Jepang, pada 17 Juni 2026. (Xinhua/Indalia Jayadinata)

Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Di tengah keramaian Akihabara yang dipenuhi toko elektronik, anime, dan berbagai atraksi budaya populer Jepang, sebuah toko suvenir kecil milik diaspora Indonesia menawarkan suasana yang berbeda. Berlokasi tepat di samping Masjid Nusantara Akihabara, toko tersebut kerap menjadi tempat singgah wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Tokyo.

Sejumlah wisatawan Indonesia terlihat tengah berbincang dengan pemilik toko, Agus (55), seorang perantau asal Bandung. Percakapan mereka bukan hanya seputar oleh-oleh atau destinasi wisata, melainkan juga tentang kehidupan Agus sebagai warga Indonesia yang telah lama menetap di Jepang.

"Sudah sekitar 20-an tahun saya tinggal di Jepang," kata Agus. Meski telah menghabiskan separuh hidupnya di Negeri Sakura, Agus mengatakan dirinya tetap berstatus warga negara Indonesia. Dia tinggal di Jepang dengan izin tinggal resmi sembari mengelola usaha suvenir di kawasan wisata tersebut.

Di balik rak-rak yang dipenuhi gantungan kunci, magnet kulkas, miniatur kereta, dan berbagai cendera mata khas Jepang, Agus menyimpan kisah panjang sebagai perantau. Dirinya mengaku sudah sekitar tujuh tahun tidak pulang ke Indonesia.

"Sudah tujuh tahun saya belum pulang lagi. Kadang saudara saya yang datang ke Jepang," ujarnya. Kisah hidup Agus tampaknya menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Banyak wisatawan yang datang ke tokonya setelah menunaikan salat di Masjid Nusantara Akihabara, menghabiskan waktu untuk berbincang dan bertukar cerita.

"Banyak yang tanya gimana kehidupan di Jepang, biaya hidup, kerja di sini seperti apa, dan bagaimana rasanya tinggal jauh dari Indonesia," katanya. Keakraban tersebut membuat toko milik Agus memiliki fungsi yang melampaui tempat berjualan suvenir. Bagi sebagian wisatawan Indonesia, toko itu menjadi ruang pertemuan informal untuk berinteraksi dengan sesama warga negara Indonesia saat berada jauh dari Tanah Air.

Menurut Agus, gantungan kunci atau yang akrab disebut "ganci" kini menjadi salah satu produk yang paling banyak dicari wisatawan. Harganya yang relatif terjangkau dan ukurannya yang kecil membuat barang tersebut mudah dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

"Banyak turis cari barang yang sederhana tetapi tetap khas Jepang. Gantungan kunci biasanya paling cepat habis," ujarnya, sembari menunjukkan deretan suvenir di rak toko.

Agus menilai pola belanja wisatawan juga mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Banyak pengunjung kini lebih berhati-hati mengatur pengeluaran selama bepergian dan memilih membeli cendera mata sederhana dibandingkan barang bernilai tinggi.

"Kadang satu keluarga hanya membeli beberapa barang kecil, tetapi mereka tetap ingin membawa pulang kenangan dari Jepang," katanya.

Papan nama Masjid Nusantara Akihabara terlihat di samping toko suvenir milik diaspora Indonesia di kawasan Akihabara di Tokyo, Jepang, pada 17 Juni 2026. (Xinhua/Indalia Jayadinata)

Lokasi toko yang berdampingan dengan Masjid Nusantara Akihabara turut menjadikannya sebagai titik persinggahan alami bagi wisatawan Muslim dari Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Seusai beribadah, sebagian pengunjung memilih mampir untuk membeli oleh-oleh, sementara yang lain memanfaatkan kesempatan untuk berbincang dan bertukar pengalaman perjalanan.

Di tengah kawasan Akihabara yang identik dengan modernitas dan budaya pop Jepang, toko kecil milik Agus menghadirkan suasana yang terasa akrab bagi sebagian wisatawan Asia Tenggara. Seusai beribadah di masjid, pengunjung dapat beristirahat sejenak, berbincang dalam bahasa Indonesia, atau sekadar mendengar cerita tentang kehidupan seorang perantau yang telah menghabiskan lebih dari dua dekade hidupnya di Jepang.

Bagi Agus, toko itu bukan sekadar tempat mencari nafkah. Di sela lalu-lalang wisatawan dari berbagai negara, toko tersebut juga menjadi penghubung antara tanah air dan kehidupan yang telah dia bangun selama bertahun-tahun di Negeri Sakura.

Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana usaha kecil milik diaspora Indonesia turut menjadi bagian dari pengalaman wisata warga Indonesia di Jepang.

Di samping masjid yang menjadi tempat beribadah, toko sederhana itu berkembang menjadi ruang temu yang menghubungkan para pelancong dengan kisah kehidupan sesama anak bangsa di perantauan. 

Selesai

Penulis: Indalia Jayadinata

Bagikan

Komentar

Berita Terkait