
‘Engineer’ Rusia kembangkan ‘drone’ unik untuk bantu penyelam

Seorang petani mengoperasikan 'drone' untuk menyemprot pestisida di sebuah ladang di Desa Zhaozhuangzi, Kota Cangzhou, Provinsi Hebei, China utara, pada 14 Maret 2025. (Xinhua/Zhou Yang)
Drone permukaan otonomos unik buatan Rusia dirancang untuk meningkatkan keselamatan dan efisiensi operasi bawah air bagi penyelam.
St. Petersburg, Rusia (Xinhua/Indonesia Window) – Tim engineer Rusia mengembangkan drone permukaan otonomos unik yang dirancang untuk meningkatkan keselamatan dan efisiensi operasi bawah air bagi penyelam, lapor media lokal pada Rabu (3/12).Drone tersebut, yang digambarkan sebagai platform asisten permukaan yang mampu bergerak otomatis (self-propelled) bagi penyelam, memungkinkan pelacakan posisi penyelam secara kontinu dan menjaga komunikasi, lapor kantor berita TASS, mengutip layanan pers St. Petersburg State Marine Technical University (SPbSMTU).Drone ini merupakan robot permukaan otonomos berpendorong ganda (two-thruster) yang dilengkapi dengan modul navigasi elektronik, antena radio, sistem hidroakustik, sensor, pengendali, paket baterai, dan pencahayaan untuk operasi di atas maupun di bawah air, ungkap layanan pers tersebut.Inovasi utama proyek Rusia ini merupakan integrasi penemuan arah hidroakustik dengan robot permukaan otonomos, yang memungkinkannya bisa mendampingi penyelam tanpa ikatan fisik dan merelai data untuk kendaraan bawah air, kata Andrei Nazarov, kepala Sektor Penelitian Sistem Elektronik Kelautan SPbSMTU.Tidak seperti metode tradisional yang mengharuskan beberapa orang memantau penyelam menggunakan pelampung, tautan radio, dan pelacakan visual, perangkat baru ini beroperasi secara independen dan tanpa kabel yang dapat mengganggu tugas bawah air, kata universitas tersebut.Para engineer berhasil menguji purwarupa perangkat tersebut, yang dimaksudkan untuk dapat berfungsi sebagai penanda visual dan pusat komunikasi dalam kondisi yang sulit, kata layanan pers.SPbSMTU menyebutkan bahwa purwarupa tersebut menunjukkan kinerja yang stabil selama uji coba, mencapai titik-titik yang ditentukan GPS dan mendeteksi suar akustik bahkan dalam kondisi sulit, seperti suhu rendah dan es yang mengapung, serta menunjukkan kemampuan untuk bermanuver, mempertahankan posisi, menavigasi, dan melakukan pelacakan hidroakustik.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Peneliti China prediksi pemanasan global berpotensi tingkatkan fenomena cuaca ‘Mei-yu’
Indonesia
•
10 Oct 2023

Warga Australia diajak berburu kotak telur hiu untuk konservasi dan penelitian
Indonesia
•
24 Mar 2023

Australia mulai bangun teleskop radio paling kuat
Indonesia
•
05 Dec 2022

Kapal penelitian China rampungkan misi penelitian laut dalam di perairan dekat Oseania
Indonesia
•
14 Mar 2023


Berita Terbaru

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026

AI berisiko sebabkan ‘kemalasan intelektual’ siswa
Indonesia
•
11 Mar 2026

Pengelolaan ternak temporal solusi konflik manusia-satwa liar
Indonesia
•
12 Mar 2026
