
Tim ilmuwan China temukan markisa dapat bunuh telur lalat buah

Foto yang diabadikan pada 18 November 2021 ini menunjukkan Passiflora edulis (buah markisa) di Kebun Raya Tropis Hainan di Kota Danzhou, Provinsi Hainan, China selatan. (Xinhua/Pu Xiaoxu)
Buah markisa dapat direkomendasikan sebagai tanaman perangkap hama untuk ditanam di perbatasan kebun buah atau ladang melon guna mengendalikan lalat buah.
Beijing, China (Xinhua) – Tim ilmuwan China belum lama ini menemukan bahwa buah markisa dapat secara langsung membunuh telur lalat buah, sehingga memberikan metode baru untuk mengendalikan hama tersebut, demikian menurut laporan Science and Technology Daily yang diterbitkan pada Kamis (4/5).Lalat buah merupakan spesies hama utama yang menyebabkan penurunan hasil panen buah-buahan, sayuran, dan kacang-kacangan komersial. Berasal dari Amerika Selatan, buah bernama latin Passiflora edulis tersebut masuk ke China selatan pada 2012 untuk penanaman komersial skala besar.Para ilmuwan mengamati bahwa buah markisa menarik lalat buah induk untuk bertelur di dalamnya, tetapi sebagian besar telur tersebut tidak menetas.Menurut Wu Weijian, peneliti utama dari Universitas Pertanian China Selatan dalam studi ini, ketika seekor lalat buah menembus ke lapisan tengah dinding buah untuk bertelur, hal itu menyebabkan jaringan tanaman rusak dan melepaskan hidrogen sianida, yang membunuh sebagian besar telur.Dikatakan oleh Wu bahwa ini merupakan kali pertama dalam studi interaksi antara tanaman dan serangga herbivora para peneliti menemukan tanaman hidup yang dapat secara langsung membunuh telur hama.Buah markisa dapat direkomendasikan sebagai tanaman perangkap hama untuk ditanam di perbatasan kebun buah atau ladang melon guna mengendalikan lalat buah, kata Liao Yonglin, salah satu peneliti dari Akademi Ilmu Pertanian Guangdong.Meski perangkap ekologis biasanya dapat diimbangi dengan kemampuan belajar atau evolusi serangga herbivora, perangkap ekologis yang disediakan oleh buah markisa dapat bersifat permanen dalam kasus lalat buah, sebut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Pest Management Science itu.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

PLTN Xudapu di China mulai pembangunan unit daya baru
Indonesia
•
18 Jul 2024

Panjang Gua C7 dalam sistem gua vulkanik Krong No Vietnam bertambah jadi 1.240 meter
Indonesia
•
09 Dec 2022

Studi: Peningkatan suhu air hambat pertumbuhan karang di Great Barrier Reef
Indonesia
•
12 Jan 2023

El Nino makin menggila! Fluktuasi suhu Pasifik kini 36 persen lebih kuat
Indonesia
•
29 Aug 2026


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
