
China berhasil luncurkan teknologi keselamatan untuk pengangkutan baterai lithium melalui udara

Foto yang diabadikan pada 11 Juli 2025 ini menampilkan pemandangan landasan parkir di Bandar Udara Internasional Huahu Ezhou di Kota Ezhou, Provinsi Hubei, China tengah. (Xinhua/Xiao Yijiu)
Baterai power lithium dapat diangkut melalui udara dengan menerapkan sistem perlindungan cerdas yang memanfaatkan algoritma kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk memantau 12 indikator inti, seperti suhu dan emisi gas secara waktu nyata (real time).
Wuhan, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah penerbangan kargo yang mengangkut baterai power lithium, yang dilengkapi dengan sistem pengaman aktif yang baru dikembangkan, lepas landas dari sebuah bandara di China tengah pada Selasa (25/11), menandai terobosan dalam mengatasi hambatan global terkait pengangkutan yang aman via udara untuk produk energi berisiko.Penerbangan kargo SF Express bertolak dari Bandar Udara Internasional Huahu Ezhou, bandara pertama di China yang berfokus pada kargo, yang berlokasi di Provinsi Hubei. Penerbangan perdana ini bertepatan dengan peluncuran seminar tentang rantai pasokan logistik udara untuk baterai daya (power battery) di Ezhou pada hari yang sama, di mana para ahli industri dan perwakilan perusahaan mendiskusikan hambatan dan solusi pengembangan.Sebagai produsen baterai daya terbesar di dunia, China membukukan total output industri baterai lithiumnya melebihi 1,2 triliun yuan pada 2024. Data juga menunjukkan bahwa volume pengangkutan baterai lithium China via udara melonjak 21,26 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi 645.000 ton pada 2024.*1 yuan = 2.349 rupiahNamun, risiko kebakaran dan ledakan dari baterai lithium memaksa pihak regulator untuk mengklasifikasikan produk tersebut sebagai barang berisiko tinggi, sehingga membatasi efisiensi logistik.Untuk mengatasi kendala tersebut, proyek ini ditetapkan sebagai inisiatif penelitian dan pengembangan nasional utama untuk periode Rencana Lima Tahun ke-14 (2021-2025), dan dipimpin oleh Universitas Jiaotong Chongqing, dengan partisipasi dari raksasa baterai CATL dan Akademi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Penerbangan Sipil China (China Academy of Civil Aviation Science and Technology).Wu Jinzhong, pemimpin proyek sekaligus profesor di Universitas Jiaotong Chongqing, mengatakan timnya telah mengatasi tiga hambatan utama, yakni mekanisme yang tidak jelas dari peningkatan suhu baterai secara drastis (thermal runaway), kegagalan material dan struktural, serta kurangnya teknologi pengujian. Mereka melakukannya dengan membangun sistem perlindungan keselamatan rantai penuh (full-chain).Sistem perlindungan cerdas ini memanfaatkan algoritma kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk memantau 12 indikator inti, seperti suhu dan emisi gas secara waktu nyata (real time), untuk mencapai peringatan risiko tingkat milidetik dan secara otomatis memicu tindakan pengendalian darurat guna menghentikan thermal runaway di sumbernya, sehingga melampaui metode keamanan pasif tradisional.Uji terbang perdana yang sukses ini menunjukkan solusi yang layak untuk distribusi baterai daya secara cepat, menandai transisi teknologi dari laboratorium ke aplikasi industri.Wu mengatakan teknologi ini akan dipromosikan secara nasional untuk mendorong standardisasi rantai pasokan baterai daya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan China kembangkan platform penelitian untuk ‘matahari buatan’
Indonesia
•
15 Jan 2025

China rencanakan misi pertahanan untuk cegah ancaman asteroid dekat Bumi
Indonesia
•
01 May 2023

Tingkat polusi udara yang tidak sehat kembali hantui Bangkok
Indonesia
•
26 Oct 2023

Satelit astronomi Einstein Probe milik China singkap fakta baru alam semesta
Indonesia
•
03 Nov 2024


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
