Bagian roket Falcon 9 SpaceX akan hantam Bulan, NASA pastikan Bumi aman

Foto yang diabadikan pada 25 Februari 2023 ini menunjukkan roket Falcon 9 SpaceX dan pesawat luar angkasa Dragon di Kennedy Space Center NASA di Florida, Amerika Serikat. (Xinhua/NASA)

Los Angeles, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Bagian dari sebuah roket bekas milik SpaceX diperkirakan akan menabrak Bulan pada Rabu (5/8), tetapi tumbukan tersebut tidak membahayakan Bumi, demikian diungkapkan NASA pada Selasa (4/8).

Dalam sebuah rilis pers yang diunggah di laman situsnya, NASA mengatakan pihaknya sedang menggunakan teleskop-teleskop yang berbasis di Bumi dan aset-aset yang berbasis di ruang angkasa untuk melacak tahap atas (upper stage) roket Falcon 9 bekas dari sebuah misi komersial.

Bagian roket yang bobotnya sekitar 3.900 kilogram itu diperkirakan akan menghantam Bulan di dekat kawah Einstein dan Bell.

Para ilmuwan NASA berencana mengumpulkan data Bulan dari peristiwa tersebut dan menyempurnakan teknik untuk melacak objek di ruang angkasa.

Pada 15 Januari 2025, SpaceX meluncurkan roket Falcon 9 dan berhasil mengirim wahana pendarat (lander) Bulan Blue Ghost 1 milik Firefly Aerospace ke Bulan di bawah inisiatif Layanan Muatan Bulan Komersial (Commercial Lunar Payload Services) NASA.

Aktivitas matahari dan gaya gravitasi menyebabkan tahap atas roket itu kembali ke Bulan secara tidak terencana. NASA dan SpaceX tetap berkomunikasi mengenai tahap atas roket itu dan lintasan terbangnya, papar NASA.

"Karena tidak memiliki atmosfer untuk memperlambat benda-benda yang datang, Bulan dihantam meteoroid setiap harinya. Tumbukan objek buatan manusia jauh lebih jarang terjadi, meskipun tetap ada. Bagian roket Falcon 9 tersebut diperkirakan akan membentuk kawah dengan lebar sekitar 60 kaki (sekitar 18 meter) dan kedalaman 12 kaki (sekitar 3,6 meter) serta melontarkan debu dan batuan ke luar sebagai ejekta," kata NASA.

Sebagai perbandingan, sebuah meteoroid dengan energi yang sama dengan tahap atas roket Falcon 9 menghantam Bulan kira-kira setiap enam hari, sehingga permukaan Bulan terus-menerus menyerap tumbukan dengan kekuatan yang sama.

Terlepas dari gangguan tersebut, pengamatan terhadap tumbukan memberikan wawasan yang berharga bagi para ilmuwan dengan mengungkap perilaku kepulan ejekta, sehingga membantu memahami geologi Bulan dan menyempurnakan model yang menjadi panduan bagi misi eksplorasi dan ilmu pengetahuan di masa depan, urai NASA.

Tumbukan tersebut tidak akan terlihat dengan mata telanjang dari Bumi, tetapi NASA mengatakan akan berupaya mengamatinya secara real-time. Kantor Lingkungan Meteoroid di Pusat Penerbangan Antariksa Marshall milik NASA di Huntsville akan menggunakan teleskop yang berbasis di Bumi untuk memotret tumbukan tersebut.

Selain itu, NASA mengatakan bahwa Lunar Reconnaissance Orbiter miliknya dan instrumen ShadowCam yang berada di atas Korea Pathfinder Lunar Orbiter milik Korea Selatan akan mencari peluang untuk memotret lokasi sebelum dan sesudah tumbukan.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait