
AS klaim kesepakatan Selat Hormuz segera tercapai, Iran: Tak ada negosiasi dengan Washington

Orang-orang berjalan melewati papan reklame yang menampilkan sosok Qassem Soleimani, mantan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), di pusat kota Teheran, Iran, pada 6 Januari 2026. (Xinhua)
Washington/Teheran, Amerika Serikat/Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Peluang tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz tampak semakin besar, dengan para pejabat dari Washington, Teheran, dan mediator regional mengisyaratkan kemajuan dalam upaya diplomatik yang sedang berlangsung.
Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent pada Selasa (4/8) mengatakan kesepakatan dapat dicapai dalam beberapa hari. "Saya rasa ada kemungkinan kita dapat mencapai kesepakatan hari ini atau besok untuk membuka selat itu dan bergerak menuju posisi yang lebih normal dalam konflik ini," ujar Bessent kepada CNBC.
Setelahnya pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Fox News bahwa AS sedang "melakukan diskusi yang sangat baik" dengan Iran, sembari memperingatkan bahwa Teheran akan "mendapat pukulan yang sangat keras" jika selat itu tidak "segera" dibuka kembali.
Sehari sebelumnya, Trump mengatakan perundingan tersebut "sedang berlangsung saat ini" dan menyebutnya sebagai "kesempatan terakhir" Iran untuk menandatangani sebuah kesepakatan.
Namun, Teheran menolak narasi AS itu. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Iran Esmaeil Baghaei pada Senin (3/8) mengatakan bahwa tidak ada negosiasi dengan Washington yang sedang berlangsung maupun dijadwalkan, bersikeras bahwa satu-satunya perundingan yang sedang berlangsung adalah perundingan dengan Oman mengenai pengelolaan selat tersebut.
Pada Selasa, Baghaei menyebut diskusi itu "positif" baik pada tingkat teknis maupun politik, seraya menambahkan bahwa Iran sedang berupaya mengembangkan mekanisme dengan Oman untuk mengelola lalu lintas pelayaran di masa mendatang melalui jalur perairan strategis tersebut.
Dia mengatakan kepada stasiun televisi milik negara Iran, IRIB TV, bahwa setiap rute baru harus melindungi hak kedaulatan dan keamanan nasional Iran dan Oman. Skema akhir apa pun akan diumumkan setelah perundingan selesai, tambahnya.
Press TV yang dikelola negara Iran juga mengutip seorang pejabat senior Iran yang mengatakan bahwa setelah beroperasi, koridor baru itu akan menggantikan rute utara dan selatan yang ada saat ini.
Pejabat tersebut menggambarkan langkah itu sebagai tindakan defensif dan "sepenuhnya konsisten dengan hak setiap negara berdaulat untuk melindungi perairan teritorialnya dari ancaman eksternal."
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Selasa mengatakan bahwa AS terlibat dalam negosiasi antara Oman dan Iran yang bertujuan untuk meningkatkan lalu lintas melalui Selat Hormuz.
"Ada kemajuan dalam perundingan tersebut, tetapi belum final. Kami berharap hal itu akan terjadi dalam waktu dekat," ujarnya kepada para wartawan.
Qatar juga mengonfirmasi pada Selasa bahwa upaya mediasi antara AS dan Iran masih berlangsung, dengan draf naskah untuk kemungkinan kesepakatan terus dipertukarkan antara kedua belah pihak.
Majed Al Ansari, penasihat perdana menteri sekaligus juru bicara Kemenlu Qatar, mengatakan bahwa perundingan telah mencapai "tahap yang sangat progresif."
Pejabat itu mengatakan bahwa Qatar, Pakistan, dan Oman berkoordinasi erat untuk memfasilitasi kontak tidak langsung antara Washington dan Teheran.
Al Ansari mengatakan prioritas utama Qatar adalah "menghindari eskalasi, membuka kembali selat tersebut, dan membuka kembali pintu diplomasi antara kedua pihak."
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Partai PM Kamboja klaim kemenangan telak dalam pemilu
Indonesia
•
24 Jul 2023

Presiden Kuba tuding AS berupaya 'mengambil alih' negaranya lewat tekanan ekonomi
Indonesia
•
28 Jul 2026

China dan Rusia gelar putaran baru konsultasi keamanan strategis
Indonesia
•
20 Sep 2022

China tangkap 880 lebih buronan yang kabur ke luar negeri dalam operasi pemberantasan kejahatan ekonomi
Indonesia
•
20 May 2026


Berita Terbaru

Netanyahu bersikeras pertahankan pasukan di Gaza, tolak draf kesepakatan Trump
Indonesia
•
05 Aug 2026

Perang Iran kuras persenjataan AS, hampir 80 persen rudal pencegat THAAD telah digunakan
Indonesia
•
05 Aug 2026

Eksodus warga Israel berlanjut, hampir 270.000 kabur dalam tiga tahun, studi ungkap tren mengkhawatirkan
Indonesia
•
05 Aug 2026

Usai berkomitmen pada gencatan senjata, Israel tegaskan tak akan tarik pasukan dari Gaza
Indonesia
•
04 Aug 2026
