
Wawancara – Seniman Mesir sebut seni dekatkan peradaban Mesir dan China

Sejumlah wisatawan menunggang unta di kompleks Piramida Giza, Mesir, pada 9 April 2026. (Xinhua/Xin Mengchen)
Kairo, Mesir (Xinhua/Indonesia Window) – Mesir dan China sama-sama memiliki peradaban kuno, dan para seniman dari kedua negara harus memanfaatkan kekayaan warisan budaya mereka untuk meningkatkan rasa saling pengertian serta mempererat hubungan antarmasyarakat, demikian disampaikan oleh seorang seniman ternama asal Mesir.
"Seni merupakan jembatan penting yang menghubungkan peradaban Mesir dan China," tutur Ahmed Nawar, profesor di Fakultas Seni Rupa Universitas Helwan, dalam sesi wawancara baru-baru ini dengan Xinhua.
Nawar telah tiga kali mengunjungi China. Pada 2013, dia mengikuti tur seni ke China dalam program ‘Silk Road: Artists' Rendezvous’, sebuah pengalaman yang masih membekas dalam ingatannya.
"Dalam perjalanan itu, saya menghabiskan waktu sekitar tiga pekan untuk membuat sketsa dan mengumpulkan inspirasi artistik di Beijing, Shanghai, Xi'an, dan kota-kota lainnya," ujarnya.
Nawar sangat terkesan oleh kearifan artistik, kreativitas, dan keterampilan luar biasa yang dituangkan para perajin China kuno ke dalam karya-karya arsitektur.
"Pengalaman tersebut memberikan pengaruh yang sangat mendalam terhadap karya seni saya," kata Nawar.
Pengalaman Nawar di China menjadi sumber inspirasi penting dalam penciptaan karya seninya. Dengan menjadikan lanskap, arsitektur kuno, pasar tradisional, dan masyarakat biasa di China sebagai objek, Nawar menghasilkan lebih dari 30 sketsa yang kemudian dipamerkan di sejumlah galeri terkemuka di seluruh Mesir.
"Saya berinteraksi dengan masyarakat China di tempat-tempat wisata, pasar, serta di jalan dan gang, sambil mengamati kehidupan sehari-hari mereka. Setiap tempat menghadirkan kesan keindahan dan inspirasi artistik yang unik bagi saya. Ketika berjalan melewati pasar tradisional di Xi'an, saya tidak bisa tidak teringat pada suasana yang familier di pasar Khan el-Khalili di kawasan kota tua Kairo," kata Nawar.
Bagi Nawar, karya-karya tersebut layaknya "harta karun."
"Setiap kali melihatnya sekarang, saya teringat kembali tempat-tempat di mana saya membuat karya tersebut, orang-orang yang saya temui, dan emosi yang saya rasakan pada saat itu. Kenangan-kenangan tersebut masih begitu jelas," ujar seniman Mesir itu.
Nawar mengatakan dirinya pernah menggelar pameran tunggal di Pulau Zamalek, Kairo, yang menarik banyak pelajar, pencinta seni, dan kolektor lokal. Sebuah seminar tentang budaya dan seni China juga digelar dalam pameran tersebut.
"Orang-orang tidak hanya tertarik untuk mengapresiasi karya seni itu sendiri, tetapi juga ingin memahami China yang ada di balik karya-karya tersebut. Pertukaran seni dapat memicu ketertarikan, memperdalam pemahaman, dan mendekatkan berbagai peradaban," ujarnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Nawar terus mengikuti perkembangan China di berbagai bidang, termasuk sains dan teknologi, arsitektur dan teknik, serta memasukkan contoh-contoh terkait ke dalam pengajarannya di kelas.
"Jika saya tidak melihat sendiri pencapaian pembangunan China, keindahan alamnya, serta kekayaan warisan sejarah dan budayanya, saya tidak akan dapat membawa pengalaman-pengalaman tersebut ke dalam pengajaran saya dan berbagi dengan para mahasiswa Mesir mengenai nilai seni tradisional China dan praktik-praktik inovatif dalam seni kontemporer," tuturnya.
Menurut Nawar, pertukaran dan kerja sama yang tulus di antara para seniman merupakan kekuatan penting untuk semakin mendekatkan masyarakat Mesir dan China serta semakin memperdalam pertukaran budaya antara kedua negara.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Universitas Tadulako Palu terima hibah 4.000 buku dari penerbit China
Indonesia
•
06 Apr 2026

Ilmuwan peringatkan kaitan ‘long COVID’ dengan bunuh diri
Indonesia
•
09 Sep 2022

Lebih 500 juta orang di dunia terjebak kemiskinan ekstrem karena biaya kesehatan
Indonesia
•
14 Dec 2021

PBB gelontorkan 25 juta dolar AS untuk tanggulangi banjir di Somalia
Indonesia
•
10 Nov 2023


Berita Terbaru

Feature – Rumah prefabrikasi bantu korban gempa Xizang di China punya hunian nyaman dalam 3 hari
Indonesia
•
27 Oct 2026

Untuk pertama kalinya, demensia jadi penyebab lebih dari 10 persen kematian di Australia
Indonesia
•
27 Oct 2026

Kampung Silat Betawi Rawa Belong diresmikan sebagai Kampung Budaya 2026
Indonesia
•
25 Oct 2026

7 orang hilang usai gedung bertingkat runtuh di Kenya, pencarian berlanjut
Indonesia
•
25 Oct 2026
