Trump berkali-kali ancam Iran agar buka kembali Selat Hormuz, Iran cuek

Foto yang diabadikan pada 3 April 2026 ini memperlihatkan jembatan B1 yang rusak akibat serangan Amerika Serikat-Israel di Karaj, Iran. Jembatan B1, yang terletak di Karaj, ibu kota Provinsi Alborz, merupakan salah satu jembatan tertinggi di Timur Tengah dan termasuk proyek paling rumit di Iran. (Xinhua)

Trump mengancam akan menghancurkan semua pembangkit listrik Iran jika para pemimpin negara itu tidak setuju untuk membuka kembali selat tersebut pada Selasa malam waktu setempat.

 

Washington, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Dalam sebuah unggahan di media sosial pada Ahad (5/4), Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menulis "Selasa (7/4), pukul 20.00 Eastern Time!", sebuah pesan yang tampaknya mengisyaratkan kemungkinan perpanjangan tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Pada 21 Maret, Trump mengancam akan "menyerang dan menghancurkan" pembangkit listrik Iran jika negara itu gagal membuka Selat Hormuz sepenuhnya dalam waktu 48 jam. Namun, dua hari kemudian, dia menunda serangan terhadap pembangkit listrik selama lima hari, seraya mengeklaim telah melakukan "pembicaraan produktif" dengan Teheran.

Pada 26 Maret, Trump kembali mengundur tenggat waktu, dengan mengatakan akan menunda serangan yang direncanakan terhadap fasilitas-fasilitas energi Iran selama 10 hari, hingga Senin, 6 April, pukul 20.00 Eastern Time. Pada Sabtu (4/4), Trump menegaskan kembali bahwa Iran memiliki waktu 48 jam untuk mencapai kesepakatan tentang pembukaan selat atau menghadapi "Malapetaka."

Namun, dalam unggahan pada Ahad, Trump tampaknya mengisyaratkan akan memperpanjang tenggat waktu dan memberikan jangka waktu tambahan bagi Iran untuk membuka kembali selat tersebut.

Dalam unggahan sebelumnya pada Ahad, presiden AS itu mengancam bahwa Selasa akan menjadi "Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan, semuanya digabung menjadi satu" bagi Iran. Di unggahan tersebut, Trump juga sekali lagi mendesak Iran agar membuka Selat Hormuz.

Dalam sebuah wawancara dengan The Wall Street Journal pada Ahad, Trump mengancam akan menghancurkan semua pembangkit listrik Iran jika para pemimpin negara itu tidak setuju untuk membuka kembali selat tersebut pada Selasa malam waktu setempat.

"Jika mereka tidak melakukannya, jika mereka ingin tetap menutupnya, mereka akan kehilangan semua pembangkit listrik dan semua pembangkit lain yang mereka miliki di seluruh negara itu," kata Trump.

Dalam wawancara via telepon dengan Fox, Trump mengatakan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Iran dapat tercapai pada Senin.

Namun demikian, optimisme Trump tampaknya tidak mendapat tanggapan serupa oleh pihak Iran. Iran telah menolak proposal AS untuk gencatan senjata 48 jam, yang baru-baru ini dikirim melalui salah satu "negara sahabatnya," demikian dilaporkan kantor berita semiresmi Iran, Fars, pada Jumat (3/4) dengan mengutip sebuah sumber. 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait