
“Robot pembunuh” bukan lagi fiksi, Guterres desak dunia kelola risiko AI

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres berbicara kepada awak media menjelang pekan tingkat tinggi Majelis Umum PBB tahun ini di markas besar PBB di New York City pada 16 September 2026. (Xinhua/Foto PBB/Mark Garten)
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres pada Selasa (22/9) menyerukan langkah-langkah untuk mengelola risiko kecerdasan buatan (AI), termasuk pembentukan Kerangka Kerja Manajemen Risiko AI multilateral.
"Selama berabad-abad, kekuatan berasal dari wilayah. Kemudian industri. Lalu keuangan. Kini, kekuatan semakin bersumber dari data, kapasitas komputasi, dan algoritma. Kekuatan baru ini sangat terkonsentrasi. Perkembangannya sangat cepat, serta melaju mendahului kemampuan kita untuk memahami seluruh dampaknya," ujar Guterres dalam pidato pembukaan Debat Umum Sidang Majelis Umum PBB ke-81.
Bahayanya bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan teknologi tanpa akuntabilitas, kemampuan tanpa pengawasan, serta pengambilan keputusan tanpa transparansi. Bahaya tersebut tidak dapat diremehkan. Para pengembang yang membangun sistem-sistem inilah yang kini justru membunyikan alarm, ujar Guterres.
Tugas utama pemerintah adalah melindungi rakyatnya. Pemerintah harus memikul tanggung jawabnya. Dan pemerintah dengan kemampuan AI terbesar memiliki tanggung jawab terbesar terhadap umat manusia, untuk membangun saluran bagi dialog, transparansi, kepercayaan, dan kerja sama, ujarnya.
Pada momen krusial selama Perang Dingin, para rival strategis menyadari perlunya mengelola risiko eksistensial bersama. Mereka membangun mekanisme untuk mengurangi kesalahpahaman, mengelola eskalasi, dan mencegah bencana. Kala itu, fokusnya adalah persenjataan nuklir. Kini, AI menuntut kejelasan tujuan dan urgensi serupa, ungkap sekjen PBB itu.
"Negara-negara yang memimpin revolusi teknologi ini harus berbagi informasi mengenai risiko keselamatan yang muncul, bekerja sama dalam pengujian dan evaluasi, serta mengupayakan langkah pengamanan bersama untuk melindungi kita semua," ujar Guterres. "Namun, karena hal ini berdampak pada kita semua, koordinasi global sangatlah penting. Dan hanya ada satu tempat di mana setiap negara memiliki suara dalam menentukan masa depan kita bersama, dan tempat itu adalah PBB."
Melalui Global Digital Compact, negara-negara anggota PBB untuk pertama kalinya menyepakati prinsip-prinsip universal bagi tata kelola AI. Lewat Dialog Tata Kelola AI Global (Global Dialogue on AI Governance), sebuah platform dibentuk agar pemerintah, ilmuwan, pemimpin industri, dan masyarakat sipil dapat bekerja sama.
Selain itu, melalui Panel Ilmiah Internasional Independen tentang AI, PBB telah menghimpun keahlian global untuk memastikan kebijakan dipandu oleh bukti, ujarnya.
Melanjutkan upaya-upaya tersebut, negara-negara anggota PBB harus mengambil langkah selanjutnya; pertama, mendorong terciptanya kondisi bagi pengaturan laju pengembangan AI secara bertanggung jawab serta langkah-langkah pengamanan tambahan yang diperlukan untuk mengatasi berbagai risiko; dan kedua, mengupayakan pembentukan Kerangka Kerja Manajemen Risiko AI multilateral yang didukung oleh pengawasan yang kredibel dan independen, ujar Guterres.
AI harus dibentuk oleh umat manusia, bersama umat manusia, dan demi kepentingan seluruh umat manusia. Anak-anak tidak boleh dijadikan objek uji coba bagi sistem yang berjalan tanpa aturan. Keputusan hidup-mati tidak boleh diserahkan kepada mesin. Robot-robot pembunuh tidak boleh memiliki tempat dalam masa depan kita, imbuh Guterres.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Ahli geologi temukan ‘awan gua’ langka di Guangxi, China selatan
Indonesia
•
05 Oct 2022

Tim ilmuwan di Australia ciptakan plastik alami untuk penggunaan sehari-hari
Indonesia
•
03 Oct 2025

COVID-19 – Permen karet anti-virus corona Rusia bisa masuk sirkulasi sipil
Indonesia
•
26 Jun 2021

Pemerintah uji jalan kendaraan B40 awal Februari 2022
Indonesia
•
17 Jan 2022


Berita Terbaru

Moksibusi dan herbal jadi fokus riset China-Indonesia untuk hati berlemak dan osteoartritis
Indonesia
•
23 Sep 2026

China budidayakan 20 varietas tanaman di luar angkasa, kini bersiap bikin ‘kebun’ di Bulan
Indonesia
•
21 Sep 2026

Dengan sensor hingga Cloud, China ubah cara membangun terowongan lebih cerdas
Indonesia
•
22 Sep 2026

Merek otomotif pertama Arab Saudi perkenalkan EV pertamanya
Indonesia
•
22 Sep 2026
