
Peneliti Australia jelajahi Antarktika untuk pahami perubahan iklim

Antarktika. (ArtHouse Studio on Pexels)
Perjalanan ke tepi Antarktika oleh tim peneliti Australia dengan RV Investigator bertujuan mempelajari arus laut hingga enam kilometer di bawah permukaan dan awan dataran rendah.
Jakarta (Indonesia Window) – Sejumlah ilmuwan pemerintah Australia telah memulai perjalanan penelitian selama 60 hari ke Samudra Selatan dalam upaya untuk meningkatkan pemahaman tentang dampak perubahan iklim.Tim tersebut, dipimpin oleh badan sains nasional, Organisasi Penelitian Ilmiah dan Industri Persemakmuran (Commonwealth Scientific and Industrial Research/CSIRO) dan Kemitraan Program Antartika Australia (Australian Antarctic Program Partnership/AAPP) yang didanai pemerintah, berangkat pada Jumat (5/1) dengan menaiki kapal penelitian (RV) Investigator milik CSIRO.Para ilmuwan akan melakukan perjalanan ke tepi Antarktika dalam perjalanan terpanjang dalam 10 tahun sejarah RV Investigator guna mempelajari arus laut hingga enam kilometer di bawah permukaan dan awan dataran rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tanda-tanda bagaimana hubungan antara fisika, biogeokimia, plankton, aerosol dan awan mempengaruhi iklim bumi.Steve Rintoul, salah satu kepala ilmuwan dalam perjalanan dari CSIRO dan AAPP, mengatakan dalam rilis media bahwa laut bertindak sebagai rem tangan terhadap perubahan iklim dengan menyerap sejumlah besar panas dan perubahan iklim.“Untuk mengantisipasi perubahan iklim dan permukaan laut di masa depan, kita perlu memahami cara kerja Samudra Selatan dan seberapa sensitifnya terhadap perubahan,” ujarnya.“Hal yang menakjubkan tentang Samudera Selatan adalah segala sesuatunya saling berhubungan. Kita tidak dapat memahami bagaimana wilayah ini memengaruhi iklim kecuali kita mengukur masing-masing bagian dan bagaimana kesesuaiannya dengan bagian lain dari sistem,” terangnya.Para peneliti Investigator akan berlayar 2.300 km ke selatan menuju tepi Antarktika sebelum kembali ke Fremantle, Australia Barat, pada awal Maret mendatang dalam perjalanan pulang pergi sejauh 9.260 km.Sumber: CGTNLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Terapi hormon dapat pengaruhi risiko kanker payudara pada wanita berusia di bawah 55 tahun
Indonesia
•
02 Jul 2025

Studi sebut tingkat serapan karbon cemara China capai puncaknya di usia pertengahan
Indonesia
•
26 Oct 2023

Awak Artemis II lampaui rekor jarak Apollo 13
Indonesia
•
07 Apr 2026

Roket komersial China CERES-1 Y8 luncurkan satu satelit baru
Indonesia
•
27 Aug 2023


Berita Terbaru

Makin suka dengan merek ‘fast food’, makin banyak gula dan lemak yang dikonsumsi? Ini kata studi
Indonesia
•
14 Sep 2026

Museum pterosaurus pertama di dunia dibuka di China, pamerkan fosil berusia 130 juta tahun
Indonesia
•
14 Sep 2026

Jantung ternyata punya ‘kalender’ sendiri, 70 persen orang ikuti ritme hingga berbulan-bulan
Indonesia
•
15 Sep 2026

MatBrain, AI China yang bisa berpikir hingga jalankan eksperimen untuk temukan material baru
Indonesia
•
14 Sep 2026
