
Berbagai penyakit terus menyebar dan sangat berdampak pada anak-anak di Gaza

Penduduk Gaza memiliki akses yang sangat terbatas untuk mendapatkan layanan dasar, harus mengungsi berulang kali, dan saat ini sedang menderita akibat blokade pasokan makanan.
Jenewa, Swiss (Xinhua/Indonesia Window) – Direktur Jenderal (Dirjen) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Kamis (7/8) mengatakan bahwa keputusasaan telah memicu kerapuhan hukum dan ketertiban di Gaza. Dia juga menyerukan pembukaan koridor kemanusiaan untuk mengevakuasi warga yang membutuhkan perawatan medis darurat di luar Gaza."Orang-orang tidak hanya sekarat akibat kelaparan dan penyakit, tetapi juga putus asa untuk mencari makanan," ujar dirjen WHO itu dalam sebuah taklimat pers di Jenewa, Swiss. Dia memaparkan bahwa sejak 27 Mei, lebih dari 1.600 orang tewas dan hampir 12.000 lainnya terluka saat berupaya mencari makanan dari lokasi-lokasi distribusi makanan.Tedros menyebutkan bahwa penduduk Gaza memiliki akses yang sangat terbatas untuk mendapatkan layanan dasar, harus mengungsi berulang kali, dan saat ini sedang menderita akibat blokade pasokan makanan."Malnutrisi merajalela dan angka kematian akibat kelaparan terus meningkat," kata Tedros, seraya menambahkan bahwa pada Juli, hampir 12.000 anak di bawah usia lima tahun (balita) teridentifikasi menderita malnutrisi akut. Angka tersebut menjadi angka bulanan tertinggi sepanjang sejarah.Di bawah kondisi yang penuh sesak serta memburuknya layanan air, sanitasi, dan kebersihan, berbagai penyakit terus menyebar dan sangat berdampak pada anak-anak usia dini, sebut Tedros.Pada 29 Juli, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Program Pangan Dunia (WFP), dan Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) mengeluarkan pernyataan bersama yang memperingatkan bahwa Jalur Gaza sedang berada di ambang bencana kelaparan skala penuh seiring dengan memburuknya indikator-indikator utama pangan dan gizi.Tedros mengatakan bahwa sejak pecahnya konflik pada Oktober 2023, WHO telah membantu proses evakuasi 7.522 pasien dari Gaza. Kendati demikian, lebih dari 14.800 pasien di Gaza masih membutuhkan perawatan medis khusus yang sangat mendesak. Sang dirjen mendesak lebih banyak negara untuk bersedia menerima pasien dan mempercepat proses evakuasi medis melalui segala cara yang memungkinkan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Pendakwah ‘Kak Erlan’ ajak ratusan anak Bogor belajar mengenal Allah ﷻ
Indonesia
•
13 Dec 2025

Harapan untuk selamat kian tipis bagi 9 penambang batu bara yang terjebak di India timur laut
Indonesia
•
09 Jan 2025

PBB: Upaya pengiriman bantuan di Gaza utara yang terkepung dihambat selama lebih dari 40 hari
Indonesia
•
20 Nov 2024

Tiga ilmuwan berbagi Penghargaan Nobel 2022 di bidang Kimia
Indonesia
•
06 Oct 2022


Berita Terbaru

UNESCO tambah 25 Warisan Dunia baru, tiga situs terdampak konflik ditetapkan lewat prosedur darurat
Indonesia
•
29 Jul 2026

Stok darah O di AS tinggal kurang dari sehari, Palang Merah umumkan krisis nasional
Indonesia
•
29 Jul 2026

Kali pertama dalam 42 tahun, populasi warga negara Jepang turun di bawah 120 juta
Indonesia
•
29 Jul 2026

Feature – Dari Sungai Cisadane, tradisi perahu naga terus mengayuh lintas generasi
Indonesia
•
27 Jul 2026
