
Berantas buta aksara Al-Qur’an di Bogor, program Kariima dapat apresiasi Kemenag dan Kemendikbud

Peluncuran program pemberantasan buta aksara Al-Qur’an yang dijalankan oleh Kariima, divisi pendidikan Al Ghozy Muslimah Center, di SD Negeri Sindangbarang 4 Kota Bogor, Jawa Barat. (Al-Ghozy Muslimah Center)
Pemberantasan buta aksara Al-Qur’an yang dijalankan oleh Kariima, divisi pendidikan Al Ghozy Muslimah Center, di SD Negeri Sindangbarang 4 Kota Bogor mendapat apresiasi dari Kementerian Agama (Kemenag) dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek).
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window/Indonesia Window) — Program pemberantasan buta aksara Al-Qur’an yang dijalankan oleh Kariima, divisi pendidikan Al Ghozy Muslimah Center, di SD Negeri Sindangbarang 4 Kota Bogor mendapat apresiasi dari Kementerian Agama (Kemenag) dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek).Apresiasi tersebut disampaikan dalam acara sosialisasi program Kariima tersebut di SD Sindangbarang pada Jumat (28/11).Kolaborasi antara Kariima dan sekolah dasar tersebut diinisiasi oleh Kepala SDN Sindangbarang 4 Kota Bogor, Rostini, yang menyampaikan rasa syukur atas pelaksanaan program tersebut.“Kehadiran Kariima untuk mengajarkan baca Al-Qur'an sesuai tajwid sangat tepat. Ini adalah jawaban dari doa yang saya panjatkan,” ujarnya.Sebagai bentuk dukungan dalam program tersebut, Kariima juga menyerahkan 174 eksemplar buku Panduan Praktik Belajar Membaca Al-Qur’an dari Al Ghozy Muslimah Center. Penyerahan dilakukan oleh Ketua Kariima, Sri Nurchayati, bersama Penanggung Jawab Program Kariima Remaja, Yanin Dahlan.Dukungan pemerintah mengalir setelah pemaparan data literasi Al-Qur’an di Kota Bogor. Pengawas Pendidikan Agama Islam (PAI) Kemenag Kota Bogor, Edih Hambali, mengungkapkan bahwa dari enam sekolah sampel, kemampuan membaca Al-Qur’an guru PAI menunjukkan 50 persen berada dalam kategori ‘kurang’. Sementara di dari 20 siswa sampel, hanya lima atau 25 persen yang mampu membaca Al-Qur’an dengan baik. Temuan ini, menurutnya, sejalan dengan laporan Lembaga Survei Indonesia.Edih menilai program Kariima sangat relevan dan layak dijadikan proyek percontohan bagi sekolah lain.Hal senada disampaikan Pengawas Kemendikbud Wilayah Bogor, Asep Saepul Padil, yang berharap program serupa dapat diperluas ke lebih banyak sekolah di Kota Bogor.Pendiri Al Ghozy Muslimah Center, Ririe Rizal, menjelaskan bahwa Kariima bergerak dengan konsep “menjemput bola”, dengan hadir langsung ke masjid, sekolah, dan pelosok daerah.“Dalam waktu kurang dari tiga bulan, peserta Kariima telah mencapai lebih dari 500 orang,” ujarnya.Melalui program Kuliah Pengajar Qur’an+ (KPQ+), Al Ghozy Muslimah Center mencetak para pengajar Al-Qur’an.Ketua Kariima, Sri Nurchayati, menegaskan komitmen Al Ghozy Muslimah Center untuk terus menghadirkan program-program penguatan literasi Al-Qur’an yang berkualitas, kolaboratif, dan berdampak luas.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Kebun Raya Bogor berperan dalam konservasi kawasan Malesia
Indonesia
•
18 Feb 2020

Puluhan migran dari Tunisia berdatangan di Pantai Italia
Indonesia
•
20 Oct 2021

Jumlah warga Palestina yang tewas di Gaza bertambah jadi 40.265 orang
Indonesia
•
23 Aug 2024

Jumlah warga Palestina yang tewas di Gaza tembus 33.000 orang
Indonesia
•
05 Apr 2024


Berita Terbaru

Surat dari Timur Tengah: Tanah Air dirampas, Tatreez menjaga ingatan Palestina tetap hidup
Indonesia
•
08 Sep 2026

2.500 lebih personel penyelamat dikerahkan ke pelabuhan Gyirong yang dilanda tanah longsor di Xizang China
Indonesia
•
07 Sep 2026

China perkuat respons bencana Nepal dengan data satelit dan bantuan kemanusiaan
Indonesia
•
06 Sep 2026

Dari pertukaran berita hingga jurnalis, Forum Shenzhen dorong kolaborasi media
Indonesia
•
06 Sep 2026
