
Opini: Dunia perlu kepemimpinan transformasional

Karebet Widjajakusuma saat menyampaikan pemaparan tentang kepemimpinan transformasional pada acara Maulid Leadership Forum 14444 Hijriah. (Indonesia Window)
Karakter Rasulullah ﷺ
Pemimpin harus mampu menumbuhkan gagasan baru, memberikan solusi yang kreatif terhadap persoalan yang dihadapi bawahan, dan memberikan motivasi kepada bawahan/pengikut untuk mencari pendekatan-pendekatan baru dalam menjalankan tugas-tugas organisasi (problem solving).Pemimpin juga harus mau mendengarkan masukan-masukan dari bawahan dengan penuh perhatian, dan secara khusus memperhatikan kebutuhan bawahan soal pengembangan karier, reputasi, catatan prestasi, assessment (penilaian), sehingga semua mendapat pembelajaran yang luar biasa, terang Karebet.“Empat karakter tersebut ada pada Rasulullah ﷺ. Allah ﷻ menegaskan, Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Terjemahan QS al-Ahzab: 21),” tuturnya, seraya menegaskan, sejak 14 abad yang lalu, Umat Muslim masih meneladani beliau karena ada teladan yang baik.Dia pun mengutip Jules Masserman, seorang peneliti independen sekaligus seorang professor di Universitas Chicago Amerika Serikat, yang meletakan tiga syarat untuk menentukan pemimpin terbaik, yaitu pada diri pemimpin harus ada proses kepemimpinan yang baik, menaungi kesatuan masyarakat yang terdiri dari keyakinan yang berbeda-beda, serta mampu mewujudkan sebuah sistem masyarakat yang dapat hidup di dalamnya dengan aman dan tenteram.Secara jujur Masserman berkesimpulan, “Pemimpin teragung sepanjang sejarah adalah Muhammad yang telah memenuhi tiga syarat tersebut”. (Majalah Time, Who Were History’s Great Leaders, edisi 1 Juli 1974)“Muncul pertanyaan, mengapa terjadi kerusakan. Apakah hari ini dunia menggunakan worldview kapitalisme – sekulersisme yaitu paham yang menghapuskan atau menyingkirkan agama, jawabannya adalah iya,” kata Karebet.Karebet mengutip Walt Whitman Rostow dengan paradigmanya, “Agama mesti dihapus karena ia penghalang bagi pembangunan. Dengan asas manfaat, paradigma ini menghalalkan segala cara. Mereka yang tidak setuju dengan paradigma ini tidak bisa ikut ‘maju’, tersingkir, depresi lalu berubah menjadi residu pembagunan.”“Kalau kapitalisme dan sekulerisme diterapkan muncullah residu pembangunan. Kapitalisme memunculkan sebuah sistem yang mendukung munculnya residu tersebut, bukan makin ringan tapi makin banyak,” ungkapnya.“Dalam bahasa akademik, kepemimpinan transformasional dengan way of life Islam adalah yang hari ini dunia perlu lakukan. Transformasi itu hijrah. Hijrah dari peradaban, bukan sekadar orangnya, tapi peradabannya, dari peradaban yang maksiat ke peradaban yang membawa keselamatan dunia dan akhirat,” tutur Karebet.Karebet Widjajakusuma adalah pendididik dan motivator Muslim, praktisi pendidikan, konsultan riset dan pelatihan.Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Wapres Gibran dan Wapres China Han Zheng sepakat tingkatkan kerja sama ekonomi dan SDM
Indonesia
•
23 Oct 2024

Indonesia yakinkan Jepang tentang kebijakan pajak terbuka dan transparan
Indonesia
•
20 Jan 2021

BRIN soroti tantangan dan cara pandang baru Asia Tenggara di era antroposen
Indonesia
•
16 Jan 2026

Perusahaan Adaro raih penghargaan keenam untuk pengelolaan lingkungan dari KLHK
Indonesia
•
23 Dec 2023


Berita Terbaru

Para pemimpin ASEAN prioritaskan keamanan dan ketahanan energi serta pangan di KTT Ke-48
Indonesia
•
11 May 2026

Kemiskinan ekstrem di China lenyap, jadi model pengentasan di Indonesia
Indonesia
•
10 May 2026

Analisis – Stabilitas Selat Malaka jadi sorotan di tengah ketegangan lintasan ‘chokepoint’ global
Indonesia
•
10 May 2026

Presiden dorong ekonomi biru, Kampung Nelayan Merah Putih jadi model kemandirian pesisir
Indonesia
•
10 May 2026
