Netanyahu desak penyelidikan terhadap ‘whistleblower’ dalam film dokumenter NAZA

Warga Palestina menghadiri pemakaman massal bagi 112 korban di Gaza City pada 4 Agustus 2026. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Yerusalem (Al-Quds), Wilayah Palestina yang diduduki (Xinhua/Indonesia Window) – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Ahad (11/10) mendesak dilakukannya penyelidikan kriminal untuk mengidentifikasi dan menuntut para pelapor pelanggaran (whistleblower) dari kalangan militer yang tampil dalam "NAZA", sebuah film dokumenter yang mengulas pembunuhan warga sipil Palestina dalam serangan Israel di Gaza.

Film tersebut menampilkan wawancara anonim dengan 24 tentara Israel dan personel intelijen militer, termasuk anggota kelompok elite Unit 8200.

Dalam sebuah surat yang ditujukan kepada kepala militer, kepala badan keamanan dalam negeri Shin Bet, dan jaksa agung, yang salinannya dilihat oleh Xinhua, Netanyahu menuduh bahwa para partisipan dalam film tersebut telah membocorkan informasi yang sangat rahasia.

"Anda diharuskan untuk segera bertindak guna menemukan identitas semua orang yang terlibat dalam film yang memfitnah tersebut dan mereka yang tampil di dalamnya," tulis Netanyahu.

Dia menyerukan penyelidikan kriminal terhadap dugaan "pelanggaran informasi keamanan, pencemaran nama baik secara kriminal, dan tindakan merugikan terhadap kepentingan negara dan keamanan," serta agar mereka yang terlibat dituntut.

Film dokumenter berdurasi 80 menit itu, yang diproduksi oleh The Guardian dan disutradarai oleh Yuval Abraham dan Rachel Szor, memenangkan Penghargaan Juri Khusus Festival Film Venesia.

‘NAZA’, istilah singkat yang digunakan militer Israel untuk menyebut ‘kerusakan kolateral’, mengulas bagaimana target dipilih dan disetujui di Gaza, termasuk melalui sistem yang dibantu kecerdasan buatan (AI), serta bagaimana perkiraan jumlah korban sipil secara rutin dihitung sebelum serangan.

Sebuah komisi penyelidikan PBB pada 2025 menyimpulkan bahwa Israel telah melakukan genosida di Gaza, sebuah temuan yang ditegaskan kembali tahun ini. Israel menolak tuduhan tersebut.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait