
Meski Selat Hormuz dibuka, harga minyak diprediksi tak langsung turun, ini penyebabnya!

Foto yang diabadikan menggunakan ponsel ini menunjukkan sejumlah kapal dagang yang tertahan di perairan Selat Hormuz, dekat Khasab, sebuah kota kecil di Oman utara, pada 29 Mei 2026. (Xinhua/Wen Xinnian)
Dubai, Uni Emirat Arab (Xinhua/Indonesia Window) – Harga minyak mungkin membutuhkan waktu antara empat hingga delapan pekan untuk stabil, bahkan jika Selat Hormuz dibuka kembali pada pekan ini. Hal itu karena antrean kapal tanker yang menumpuk, tingginya biaya asuransi, rendahnya tingkat persediaan, dan risiko geopolitik yang masih berlanjut menjaga premi risiko di pasar energi tetap ada, demikian laporan Gulf News yang berbasis di Uni Emirat Arab (UEA) pada Rabu (17/6), mengutip para analis.
Surat kabar tersebut menyatakan harga minyak mentah Brent telah turun dari level tertinggi selama masa perang yang mendekati 120 dolar AS per barel menjadi sekitar 80 dolar AS, seiring para pelaku pasar memperhitungkan ekspektasi kesepakatan Amerika Serikat-Iran serta pembukaan kembali rute pelayaran utama tersebut.
*1 dolar AS = 17.719 rupiah
Namun, para analis menilai bahwa meskipun pasar berjangka telah bereaksi dengan cepat, pasar minyak fisik akan membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk kembali normal.
Selat Hormuz menangani sekitar 20 persen perdagangan minyak serta gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) global, menurut laporan tersebut.
Para analis mengatakan pasar akan membutuhkan bukti bahwa kapal-kapal tanker dapat berlayar dengan aman dan konsisten sebelum menghapus sisa premi geopolitik dari harga minyak.
Laporan itu menuturkan bahwa krisis tersebut telah menyoroti ketergantungan dunia yang berkelanjutan terhadap aliran energi melalui Selat Hormuz dan mungkin akan mempercepat upaya negara-negara Teluk untuk mengembangkan jaringan pipa dan rute ekspor alternatif guna memperkuat keamanan energi serta mengurangi kerentanan terhadap gangguan di masa mendatang.
Amerika Serikat (AS), Pakistan, dan Iran pada Senin (15/6) dini hari waktu setempat mengumumkan finalisasi nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) perdamaian untuk mengakhiri perang setelah melakukan negosiasi selama beberapa pekan. Menurut rencana, MoU tersebut akan ditandatangani secara resmi di Swiss pada Jumat (19/6).
Presiden AS Donald Trump pada Selasa (16/6) mengatakan bahwa AS akan memastikan Selat Hormuz dibuka sepenuhnya per Jumat.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

PM Malaysia serukan persatuan ASEAN untuk hadapi perdagangan yang dijadikan senjata
Indonesia
•
11 Jul 2025

Harga minyak Indonesia capai 81,80 dolar AS/barel pada Oktober 2021 menyusul krisis energi Eropa dan Asia
Indonesia
•
13 Nov 2021

Minyak melonjak karena pasokan ketat melebihi kekhawatiran resesi
Indonesia
•
08 Jul 2022

Fokus Berita – Tingkat pengangguran di AS naik, perkuat alasan untuk pangkas suku bunga
Indonesia
•
05 Aug 2024


Berita Terbaru

Fokus Berita – Dari Piraeus hingga Jakarta-Bandung, kisah visi Xi Jinping tentang pembangunan bersama
Indonesia
•
11 Aug 2026

Turkiye makin diminati wisatawan China, 245.000 berkunjung dalam enam bulan
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari lengan robot hingga AI, begini teknologi China yang mulai membidik Indonesia
Indonesia
•
10 Aug 2026

Jepang dihantam gelombang kebangkrutan, 1.028 perusahaan gulung tikar dalam sebulan
Indonesia
•
10 Aug 2026
