MER-C puji Australia yang tarik pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel

Rumah Sakit Indonesia di Kota Gaza, Palestina. (MER-C)

Pemerintah Australia di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Anthony Albanese, melalui Menteri Luar Negerinya, menarik pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan secara tegas telah menyatakan tidak akan memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Yerusalem.

 

Jakarta (Indonesia Window) – Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), dr. Sarbini Abdul Murad, memuji keputusan pemerintah Australia saat ini yang membatalkan pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel yang dikeluarkan pemerintah sebelumnya.

Pemerintah Australia di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Anthony Albanese, melalui Menteri Luar Negerinya, juga secara tegas telah menyatakan tidak akan memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Sarbini mengatakan sangat mengapresiasi keputusan Australia yang proporsional dalam menyikapi konflik Palestina – Israel. Da memandang langkah tersebut sebagai hal yang positif untuk mendorong proses perdamaian kedua belah pihak.

Selanjutnya, Sarbini berharap langkah yang diambil Australia bisa menjadi contoh bagi Amerika Serikat dan negara-negara lain di dunia yang sudah mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, bahkan memindahkan kedutaan besar mereka dari Tel Aviv ke Yerusalem. Hal ini, menurut Sarbini, justru merusak upaya damai kedua negara.

Sarbini juga meminta Inggris bisa belajar dari Australia, dengan berpikir ulang dan membatalkan keputusannya yang malah akan memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Yerusalem.

“Janganlah negara-negara yang besar dan bermartabat malah mengeluarkan kebijakan yang akan mengganggu proses pembicaraan damai antara dua negara. Biarlah Yerusalem menjadi kota internasional dan Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina, seperti yang sudah disepakati masyarakat internasional,” ujar Ketua Presidium MER-C.

Dokter yang berpengalaman di berbagai wilayah perang dan konflik ini juga menyerukan dan mengingatkan negara-negara di dunia yang cinta perdamaian, agar menjunjung hak asasi manusia dan menentang penjajahan untuk membuktikan kekonsistenan mereka dalam mendukung upaya perdamaian Palestina – Israel.

Sarbini juga terus mendorong kesepakatan solusi yang adil serta terhormat bagi konflik kedua negara tersebut.

Safari kemanusiaan

MER-C tengah melakukan safari kemanusiaan untuk menolak kedatangan tim nasional sepak bola Israel ke Indonesia dalam ajang Piala Dunia U-20 yang akan diselenggarakan pada 2023, di mana Indonesia akan menjadi tuan rumah perhelatan olah raga tersebut.

“Pada 29 Juni 2022, MER-C bersama lembaga peduli Palestina di antaranya AWG (Aqsha Working Group), BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia) dan KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam), menyampaikan pernyataan bersama meminta pemerintah Indonesia harus tegas menolak Tim U-20 Israel,” ujarnya.

Sarbini menyatakan, MER-C memang memberikan perhatian khusus terhadap kedatangan Timnas Israel, karena memandang lolosnya Timnas Israel akan menjadi ujian berat bangsa Indonesia untuk membuktikan kekonsistenannya dalam membela Palestina dan menolak segala bentuk penjajahan seperti yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945.

Upaya penolakan ini akan terus dilakukan tidak hanya karena daftar panjang pelanggaran HAM namun juga penjajahan yang masih dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina yang bertentangan dengan konstitusi negara Indonesia dan hukum Internasional.

“Apabila tim sepak bola Israel hadir dan berlaga di Indonesia, maka ini akan menjadi sebuah pengakuan secara tidak langsung atas eksistensi Israel dan bentuk dukungan atas penjajahan yang dilakukan Israel kepada bangsa Palestina,” pungkasnya.

Laporan: Redaksi

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan