Medan dan Bandung masuk daftar kota dengan penurunan muka tanah parah di dunia

Foto tak bertanggal ini menunjukkan masyarakat bergotong royong membersihkan saluran air di Kota Bandung, Jawa Barat. (Pemerintah Kota Bandung)

Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Penurunan muka tanah perkotaan global sangat bervariasi, tetapi secara umum telah melambat dalam beberapa tahun terakhir, menurut sebuah penelitian oleh tim peneliti China yang diterbitkan pada 12 Oktober dalam jurnal Nature Cities.

Para peneliti dari Universitas Peking, Universitas Normal China Selatan, dan lembaga lainnya, secara sistematis menilai penurunan muka tanah antara 2014 dan 2023 di 465 kota di seluruh dunia, masing-masing memiliki populasi lebih dari 1 juta jiwa.

Penurunan muka tanah merupakan masalah global yang menimbulkan tantangan besar bagi keselamatan infrastruktur perkotaan dan pembangunan berkelanjutan.

Menurut penelitian tersebut, penurunan muka tanah paling parah terjadi di Asia Tenggara, Asia Barat-Tengah, dan Amerika Utara, dengan kota-kota yang menjadi contoh termasuk Mexico City dan Toluca di Meksiko, serta Medan dan Bandung di Indonesia. Mexico City mencatat penurunan muka tanah lokal yang paling intens, dengan laju melebihi 0,2 meter per tahun.

Meskipun penurunan muka tanah masih meluas, penurunan muka tanah perkotaan global secara umum telah melambat dalam beberapa tahun terakhir. Tim peneliti mendeteksi perlambatan yang signifikan di banyak kota di Asia Tenggara dan Asia Timur.

Hal ini menunjukkan bahwa alokasi sumber daya air dan langkah-langkah pengelolaan air tanah di kedua kawasan tersebut efektif, menurut Hu Xie, salah seorang peneliti dalam tim tersebut di Universitas Peking.

"Khususnya di aglomerasi perkotaan Beijing-Tianjin-Hebei di China, proyek pengalihan air skala besar seperti Proyek Pengalihan Air Selatan ke Utara dan pengelolaan air tanah yang lebih kuat telah membantu mengisi kembali air tanah di beberapa daerah, yang secara signifikan mengurangi penurunan muka tanah," ujar Hu.

Tim tersebut juga membangun sebuah platform terbuka untuk penurunan muka tanah perkotaan global, menawarkan kumpulan data dalam format visual yang dapat dicari kepada masyarakat.

Seiring dengan akumulasi mahadata (big data) geologi dan air tanah serta kemajuan kecerdasan buatan (AI) dan model kompleks, analisis penyebab penurunan muka tanah dan penilaian risiko akan memiliki landasan data dan metodologi yang lebih kuat, ungkap Tao Shengli, seorang peneliti di Universitas Peking.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait