
Feature – ‘Livestreaming’ ciptakan peluang karier baru bagi penyandang disabilitas di Chongqing, China

Tiga livestreamer penyandang disabilitas menjual produk-produk khas setempat secara daring di pusat inkubasi livestreaming bagi warga penyandang disabilitas di Distrik Yuzhong, Chongqing, China barat daya, pada 20 November 2023. (Xinhua/Liu Fei)
Livestreaming e-commerce penyandang disabilitas berkembang pesat di Distrik Yuzhong, Chongqing, China barat daya, membantu memperkaya kehidupan masyarakat setempat.
Chongqing, China (Xinhua) – Zou Bin (42), seorang livestreamer yang memiliki sekitar 150.000 pengikut, berhasil memenangkan hati para penggemarnya dengan parasnya yang tampan dan suara yang sedap didengar sejak 2017. Namun, sangat sedikit orang yang mengetahui bahwa Zou mengalami kebutaan di mata kanannya.Zou mengatakan dirinya tidak pernah ingin memanfaatkan disabilitasnya untuk menarik perhatian orang-orang secara daring. Karena itu, ketika pusat inkubasi siaran langsung daring (livestreaming) bagi warga penyandang disabilitas yang berada di Distrik Yuzhong, Chongqing, China barat daya, menghubunginya tahun lalu, Zou menolak tawaran mereka.Pusat tersebut terus mengajak Zou untuk bergabung, jadi tahun ini, dirinya setuju untuk berkunjung ke sana. Zou terkejut mengetahui betapa profesionalnya mereka. "Saya sendiri adalah seorang livestreamer, sehingga ketika saya melihat peralatan yang mereka miliki, saya tahu mereka serius dalam bidang ini," kata Zou. Berbeda dengan livestreaming yang dilakukan Zou sebelumnya, yang berfokus di dunia hiburan, pusat itu menawarkan dukungan untuk livestreaming e-commerce. Pusat tersebut dibangun tahun lalu dengan menggandeng Federasi Penyandang Disabilitas Distrik Yuzhong dan resmi dibuka pada Februari tahun ini."Di satu sisi, kami menyediakan pelatihan livestreaming e-commerce bagi warga penyandang disabilitas di Chongqing dan bermaksud memberdayakan mereka agar dapat menghasilkan uang dari livestreaming. Kami juga menghubungkan mereka dengan para pemasok guna menjamin kualitas barang yang mereka jual," kata Yuan Hongda, pemimpin di pusat tersebut.Yuan menambahkan bahwa, di sisi lain, pusat tersebut juga memiliki akun-akun sendiri, yang dikelola oleh empat livestreamer, yang hingga saat ini telah menjual produk-produk khas dari Chongqing senilai 150.000 yuan atau sekitar 21.000 dolar AS.Setelah beberapa bulan menjalani pelatihan, pusat itu merekomendasikan Zou untuk mengikuti kompetisi livestreaming e-commerce nasional bagi warga penyandang disabilitas. "Saya belajar banyak dari berbagai peristiwa. Saya juga mengamati banyak perubahan yang terjadi pada rekan-rekan saya. Beberapa di antara mereka awalnya tidak memiliki pengalaman, tetapi kini dapat memperoleh manfaat nyata melalui livestreaming e-commerce," kata Zou.Zou sendiri pun merasakan perubahan pada dirinya, dan pusat tersebut menginspirasinya untuk mengubah jalur kariernya.Selain mencari cara praktis untuk memperluas pilihan karier bagi warga penyandang disabilitas, inisiatif tersebut juga berupaya memberdayakan masyarakat.Bagi Weng Ning (40), seorang pianis penyandang tunanetra, motivasi awalnya bukanlah finansial, melainkan kehidupan sosial. Weng melihat pusat tersebut sebagai tempat yang dapat membantunya berinteraksi dengan banyak orang. Kehilangan penglihatannya ketika berusia 27 tahun, Weng mengalami kesulitan mencerna musibah yang melandanya secara tiba-tiba itu. Namun, piano menginspirasinya dalam mengumpulkan keberanian untuk bangkit kembali. Kini, sebagai seorang pianis, Weng mendapatkan respek dan penghasilan untuk dirinya sendiri.Ketika pusat tersebut menawarkan untuk mendukungnya menjadi seorang livestreamer, Weng tertarik dengan bagaimana kehadirannya secara daring dapat berdampak pada masyarakat yang menonton. "Saya berharap orang-orang bisa lebih berani menjalani kehidupan setelah melihat pengalaman saya," ujar Weng. "Juga bagi saya, saya merasa sangat senang melihat teman-teman penyandang disabilitas yang bekerja keras, berbakat, dan rajin lainnya di sini. Saya mendapatkan lebih banyak kekuatan dari mereka.""Kami telah melatih lebih dari 300 orang tahun ini. Kami mengadakan pelatihan setiap bulan dan menawarkan peralatan serta layanan konsultasi secara gratis. Hingga saat ini, terdapat lebih dari 1.800 sesi livestreaming yang diadakan di pusat tersebut, termasuk akun kami dan akun para peserta pelatihan," papar Yuan.Yuan menuturkan bahwa hanya dalam waktu satu tahun, sistem mereka menjadi lebih lengkap dan ilmiah. Mereka pun memberikan dukungan untuk delapan livestreamer terampil, yang tidak hanya mengincar target penjualan sebesar 500.000 yuan, tetapi juga memiliki tujuan untuk memperkaya kehidupan warga penyandang disabilitas lainnya.*1 yuan = 2.170 rupiah**1 dolar AS = 15.527 rupiahLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

AS sulit capai target iklim karena persaingan partisan
Indonesia
•
11 Feb 2023

Krisis kemanusiaan di Tanduk Afrika kian meluas dan mendalam
Indonesia
•
26 Jan 2023

Populasi kaum muda Italia menurun, jumlah lansia bertambah
Indonesia
•
17 May 2024

Oseanarium terbesar di Malaysia hadirkan pertunjukan bertema musim dingin
Indonesia
•
01 Dec 2022


Berita Terbaru

Queensland di Australia akan larang anak di bawah 16 tahun kendarai perangkat ‘e-mobility’
Indonesia
•
25 Mar 2026

Badan Pengawas Obat AS tarik hampir 90.000 botol ibuprofen anak secara nasional
Indonesia
•
21 Mar 2026

Angka kematian anak balita turun lebih dari setengahnya sejak tahun 2000
Indonesia
•
19 Mar 2026

Idul Fitri 1447H – Warga Afghanistan bersiap sambut Idul Fitri di tengah sanksi dan kemiskinan
Indonesia
•
19 Mar 2026
