
Korban gempa NTT bertambah jadi 103 orang, lebih dari 1.600 warga terluka

Tenaga medis di KRI dr. Soeharso-990 memberikan pelayanan kesehatan bagi warga terdampak gempa NTT M7.7 di Pelabuhan Reo, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (22/8/2026). (Bidang Komunikasi Kebencanaan/Muhammad Arfari Dwiatmojdo)
Jakarta (Indonesia Window) – Korban meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bertambah.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga Selasa, 25 Agustus 2026, jumlah korban jiwa mencapai 103 orang.
Angka tersebut bertambah tiga orang dibandingkan data sehari sebelumnya yang mencatat 100 korban meninggal dunia.
“Ada ketambahan tiga jiwa meninggal menjadi 103 untuk hari ini catatan kami,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam konferensi pers penanganan gempa NTT, Selasa.
Berdasarkan pemutakhiran BNPB, korban meninggal tersebar di tujuh kabupaten. Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah korban terbanyak, yakni 41 orang, disusul Manggarai Timur 34 orang dan Nagekeo 13 orang.
Korban lainnya tercatat di Sikka sebanyak 6 orang, Ngada 5 orang, Ende 3 orang, dan Manggarai Barat 1 orang.
BNPB menyampaikan bahwa proses pendataan korban masih terus dilakukan seiring masuknya laporan tambahan dari wilayah-wilayah terdampak.
Selain korban meninggal dunia, jumlah warga yang mengalami luka-luka juga meningkat.
BNPB mencatat 1.666 orang mengalami luka, bertambah dari 1.603 orang yang tercatat pada Senin (24/8).
Manggarai Timur menjadi salah satu wilayah dengan jumlah korban luka yang signifikan. BNPB mencatat 239 orang mengalami luka berat dan 404 orang luka ringan di kabupaten tersebut.
Pemutakhiran data korban, menurut BNPB, terus dilakukan untuk memastikan jumlah dan kondisi korban di seluruh wilayah terdampak.
Dari karakteristik korban meninggal dunia, BNPB mencatat 55 persen merupakan perempuan, sementara 45 persen lainnya laki-laki.
Berdasarkan kelompok usia, korban meninggal didominasi lanjut usia (lansia) sebanyak 45 persen. Sebanyak 37 persen merupakan kelompok dewasa, 12 persen anak-anak dan remaja, sedangkan sisanya merupakan balita dan batita.
Gempa bumi berkekuatan M 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 05.58 WITA. Pusat gempa berada di wilayah Kabupaten Nagekeo.
Gempa tersebut kemudian diikuti ribuan gempa susulan. Dalam pemutakhiran BNPB sebelumnya, lebih dari 5.000 gempa susulan telah tercatat hingga 21 Agustus, dengan gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,2.
Penanganan darurat masih berlangsung di sejumlah wilayah terdampak. Pemerintah juga terus menyalurkan bantuan logistik dan memperkuat layanan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak gempa.
Hingga 21 Agustus, BNPB mencatat bantuan pangan dan nonpangan yang telah disalurkan mencapai 778 ton.
Proses pendataan kerusakan dan kebutuhan warga juga dilakukan secara paralel dengan penanganan darurat untuk memastikan bantuan dan dukungan pemulihan dapat diberikan secara tepat sasaran.
BNPB mengingatkan bahwa data korban dan kerusakan masih dapat berubah seiring proses verifikasi dan validasi di lapangan.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Arab Saudi tak izinkan jamaah umroh Indonesia masuk kerajaan
Indonesia
•
01 Aug 2021

KTT ASEAN 2023: IMT-GT perkuat konektivitas, pariwisata di tiga negara
Indonesia
•
12 May 2023

Pemerintah targetkan pertumbuhan ekonomi 5,3 persen pada 2023
Indonesia
•
16 Aug 2022

Menag RI bertemu Menteri Haji dan Umroh Saudi, pastikan layanan haji terbaik untuk jamaah Indonesia
Indonesia
•
30 Apr 2024


Berita Terbaru

Presiden pastikan karhutla Riau dituntaskan, 15.000 hektare berhasil ditangani
Indonesia
•
25 Aug 2026

Ini enam nilai Qur'ani untuk pedoman penggunaan AI
Indonesia
•
25 Aug 2026

Gus Latif: Halaqoh pendidikan tinggi di Muktamar NU siap digelar
Indonesia
•
24 Aug 2026

Indonesia-China siapkan rencana aksi 2027-2031, kerja sama energi hingga AI jadi prioritas
Indonesia
•
23 Aug 2026
