Fokus Berita – Iran lihat ‘peluang baru’ dalam negosiasi nuklir, tetapi latihan di Selat Hormuz tekankan kompleksitas

Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menghadiri sebuah konferensi pers bersama di Teheran, Iran, pada 18 Januari 2026. (Xinhua/Shadati)
Kairo, Mesir (Xinhua/Indonesia Window) – Iran pada Selasa (17/2) mengisyaratkan optimisme yang penuh kehati-hatian setelah perundingan nuklir tak langsung putaran kedua dengan Amerika Serikat (AS), seraya menggambarkan negosiasi tersebut sebagai pembuka "jendela peluang baru", sementara Washington mengatakan Teheran belum mengakui "garis merah" Presiden Donald Trump.
Usai perundingan yang dimediasi Oman di Kedutaan Besar Oman di Jenewa, Swiss, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengatakan diskusi itu lebih "konstruktif" dibandingkan putaran pertama yang digelar di Muscat. Saat berbicara dengan stasiun televisi milik pemerintah Iran, IRIB, Araghchi mengatakan kedua belah pihak telah mencapai kesepakatan umum mengenai seperangkat prinsip panduan dan akan mulai menyusun draf perjanjian yang potensial.
Tanggal untuk putaran ketiga akan ditetapkan setelah teks draf siap dan dipertukarkan, lanjut Araghchi, seraya menambahkan bahwa mempersempit kesenjangan antara kedua belah pihak "akan memakan waktu."
Saat menyampaikan pidato dalam sebuah konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang pelucutan senjata di Jenewa, Araghchi menyampaikan nada yang lebih penuh harapan. Dia mengatakan bahwa "jendela peluang baru" terbuka untuk solusi yang berkelanjutan dan dapat dinegosiasikan, yang akan melindungi kepentingan semua pihak maupun kawasan yang lebih luas serta mengakui hak-hak sah Iran.
Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr bin Hamad bin Hamood Albusaidi, yang menjadi mediator perundingan putaran kedua tersebut, juga menggambarkan negosiasi itu berlangsung konstruktif. Dia mengutip "kemajuan baik" dalam mengidentifikasi tujuan bersama dan masalah teknis, maupun upaya serius untuk mendefinisikan prinsip-prinsip panduan untuk kesepakatan akhir.
Selanjutnya pada hari yang sama, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan kepada media AS bahwa beberapa aspek perundingan pada Selasa itu bersifat positif, tetapi Iran belum mengakui "garis merah" Trump, seraya menambahkan bahwa "semuanya masih menjadi bahan pertimbangan."
Trump, yang mundur dari perjanjian nuklir sebelumnya dengan Iran saat masa jabatan pertamanya, kembali memberlakukan kampanye "tekanan maksimum" terhadap Teheran dan berulang kali memperingatkan bahwa dia dapat menggunakan kekuatan militer untuk memaksa Iran membatasi aktivitas nuklirnya. Iran menyatakan pihaknya akan membalas dengan setimpal jika terjadi serangan.
Saat para diplomat berkumpul di Jenewa, Korps Garda Revolusi Islam Iran (Iran's Islamic Revolution Guards Corps/IRGC) meluncurkan sebuah latihan yang diberi nama ‘Pengendalian Cerdas Selat Hormuz’ (Smart Control of the Strait of Hormuz).
Kantor berita semiresmi Tasnim melaporkan bahwa latihan yang dimulai pada Senin (16/2) itu secara sementara menutup sebagian jalur pelayaran vital serta mencakup peluncuran rudal dari posisi pesisir dan pulau, kapal serang cepat, dan unit drone yang menyimulasikan serangan terhadap target-target maritim.
Sepah News, outlet berita resmi IRGC, mengatakan latihan tersebut bertujuan untuk menguji kesiapan angkatan laut dan melatih rencana keamanan serta penanggulangan ancaman di jalur perairan Selat Hormuz, yang merupakan arteri utama untuk pengiriman minyak global.
Pekan lalu, Trump mengatakan USS Gerald R. Ford, kapal induk terbesar di dunia, sedang dikerahkan ke Timur Tengah untuk memperkuat USS Abraham Lincoln beserta kapal-kapal perusak berpeluru kendali yang mengiringinya, yang telah berada di kawasan Timur Tengah selama tiga pekan.
Gerald R. Ford dan tiga kapal perusak yang mengawalnya saat ini berada di kawasan Atlantik tengah setelah diperintahkan untuk meninggalkan Karibia menuju Timur Tengah, lapor sebuah outlet berita AS pada Selasa, mengutip seorang pejabat Angkatan Laut AS.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Selasa menuturkan bahwa Teheran tidak akan melepaskan teknologi nuklir "damai" miliknya, tetapi terbuka terhadap "segala bentuk verifikasi" untuk membuktikan bahwa programnya tidak ditujukan untuk persenjataan. Dia menyatakan harapan bahwa AS dan masyarakat internasional yang lebih luas menolak "rumor dan propaganda" yang menyatakan Iran sedang berupaya mendapatkan senjata atom.
Menanggapi ancaman aksi militer terbaru dari Trump, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei mengatakan bahwa, seperti para pendahulunya, presiden AS itu juga akan gagal melemahkan Iran.
Laporan: Redaksi
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

PM Hongaria tolak upaya integrasi Ukraina ke NATO dan UE
Indonesia
•
24 Jun 2025

Pendingin udara di Masjidil Haram terbesar di dunia
Indonesia
•
08 Jul 2022

Pengamat sebut rencana pembuangan limbah nuklir Jepang picu risiko yang tak dapat diterima
Indonesia
•
05 Jul 2023

Lembaga PBB sebut Israel harus bekerja sama dalam tinjauan panel independen
Indonesia
•
14 Feb 2024
Berita Terbaru

Feature – Sambut Ramadan, warga Afghanistan berjuang di tengah sanksi dan kemiskinan
Indonesia
•
18 Feb 2026

Takaichi resmi terpilih kembali sebagai PM Jepang
Indonesia
•
18 Feb 2026

UNICEF: Hampir 23 juta warga Afghanistan butuh bantuan kemanusiaan pada 2025
Indonesia
•
17 Feb 2026

Kongres Peru setujui mosi pemakzulan presiden Jose Jeri, yang baru beberapa bulan menjabat
Indonesia
•
18 Feb 2026
