Feature – Panda raksasa dekatkan Indonesia dan China lewat konservasi dan pertukaran budaya

Panda raksasa Hu Chun memakan bambu saat merayakan ulang tahunnya yang ke-14 di Taman Safari Indonesia di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, pada 7 September 2024. (Xinhua/Sandika Fadilah)

Chengdu, China (Xinhua/Indonesia Window) – Bagi Jansen Manansang, pendiri Taman Safari Indonesia Group, panda raksasa bukan sekadar satwa yang dicintai banyak orang.

Satwa tersebut telah menjadi jembatan yang menghubungkan China dan Indonesia melalui konservasi satwa liar, penelitian ilmiah, serta pertukaran budaya.

Saat menghadiri Konferensi Mitra Panda Global 2026 (Global Panda Partners Conference) di Chengdu, ibu kota Provinsi Sichuan, China barat daya, Jansen mengatakan bahwa dirinya kembali terkesan oleh rasa sayang kota tersebut yang mendalam terhadap panda raksasa.

"Setiap kali saya datang ke Chengdu, saya dapat merasakan cinta kota ini untuk panda yang benar-benar berasal dari hati," tuturnya kepada Xinhua di sela-sela konferensi yang berlangsung pada 2 hingga 4 November.

Acara tersebut mempertemukan ratusan peserta dari 30 lebih negara dan kawasan untuk membahas konservasi panda raksasa serta pembangunan hijau global.

Bagi Jansen, yang telah lama terlibat dalam kerja sama konservasi panda raksasa antara China dan Indonesia, budaya panda di Chengdu mencakup aspek yang lebih luas daripada sekadar patung, suvenir, dan objek wisata.

"Dari bandara hingga lokasi acara, dari anak-anak hingga warga lanjut usia (lansia), Anda bisa merasakan bahwa panda raksasa di sini bukan sekadar satwa, panda adalah keluarga, panda merupakan bagian dari budaya," ujarnya.

Jansen terutama terkesan dengan pasar budaya dan kreatif bertema panda yang digelar bersamaan dengan konferensi tersebut. Di pasar itu, produk-produk yang terinspirasi dari panda dipadukan dengan kerajinan tradisional, teknologi, dan kuliner lokal.

Jansen mengatakan bahwa kegiatan-kegiatan semacam itu menunjukkan bagaimana popularitas panda raksasa dapat diwujudkan menjadi kesadaran publik yang lebih luas tentang konservasi satwa liar, sekaligus memberikan pelajaran berharga bagi Indonesia.

Antusiasmenya berakar pada sebuah tonggak penting dalam kerja sama konservasi antara China dan Indonesia.

Pada November 2025, panda raksasa Cai Tao dan Hu Chun, yang telah tinggal di Indonesia, menyambut kelahiran bayi pertama mereka, Rio. Ini merupakan bayi panda raksasa pertama yang lahir di Indonesia.

Presiden Indonesia Prabowo Subianto memberi bayi panda tersebut nama Satrio Wiratama, yang berarti ‘kesatria yang berani dan mulia’. Panda muda itu tampil di hadapan publik untuk pertama kalinya pada Mei 2026 dan hingga kini tetap dalam kondisi sehat.

"Kelahiran Rio mengisi kekosongan dalam program pengembangbiakan panda raksasa di Indonesia melalui penangkaran," kata Jansen, seraya menyebutkan bahwa pencapaian itu merupakan hasil dari kerja sama erat selama bertahun-tahun dengan para pakar dari Pusat Konservasi dan Penelitian Panda Raksasa China (China Conservation and Research Center for the Giant Panda).

Bagi Jansen, signifikansi kerja sama terkait panda raksasa tidak hanya terbatas pada keberhasilan pengembangbiakan.

Dalam sebuah dialog mengenai konservasi panda raksasa dan spesies terancam punah lainnya pada Selasa (3/11), Jansen menyoroti peran kebun binatang dan taman margasatwa dalam mendorong edukasi lingkungan.

Taman Safari Indonesia Group menjadi rumah bagi lebih dari 24.000 satwa yang mewakili lebih dari 1.400 spesies, dengan panda raksasa menjadi salah satu atraksi yang paling populer.

"Pengunjung datang ke kebun binatang karena mereka menyukai panda, tetapi kami berharap ketika mereka pulang, hal yang mereka bawa adalah pemahaman mengenai keseluruhan ekosistem hutan," kata Jansen.

Dia menjelaskan bahwa area ekshibisi panda raksasa di taman tersebut dirancang untuk menciptakan kembali elemen-elemen habitat alami satwa itu. Dengan demikian, pengunjung dapat memahami pentingnya melindungi keanekaragaman hayati dan keseluruhan ekosistem, bukan hanya spesies tertentu.

Ke depannya, Jansen mengatakan bahwa Taman Safari Indonesia Group berencana memperdalam kerja sama dengan mitra-mitra dari China dalam hal konservasi habitat satwa liar dan pengembangan program pendidikan publik.

Jansen berharap pengalaman yang diperoleh dari konservasi panda raksasa dapat berkontribusi terhadap upaya yang lebih luas untuk melindungi spesies terancam punah beserta habitatnya di Indonesia.

"Chengdu telah menjadikan panda sebagai bahasa yang menghubungkan dunia," tutur Jansen. "Di Indonesia, kami juga bekerja keras untuk menjadikan Rio sebagai jembatan semacam itu."

Bagi Jansen, ikatan yang terjalin melalui panda raksasa membuka peluang baru bagi kerja sama antara kedua negara, mendekatkan konservasi satwa liar kepada masyarakat, serta mendorong upaya yang lebih besar untuk melindungi alam.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait