Feature – Menanti perdamaian di dekat Gaza

Sejumlah orang terlihat di sebuah jalan yang dipenuhi bangunan-bangunan yang hancur di Gaza City pada 19 Oktober 2025. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Yerusalem (Al-Quds), Wilayah Palestina yang diduduki (Xinhua/Indonesia Window) – Dari sebuah bukit di pinggiran Sderot, kota Israel (wilayah Palestina yang diduduki) yang paling dekat dengan Jalur Gaza, kehancuran di seberang perbatasan terlihat dengan jelas.

Bangunan-bangunan yang hancur membentuk garis cakrawala yang tidak beraturan hanya beberapa kilometer dari tempat itu. Namun, kedua tempat tersebut terasa seolah berada di dunia yang berbeda.

Tiga tahun lalu, pada 7 Oktober 2023, serangan yang dipimpin Hamas terhadap Israel selatan memicu babak baru konflik berdarah di Gaza. Para militan memasuki Sderot dan menyerbu kantor polisi setempat, tempat pertempuran berkecamuk sepanjang malam. Pasukan Israel akhirnya menghancurkan bangunan tersebut saat merebutnya kembali.

Saya masih ingat ketika berlindung sambil berjongkok di antara reruntuhan saat meliput hari-hari awal perang: jet-jet tempur menggelegar di atas kepala, ketakutan membuat jalanan kosong, dan asap berbau menyengat menyelimuti udara. Tak jauh dari sana, setiap serangan Israel ke Gaza memicu kepulan asap ke langit.

Saat itu, tak seorang pun tahu berapa lama perang akan berlangsung, apalagi bagaimana dampaknya akan meluas melintasi perbatasan dan melanda sebagian besar kawasan Timur Tengah.

Tiga tahun kemudian, saya kembali. Reruntuhan itu telah lenyap. Di lokasi bekas kantor polisi itu kini berdiri sebuah alun-alun peringatan, dilengkapi tanaman hijau yang baru ditanam dan jalur pejalan kaki beraspal. Para pengunjung berhenti sejenak untuk melihat-lihat. Sderot perlahan-lahan kembali merasakan suasana kehidupan yang normal.

Dibutuhkan waktu kurang dari tiga tahun untuk mengubah reruntuhan menjadi sebuah alun-alun. Namun, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengubah perang menjadi perdamaian?

Di Kota Bethlehem, Tepi Barat, Ali Mansour bercerita kepada saya bahwa dia tidak lagi bekerja sejak perang dimulai. Sebelum konflik, dia bepergian setiap hari untuk bekerja di wilayah-wilayah yang berada di bawah kendali Israel. Setelah konflik pecah, Israel secara drastis membatasi izin kerja bagi para pekerja Palestina, sehingga membuatnya kehilangan pekerjaannya.

Menurut Mansour, yang selama ini dia nantikan bukan sekadar pekerjaan, melainkan kesempatan untuk memulihkan martabat melalui kehidupan kerja yang normal.

Di Kota Tua Yerusalem, penjual suvenir asal Palestina, Rami Hamdan, merasakan dampak perang dengan cara yang berbeda. Di toko-toko yang dahulu ramai, para pedagang kini duduk tanpa banyak kegiatan, menanti pelanggan yang jarang datang.

"Saya sudah lama berhenti menonton berita. Saya bahkan tidak ingin tahu lagi apa yang sedang terjadi," katanya. "Saya hanya ingin mengasingkan diri dari dunia yang dipenuhi perang tanpa akhir ini."

Barangkali, inilah dampak perang yang paling lama membekas. Sebuah ledakan memiliki waktu, tempat, dan jumlah korban yang dapat dihitung. Peristiwa itu menjadi berita utama, lalu diabadikan dalam sebuah foto.

Namun, lama setelah asap menghilang, perang tetap meninggalkan dampak dalam bentuk yang tak kasatmata, seperti keluarga yang berduka atas kehilangan orang-orang tercinta, para pekerja yang menunggu pekerjaan yang tak kunjung kembali, anak-anak yang tumbuh di tengah suara sirene serangan udara, serta orang-orang biasa yang menjalani hari demi hari dalam ketidakpastian.

Selama tiga tahun terakhir, pertempuran telah meluas menjadi konflik regional.

Konflik tersebut meluas dari Gaza ke perbatasan Israel-Lebanon dan Laut Merah, sebelum meningkat menjadi konfrontasi militer langsung berskala besar yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran. Roket, rudal, dan drone berulang kali melintasi langit Timur Tengah.

Selama tiga tahun ini, entah sudah berapa kali saya menulis kata "eskalasi" dan frasa "gencatan senjata mulai berlaku". Berulang kali, tepat ketika perang tampak hampir berakhir, babak pertempuran baru justru kembali pecah.

Meluasnya medan pertempuran terus menguji pemahaman saya tentang perang selama ini. Sebagai koresponden yang meliput langsung dari garis depan, saya belajar bahwa situasi terburuk sekalipun bisa segera tergantikan oleh keadaan yang lebih buruk, dan sesuatu yang tampak seperti akhir bisa jadi justru merupakan awal dari sesuatu yang lebih buruk.

Sebelum meninggalkan Sderot, saya bertemu dengan Shalom Levi, seorang warga setempat. Kini berusia 60 tahun, dia menghabiskan seluruh hidupnya di dekat perbatasan Gaza.

Dalam bahasa Ibrani, ‘shalom’ merupakan sapaan sekaligus kata yang berarti ‘damai’. Levi bercerita kepada saya bahwa orang tuanya memilih nama tersebut untuk mengungkapkan harapan mereka akan perdamaian.

Di belakangnya berdiri alun-alun peringatan yang dibangun di atas bekas reruntuhan kantor polisi. Di baliknya terbentang Gaza, yang masih porak-poranda akibat perang.

Monumen-monumen baru telah berdiri di atas puing-puing. Rumput-rumput baru tumbuh di tanah yang hangus terbakar.

Namun, seorang pria yang namanya berarti ‘Damai’ masih menunggu hingga namanya menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar harapan.

Selesai

Penulis Xinhua: Wang Zhuolun

 

Bagikan

Komentar

Berita Terkait