Feature – Mau anak lebih cerdas, ajari bahasa ibu sejak dini

Ilustrasi. (Fiqih Alfarish on Unsplash)

Penguatan bahasa ibu tidak hanya membantu anak memahami informasi lebih baik, tetapi juga meningkatkan kemampuan berpikir kritis.

 

Jakarta (Indonesia Window) – Banyak pasangan orangtua milenial (1981-1996) dan Generasi Z (1997-2012) mengajarkan bahasa asing kepada anak-anak mereka sejak dini. Bahkan, tak sedikit yang membiasakan percakapan di rumah dengan bahasa Inggris walaupun anak-anak mereka tidak belajar di sekolah internasional. Atau, memasukkan anak-anak mereka ke sekolah internasional yang menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

Kebanyakan alasan para orangtua ini adalah agar anak-anak mereka tidak ketinggalan zaman dan bisa lebih meng-global dalam pergaulan.

Namun, para ahli dan peneliti justru menemukan bahwa bahasa ibu, termasuk bahasa daerah, ketika dibiasakan dan diajarkan kepada anak-anak sejak dini hingga di tingkat mahir, justru membuat mereka lebih cerdas dan mudah menguasai bahasa-bahasa asing lainnya.

“Bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi atau romansa budaya, tetapi instrumen kognitif dan intelektual yang memungkinkan anak berkembang secara akademis,” ujar Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (Orbastra) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Herry Yogaswara, dalam webinar bertajuk ‘Bahasa Ibu Sebagai Fondasi Kognitif: Diskursus Kebijakan dan Tantangan Praktis di Era Global’.

Acara tersebut digelar Pusat Riset Preservasi Bahasa dan Sastra (PR PBS) BRIN, di Jakarta, Kamis (2/4).

Herry menjelaskan, merujuk konsep ‘Common Underlying Proficiency’ (CUP), kemampuan kognitif yang terbentuk melalui bahasa ibu dapat ditransfer saat anak mempelajari bahasa kedua.

Ini artinya, penguasaan bahasa pertama yang kuat akan mempermudah anak dalam memahami bahasa lain.

Namun, realitas di lapangan masih menunjukkan tantangan besar. Berdasarkan laporan UNESCO (2023), banyak anak mengalami buta huruf fungsional karena dipaksa belajar menggunakan bahasa yang tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari di rumah.

Di Indonesia, meskipun peraturan pemerintah telah membuka peluang penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar di pendidikan dasar, implementasinya belum optimal.

Keterbatasan bahan ajar, minimnya tenaga pengajar yang kompeten, serta stigma bahwa bahasa daerah adalah “bahasa kelas dua” menjadi hambatan utama.

Melalui forum tersebut, Herry mendorong lahirnya rekomendasi konkret, mulai dari pengembangan bahan ajar multilingual, inovasi metode pengajaran di daerah tertinggal, hingga penyusunan kebijakan kurikulum yang lebih inklusif terhadap keragaman bahasa.

Dia juga menyoroti temuan World Bank pada 2021 yang menyebutkan bahwa investasi pada bahasa ibu merupakan strategi pendidikan yang relatif hemat biaya, namun memberikan dampak besar dalam jangka panjang.

Pandangan ini diperkuat oleh praktisi pendidikan multilingual, Luminda Belesima Tahapary. Dalam paparannya, dia menekankan bahwa bahasa ibu adalah bahasa pertama yang diperoleh secara alami dan menjadi dasar berpikir serta komunikasi anak.

“Bahasa ini menjadi fondasi awal bagi perkembangan pengetahuan, konsep baru, dan identitas budaya anak, yang mendukung kemampuan belajar lebih lanjut,” jelasnya.

Dia menambahkan, penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar sangat efektif, terutama di wilayah terpencil.

Menurutnya, kesulitan belajar yang dialami anak sering kali bukan disebabkan oleh rendahnya kemampuan, melainkan karena perbedaan bahasa antara rumah dan sekolah.

“Dengan bahasa ibu sebagai pengantar, anak-anak dapat membangun literasi dasar membaca, menulis, dan berhitung sebagai fondasi untuk pembelajaran akademik yang lebih kompleks,” ujarnya.

Luminda juga menjelaskan tahapan pemerolehan bahasa. Anak belajar bahasa pertama melalui proses mendengar, melihat, dan melakukan sebelum memasuki tahap membaca dan menulis formal.

Pendekatan serupa dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa kedua, dimulai dari komunikasi dasar hingga kemampuan akademik yang lebih tinggi atau ‘Cognitive Academic Language Proficiency’.

“Hal ini memungkinkan anak menguasai bahasa baru tanpa kehilangan kemampuan bahasa ibu dan membangun kapasitas kognitif secara maksimal,” tegasnya.

Di akhir paparannya, Luminda menekankan bahwa penguatan bahasa ibu tidak hanya membantu anak memahami informasi lebih baik, tetapi juga meningkatkan kemampuan berpikir kritis.

Pendekatan multilingual berbasis bahasa ibu juga dinilai sebagai strategi penting dalam membentuk generasi yang tangguh, berdaya saing global, tanpa kehilangan identitas budaya.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait