
Feature – Batik Indonesia pikat China, karya mahasiswa ITB sabet ‘Most Popular Award’

Foto yang diabadikan pada 30 Mei 2026 ini menunjukkan Rahmatullah Abimanyu Putramustika (ketiga dari kanan) dan Devina Caroline Tambuna (keempat dari kanan), mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), menerima penghargaan dalam ajang Silk Road Immersive Pavilion Joint Design Course yang digelar di Universitas Chongqing di Chongqing, China barat daya. (Xinhua)
Chongqing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Baru-baru ini, Kuliah Desain Bersama Paviliun Imersif Jalur Sutra (Silk Road Immersive Pavilion Joint Design Course) berakhir di Universitas Chongqing, China.
Diselenggarakan oleh Universitas Chongqing, program tersebut mempertemukan 33 mahasiswa dari enam universitas di lima negara, yakni Indonesia, Azerbaijan, Brunei Darussalam, China, dan Uzbekistan.
Melalui rangkaian kegiatan selama satu pekan yang mencakup kuliah, pengembangan desain, konstruksi langsung, dan presentasi akhir, para peserta secara kolaboratif merancang dan membangun tujuh paviliun budaya imersif. Setiap paviliun memadukan unsur-unsur warisan budaya nasional, simbol arsitektur, dan tradisi rakyat. Para pengunjung dapat mendengar, menyentuh, dan merasakan identitas unik dari berbagai negara dan kawasan di setiap paviliun.
Paviliun yang dirancang oleh tim mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut berhasil meraih penghargaan Most Popular Award.
Proyek tersebut diberi nama ‘Jejak Tiga Tahap Kehidupan’ (Traces of Three Stages of Life). Instalasi ini mengikuti narasi perjalanan hidup seorang warga Indonesia melalui tiga tahap kehidupan, yakni masa kanak-kanak, masa dewasa, dan masa tua.
Tim tersebut memilih Batik tradisional Indonesia sebagai elemen budaya utama, menggunakan variasi motif dan warna untuk merepresentasikan transformasi psikologis dari masa muda yang riang, menuju masa dewasa yang penuh ketidakpastian, hingga masa usia lanjut yang tenang.
Bagian masa kanak-kanak menampilkan motif yang cerah dan terinspirasi oleh alam, yang melambangkan pertumbuhan dan kepolosan. Tahap masa dewasa menggunakan skema warna yang lebih kompleks dan motif yang lebih padat untuk mencerminkan tekanan, pilihan, dan ketidakpastian kehidupan masa dewasa. Tahap terakhir memadukan warna batik yang hangat dan lembut serta motif simbolis tradisional, yang mengekspresikan refleksi atas pengalaman hidup, kenangan keluarga, dan pewarisan budaya.
"Selain desain visual, kami juga memasukkan banyak elemen yang melibatkan indra lainnya," kata Rahmatullah Abimanyu Putramustika (21), seorang mahasiswa ITB.
"Sebagai contoh, kami menggunakan bahan-bahan herbal tradisional Indonesia yang umum digunakan untuk bayi, sehingga pengunjung dapat merasakan tahap masa bayi melalui aroma. Kami juga merekam suara autentik lalu lintas jalanan Indonesia untuk menggambarkan tekanan dan kesibukan kehidupan dewasa. Sementara itu, musik gamelan tradisional Jawa menciptakan suasana yang tenang dan damai untuk tahap masa tua. Kami ingin menghadirkan unsur-unsur budaya Indonesia paling autentik kepada teman-teman kami di China," imbuhnya.
Paviliun tersebut diciptakan bersama oleh mahasiswa Indonesia dan mahasiswa Universitas Chongqing. Meskipun para peserta berasal dari berbagai negara dengan bahasa, latar belakang budaya, dan pendekatan desain yang berbeda, mereka menghabiskan satu pekan untuk mendiskusikan ide, menggambar rancangan, dan membangun instalasi bersama, menumbuhkan saling pengertian dan persahabatan melalui kolaborasi langsung.
"Melalui kolaborasi ini, kami tidak hanya memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang budaya satu sama lain, tetapi juga menjalin persahabatan yang bermakna. Karena itu, kami sengaja memasukkan beberapa unsur budaya China ke dalam desain tersebut, seperti kain dengan motif yang terinspirasi dari China, dengan harapan menjadikan paviliun ini sebagai simbol pertukaran dan integrasi budaya antara Indonesia dan China," kata Devina Caroline Tambunan (26), mahasiswa ITB.
Li Wenhan (26), mahasiswa Universitas Chongqing sekaligus anggota tim tersebut, mengatakan bahwa pengalaman itu membantunya mempelajari banyak hal tentang budaya Indonesia sekaligus menjalin pertemanan baru dengan orang-orang dari Indonesia. Mereka tentunya akan tetap menjalin hubungan dan berteman di masa mendatang.
Xie Hui, direktur Soundscape Research Center di Universitas Chongqing, menyatakan bahwa proyek-proyek tersebut tidak hanya mengintegrasikan simbol arsitektur, tradisi rakyat, dan pengalaman multisensori dari berbagai negara, tetapi juga menunjukkan perspektif unik serta ekspresi kreatif generasi muda mengenai dialog antarbudaya dan pembelajaran timbal balik antarperadaban.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Otoritas sebut sistem kesehatan di Gaza akan segera kolaps akibat kelangkaan bahan bakar
Indonesia
•
15 May 2024

FDA AS setujui vaksin COVID-19 yang diperbarui untuk lawan varian yang menyebar
Indonesia
•
23 Aug 2024

Jumlah warga Palestina yang tewas di Gaza tembus 54.000 orang
Indonesia
•
28 May 2025

China catat penurunan kasus gagal bayar upah pekerja migran pada 2022
Indonesia
•
13 Jan 2023


Berita Terbaru

Feature – Pemuda Medan ini tinggalkan Indonesia, kini jadi bintang pariwisata di kota 'wine' China
Indonesia
•
03 Jun 2026

Harapan hidup di Singapura naik, perempuan bisa capai usia 86 tahun
Indonesia
•
04 Jun 2026

Feature – Menari jadi jalan penyembuhan bagi lansia dan penyintas kanker
Indonesia
•
04 Jun 2026

Bayi makin langka di Jepang, angkanya kini lebih buruk dari prediksi para ahli
Indonesia
•
04 Jun 2026
