
Feature – Aksi bersih-bersih suporter Jepang dipuji FIFA, tapi fakta di rumah tangga picu kontroversi

Ogawa Koki (pertama dari kiri) dari Jepang melakukan selebrasi saat pertandingan Grup F antara Belanda melawan Jepang dalam ajang Piala Dunia FIFA 2026 di Dallas Stadium di Dallas, Amerika Serikat, pada 14 Juni 2026. (Xinhua/Jia Haocheng)
Miami/Tokyo, Amerika Serikat/Jepang (Xinhua/Indonesia Window) – Para penggemar sepak bola Jepang kembali mencuri perhatian di ajang Piala Dunia FIFA karena aksi memungut sampah setelah pertandingan, sebuah kebiasaan yang familier bagi para penonton di luar negeri tetapi justru memicu perdebatan di Jepang sendiri.
Foto-foto para suporter yang memunguti sampah dan memasukkannya ke dalam kantong sampah setelah pertandingan beredar luas di dunia maya. Pihak FIFA pun baru-baru ini memuji para penggemar Jepang di media sosial atas aksi mereka membersihkan tribun stadion.
Namun, gelombang perhatian terbaru ini telah memicu sejumlah komentator Jepang untuk mempertanyakan apakah perilaku yang terlihat di stadion tersebut mencerminkan kehidupan sehari-hari di luar lapangan.
Sebuah unggahan di media sosial yang telah dilihat sekitar 1,9 juta kali kini menantang citra yang selama ini melekat dengan aksi bersih-bersih tersebut.
"Pria Jepang termasuk yang menghabiskan waktu paling sedikit untuk melakukan pekerjaan rumah tangga dibanding negara-negara lain," sebut unggahan itu.
"Tolong lakukan itu di rumah," tulis unggahan tersebut, disertai ilustrasi satir yang memperlihatkan seorang suporter yang dengan bangga membersihkan stadion tetapi bersantai di sofa rumah, tanpa menyadari tumpukan pakaian kotor dan istri atau ibunya yang sedang mencuci piring.
Kritik tersebut menyinggung isu klasik yang sudah lama ada di Jepang. Data dari Kantor Kabinet Jepang, yang mengutip angka Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) yang diterbitkan pada 2021, menunjukkan bahwa perempuan menghabiskan waktu 5,5 kali lebih lama daripada laki-laki untuk pekerjaan tak berbayar, termasuk pekerjaan rumah tangga, berbelanja, dan perawatan.
Disparitas tersebut lebih besar dibandingkan di Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat (AS), di mana selisih antara laki-laki dan perempuan jauh lebih kecil.
Pembahasan itu semakin ramai diperbincangkan karena citra stadion yang bersih tidak selalu sejalan dengan aspek lainnya dalam kehidupan sehari-hari. Di beberapa distrik hiburan, puntung rokok kerap terlihat berserakan di luar bar dan restoran setelah malam yang sibuk.
Bagi para pendukung aksi bersih-bersih, praktik tersebut merefleksikan kebiasaan yang telah terbentuk sejak masa kanak-kanak, alih-alih sekadar keinginan untuk mendapatkan pengakuan publik.
Koichi Nakano, seorang profesor ilmu politik dan sejarah di Universitas Sophia, menyebutkan bahwa para penggemar olahraga Jepang di ajang-ajang internasional sering kali berperilaku seperti halnya ketika mereka pertama kali belajar olahraga di sekolah.
Banyak sekolah dasar di Jepang mewajibkan para siswa untuk membersihkan ruang kelas dan halaman sekolah mereka sendiri. Ekspektasi serupa juga sering kali diterapkan di lingkungan kerja, di mana para karyawan turut membantu merawat ruang-ruang bersama.
Jepang memiliki tempat sampah umum yang relatif sedikit, dan banyak masyarakatnya sudah terbiasa membawa pulang sampah mereka alih-alih membuangnya di tempat umum.
Namun, para peneliti mengingatkan agar tidak memandang perilaku tersebut sebagai bukti bahwa Jepang bebas dari masalah sosial.
Barbara Holthus dari Institut Jerman untuk Kajian Jepang mengatakan sangat penting untuk tidak menyanjung masyarakat Jepang secara berlebihan, mengingat setiap negara pasti memiliki tantangan dan kekurangannya masing-masing.
Dia menuturkan bahwa perilaku sosial dibentuk oleh pola asuh dan keinginan kuat untuk menghindari timbulnya ketidaknyamanan bagi orang lain.
Perhatian yang diterima oleh aksi tersebut selama bertahun-tahun kemungkinan juga menjadi faktor lainnya.
Jeff Kingston, seorang profesor sejarah di kampus Jepang Universitas Temple, menyatakan liputan media yang luas telah membantu menjadikan perilaku tersebut sebagai sumber kebanggaan bagi banyak suporter.
Perdebatan tersebut memicu reaksi yang beragam di dunia maya.
"Para istri yang kesulitan menghadapi suami yang sama sekali tidak mau bersih-bersih sebaiknya meminta mereka mengenakan seragam Samurai Biru Jepang juga di rumah," demikian bunyi salah satu komentar.
Pihak lain berpendapat bahwa kesimpulan umum mengenai pria Jepang tidaklah adil dan kritik yang viral tersebut didasarkan pada generalisasi yang berlebihan.
Pembahasan itu menyoroti adanya ketegangan antara perilaku yang telah mendapat pengakuan di luar negeri dan pertanyaan mengenai bagaimana tanggung jawab dibagi di rumah, khususnya di dalam rumah tangga Jepang.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Dua juta jamaah daftar umroh dalam satu bulan
Indonesia
•
08 Nov 2020

Badan PBB khawatir penutupan perlintasan Gaza merusak progres bantuan kemanusiaan
Indonesia
•
06 Mar 2025

Satu orang tewas dalam bentrokan warga Palestina dan pasukan Israel di Tepi Barat
Indonesia
•
14 Oct 2022

Lebih 90.000 masjid Saudi dibuka akhir pekan, kecuali di Makkah
Indonesia
•
29 May 2020


Berita Terbaru

Kisah perantau China ke Asia Tenggara jadi sensasi film, Indonesia termasuk bagian sejarahnya
Indonesia
•
21 Jun 2026

Beijing, Shanghai, atau Wuhan? Memilih kota studi di China
Indonesia
•
20 Jun 2026

Minat sains dan matematika di Indonesia masih rendah, harus dimulai sejak usia dini
Indonesia
•
20 Jun 2026

Ribuan orang terjebak di pegunungan Jepang, ratusan dilaporkan tewas dan hilang
Indonesia
•
18 Jun 2026
