Dari Gaza hingga Iran, Israel klaim serang 100.000 target dalam 3 tahun konflik di Timur Tengah

Foto yang diabadikan pada 28 Maret 2025 ini menunjukkan lokasi sebuah bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut, Lebanon. (Xinhua/Bilal Jawich)

Yerusalem (Al-Quds), Wilayah Palestina yang diduduki (Xinhua/Indonesia Window) – Militer Israel pada Rabu (7/10) mengatakan bahwa pihaknya telah menyerang sekitar 100.000 target di seantero Timur Tengah sejak Oktober 2023 dan meningkatkan pasukan cadangannya sebesar 36 persen, seraya memaparkan skala operasinya pada peringatan tiga tahun konflik tersebut.

Militer Israel menyatakan bahwa unit pasukan cadangan tempur bertugas rata-rata selama 80 hingga 100 hari pada 2026, dibandingkan dengan rencana rata-rata sekitar 55 hari, serta mengaitkan peningkatan tersebut dengan "kebutuhan operasional yang terus berkembang."

Pihak militer menyebutkan bahwa sekitar 22.000 personel cadangan yang sebelumnya telah dibebastugaskan kembali dipanggil untuk bertugas menyusul perintah pemanggilan pada Agustus 2024.

Dari total target tersebut, sekitar 65.000 target berada di Gaza, 28.000 di Lebanon dan Suriah secara gabungan, 4.500 di Iran, serta 80 di Yaman. Militer Israel tidak menjelaskan apakah serangan berulang terhadap lokasi yang sama turut dihitung.

Di Tepi Barat yang diduduki, pihak militer menyatakan telah menahan sekitar 45.000 orang untuk dimintai keterangan selama kurun waktu tiga tahun, termasuk mereka yang dituduh melempar batu atau memiliki senjata serta yang dicurigai merencanakan serangan.

Militer Israel juga menyatakan telah menyita lebih dari 3.800 senjata sejak perang dimulai.

Selama kurun waktu tiga tahun tersebut, sekitar 10.200 proyektil telah diluncurkan ke arah Israel dari Gaza, 20.000 dari Lebanon, 1.200 dari Iran, 50 dari Suriah, dan 90 dari Yaman, menurut keterangan pihak militer. Angka-angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Pihak militer menyatakan bahwa 970 tentara Israel tewas selama operasi berlangsung dan lebih dari 70 persen prajurit yang terluka dalam perang tersebut telah kembali bertugas.

Serangan yang dipimpin Hamas ke wilayah Israel selatan pada 7 Oktober 2023 menewaskan sekitar 1.200 orang dan memicu kampanye militer besar-besaran oleh Israel di seluruh Gaza yang, menurut otoritas kesehatan yang berbasis di Gaza, telah menewaskan lebih dari 74.200 orang. Konflik tersebut kemudian meluas menjadi pertempuran di berbagai wilayah kawasan itu.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait