
Cuaca tenang tanpa angin picu pemutihan karang di Great Barrier Reef

Foto udara yang diambil pada 2 Juni 2021 ini menunjukkan Great Barrier Reef di Queensland, Australia. (Xinhua/Hu Jingchen)
Periode cuaca tenang dan tanpa angin yang dikenal sebagai ‘hari-hari doldrum’ (doldrum days) semakin memicu pemutihan terumbu karang massal di Great Barrier Reef Australia.
Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Periode cuaca tenang dan tanpa angin yang dikenal sebagai ‘hari-hari doldrum’ (doldrum days) semakin memicu pemutihan terumbu karang massal di Great Barrier Reef Australia, demikian menurut penelitian baru yang diumumkan pada Senin (19/1).
Studi tersebut menganalisis data cuaca hampir tiga dekade saat musim pemutihan terumbu karang dan mengaitkan jeda berkepanjangan angin pasat, yang biasanya membantu mendinginkan perairan terumbu karang, dengan lonjakan suhu laut dan stres terumbu karang yang meluas, ungkap pernyataan Universitas Monash Australia.
Studi yang telah diterbitkan oleh European Geosciences Union (EGU) ini menemukan bahwa ketika gelombang atmosfer planet yang besar datang, hal ini dapat menurunkan tekanan atmosfer dan mengganggu angin pasat, sehingga meningkatkan kemungkinan terbentuknya fenomena doldrum.
Secara khusus, hilangnya angin pasat, yang masing-masing biasa terjadi pada Desember dan April, berarti berkurangnya proses pendinginan laut dan dapat berkontribusi pada penumpukan stres musim panas lebih dini serta bertahannya cuaca panas hingga akhir musim, sebut para peneliti.
Angin pasat bertindak seperti pendingin udara alami bagi terumbu karang, ujar Lara Richards, peneliti utama sekaligus kandidat PhD di Australian Research Council Center of Excellence for the Weather of 21st Century, yang memimpin penelitian tersebut bersama Universitas Monash.
"Apabila angin itu berhenti berhembus, suhu lautan akan memanas dengan cepat, dan terumbu karang menderita," kata Richards, menambahkan bahwa memahami pola-pola ini dapat membantu ilmuwan memprediksi dan mengurangi dampak pemutihan di masa depan secara lebih baik.
Para peneliti menemukan bahwa tahun-tahun yang mengalami peristiwa pemutihan massal memiliki lebih banyak hari yang tenang dan cerah selama bulan-bulan terpanas, serta lebih sedikit hari dengan angin pasat yang kuat antara Desember dan April. Hal ini memungkinkan suhu panas terakumulasi dan bertahan lebih lama, sehingga menciptakan kondisi ideal bagi gelombang panas laut.
Ketika Great Barrier Reef mengalami pemutihan karang secara massal, fenomena doldrum terjadi lebih sering dan berlangsung lebih lama, ujar Profesor Steven Siems dari Sekolah Ilmu Bumi, Atmosfer dan Lingkungan di Universitas Monash.
Penelitian ini menyoroti bagaimana hilangnya peristiwa pendinginan di penghujung musim dapat mengubah tahun yang biasa menjadi tahun terjadinya pemutihan karang, papar Siems.
Studi tersebut mendesak pemantauan pola atmosfer yang lebih ketat, seraya memperingatkan bahwa seiring perubahan iklim terus mengganggu sistem cuaca, angin pasat menjadi semakin penting untuk perlindungan terumbu karang.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Peneliti China rancang solusi untuk kestabilan komunikasi pada kereta ultracepat
Indonesia
•
11 Dec 2024

Model AI Green Shield pastikan penggunaan pestisida yang tepat
Indonesia
•
26 May 2026

Sel surya fleksibel dikembangkan untuk aplikasi PV
Indonesia
•
13 Jun 2023

Perubahan iklim berpotensi pangkas populasi rusa Arktika hingga 80 persen pada 2100
Indonesia
•
19 Aug 2025


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
