
Peneliti Australia kaji dampak larangan media sosial pertama di dunia untuk remaja

Ilustrasi. (dole777 on Unsplash)
Apakah pemblokiran media sosial efektif dalam mengubah pola penggunaan ponsel pada remaja dan meningkatkan kesejahteraan mental mereka?
Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Tim peneliti Australia meluncurkan sebuah kajian untuk memantau dampak larangan media sosial pertama di dunia, yang akan diberlakukan pada 10 Desember mendatang, terhadap penggunaan ponsel, waktu penggunaan perangkat elektronik berlayar (screentime), kesehatan mental, dan kesejahteraan remaja.Kajian bertajuk ‘Connected Minds Study’ tersebut, yang dilakukan oleh Murdoch Children's Research Institute (MCRI) Australia dan Deakin University, sedang mencari remaja berusia 13 hingga 16 tahun yang menggunakan aplikasi media sosial beserta orangtua mereka untuk membagikan pengalaman mereka sebelum dan setelah larangan itu diberlakukan pada Desember nanti, ungkap pernyataan MCRI yang dirilis pada Selasa (14/10).Berdasarkan undang-undang (UU) mengenai larangan tersebut, yang disetujui oleh parlemen federal Australia pada Desember 2024, semua platform media sosial dengan batasan usia harus mencegah anak di bawah 16 tahun di Australia untuk membuat atau memiliki akun.Perusahaan yang gagal mengambil "langkah-langkah wajar" untuk menegakkan larangan itu akan dikenai denda hingga 49,5 juta dolar Australia, demikian bunyi UU tersebut.*1 dolar Australia = 10.813 rupiah"Beberapa bukti mengaitkan penggunaan media sosial dengan kesehatan mental dan fisik remaja, tetapi hubungan sebab-akibat yang jelas belum terbukti," kata Profesor Susan Sawyer dari MCRI.Kajian ini akan membantu menentukan apakah pemblokiran media sosial efektif dalam mengubah pola penggunaan ponsel pada remaja dan meningkatkan kesejahteraan mental mereka, berdasarkan masukan dari remaja dan keluarga mereka, tutur Sawyer.Para peserta akan mengisi survei sebelum dan setelah larangan diberlakukan, dengan kajian aplikasi opsional selama dua pekan yang memantau penggunaan media sosial, pola tidur, aktivitas fisik, dan rasa keterkaitan sosial, papar pernyataan tersebut."Secara unik, kajian kami akan mengukur penggunaan media sosial secara objektif, bukan hanya mengandalkan laporan penggunaan yang dilaporkan sendiri," kata Sawyer.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Feature – Ramadhan di Gaza diselimuti kesedihan di tengah perjuangan bertahan hidup
Indonesia
•
26 Mar 2024

Antisipasi wabah Nipah, Singapura akan terapkan pemeriksaan suhu tubuh di bandara
Indonesia
•
30 Jan 2026

Jerman catat rekor tahun terpanasnya dalam sejarah
Indonesia
•
31 Dec 2022

Siswa SMA Islam Insantama bawa misi nasional ke Mesir dan UEA
Indonesia
•
18 Oct 2019


Berita Terbaru

Feature – Rumah prefabrikasi bantu korban gempa Xizang di China punya hunian nyaman dalam 3 hari
Indonesia
•
27 Oct 2026

Untuk pertama kalinya, demensia jadi penyebab lebih dari 10 persen kematian di Australia
Indonesia
•
27 Oct 2026

Kampung Silat Betawi Rawa Belong diresmikan sebagai Kampung Budaya 2026
Indonesia
•
25 Oct 2026

7 orang hilang usai gedung bertingkat runtuh di Kenya, pencarian berlanjut
Indonesia
•
25 Oct 2026
