Waspadai ular di musim hujan

Waspadai ular di musim hujan
Ilustrasi. (Photo by Timothy Dykes on Unsplash)

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Sebagaian besar wilayah Indonesia bagian barat telah memasuki musim hujan yang tentu membawa keberkahan.

Namun musim hujan juga menandakan bakal munculnya ular yang cukup menakutkan masyarakat, apalagi jika ular tersebut adalah kobra yang berbisa seperti yang terjadi di beberapa pemukiman warga Bogor (Jawa Barat), Jember (Jawa Timur), Jakarta Timur, Klaten (Jawa Tengah) dan Yogyakarta.

Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan bahwa kobra atau juga dikenal dengan ular sendok adalah jenis ular berbisa dari suku Elapidae.

Disebut ular sendok karena ular ini dapat menegakkan dan memipihkan lehernya, melengkung menyerupai sendok, jika merasa terganggu atau merasa terancam oleh musuhnya.

Ular ini juga memiliki kemampuan menyemprotkan bisa (venom).

Peneliti reptil LIPI, Amir Hamidy, menerangkan, ada dua jenis kobra di Indonesia.

“Kobra sumatera atau Naja sumatrana yang terdapat di Sumatera dan Kalimantan dan kobra jawa atau Naja sputarix yang tersebar di Jawa, Bali, Lombok, Komodo, Rinca, Sumbawa, dan Flores,” jelasnya.

Habitat

Kobra jawa menghuni habitat seperti perbatasan hutan yang terbuka, savana, persawahan, dan pekarangan rumah.

Ular ini rata-rata berukuran panjang 1,3 meter dan bisa mencapai 1,8 meter.

Sekali bertelur induk betina kobra Jawa dapat menghasilkan 10-20 butir, dan akan menetas dalam rentang waktu tiga sampai empat bulan.

Induk kobra meletakkan telur-telurnya di lubang-lubang tanah atau di bawah serasah daun kering yang lembab, lalu meninggalkan telur-telurnya dan membiarkan telur tersebut menetas sendiri.

“Awal musim penghujan adalah waktu menetasnya telur ular. Fenomena ini wajar, dan merupakan siklus alami,” terang Amir, seraya menambahkan bahwa suhu ruangan hangat dan lembab cenderung disukai oleh ular sebagai tempat menetaskan telur.

“Begitu menetas, anakan kobra akan menyebar ke mana-mana,” kata dia.

Penanganan gigitan

Ular kobra melumpuhkan mangsanya dengan menggigit dan menyuntikkan bisa melalui taringnya.

Bisa tersebut melumpuhkan saraf dan otot mangsa hanya dalam beberapa menit saja.

“Meskipun masih bayi, ular kobra sudah memiliki kelenjar bisa yang mampu menghasilkan bisa dan berbahaya bagi manusia,” terang Amir.

Menghindari ular agar tidak masuk ke rumah dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan.

“Gunakan pembersih lantai dengan aroma yang menyegat karena ular tidak suka dengan bau yang tajam,” terang Amir.

Rumah dan sekitarnya juga harus bersih dari sampah bekas makanan karena sampah tersebut dapat mengundang tikus yang merupakan mangsa ular.

Upaya lainnya untuk menghindari ular masuk ke rumah adalah menyingkirkan barang-barang rongsokan dan tumpukan daun-daun kering atau material yang menumpuk.

“Tempat tempat itu bisa menjadi tempat persembunyian ular,” jelas Amir.

Menurut dia, prinsip pengendalian populasi ular perlu memperhatikan keseimbangan ekosistem sehingga tidak menimbulkan permasalahan ekologi.

Untuk keamanan manusia, pemindahan ular bisa dilakukan oleh petugas yang berwenang, serta memiliki pengetahuan dan keahilan dalam menangani ular berbisa.

Jika terjadi kasus gigitan ular kobra, maka penanganannya dapat mengikuti petunjuk terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia tentang Manajemen Kasus Gigitan Ular.

“Antibisa kobra jawa sudah tersedia di Indonesia. Masyarakat harus memastikan ketersediaan antibisa tersebut di rumah sakit,” kata Amir.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here