Feature – Masyarakat Afghanistan rayakan Idul Adha di tengah kesulitan ekonomi

Seorang warga Afghanistan menjual domba menjelang Hari Raya Idul Adha di Kabul, ibu kota Afghanistan, pada 16 Juni 2024. (Xinhua/Saifurahman Safi)

Tingginya angka pengangguran dan kemiskinan di Afghanistan telah secara drastis mengurangi daya beli masyarakat dan membatasi kemampuan mereka dalam berbelanja kebutuhan untuk hari raya Idul Adha.

 

Kabul, Afghanistan (Xinhua) – Seperti halnya umat Islam di seluruh dunia, masyarakat Afghanistan bersiap merayakan Idul Adha dengan mengurbankan hewan ternak dan membagikan dagingnya kepada keluarga yang membutuhkan dalam sepekan ke depan.

Idul Adha, hari raya keagamaan tahunan di negara tersebut, tahun ini jatuh pada 17 Juni, seperti diumumkan otoritas setempat pada Sabtu (15/6) malam.

Meski demikian, tingginya angka pengangguran dan kemiskinan di Afghanistan telah secara drastis mengurangi daya beli masyarakat dan membatasi kemampuan mereka dalam berbelanja kebutuhan untuk hari raya ini.

“Saya sudah berkeliling pasar, tetapi tidak bisa membeli seekor domba pun karena harganya yang tinggi. Dengan kenaikan harga ini, tidak ada yang mampu membeli,” kata Rahmatullah, seorang warga Kabul, ibu kota Afghanistan.

Di pasar hewan di tepi barat Kabul, Rahmatullah (28), berniat membeli seekor domba untuk dikurbankan pada hari pertama Idul Adha. “Dahulu, kami membeli seekor domba dengan harga 16.000 atau 17.000 afghani, tetapi tahun ini harganya menjadi sekitar 19.000 hingga 20.000 afghani,” gumamnya.

Tingginya angka pengangguran
Foto ini menunjukkan suasana di salah satu pasar ternak menjelang Idul Adha di Kabul, ibu kota Afghanistan, pada 16 Juni 2024. (Xinhua/Saifurahman Safi)

“Situasi ekonomi Afghanistan saat ini sedang buruk. Seandainya tidak, saya sudah membeli seekor domba,” kata Rahmatullah, yang merupakan tulang punggung keluarga beranggotakan sembilan orang.

“Masyarakat menghadapi kesulitan ekonomi yang buruk karena tingginya angka pengangguran dan kondisi perekonomian Afghanistan yang terpuruk,” keluh Rahmatullah.

Seorang penjual ternak, Khan Mohammad, juga menyatakan ketidakpuasannya atas permintaan yang rendah dan pendapatan yang menipis akibat jumlah pelanggan yang tidak sesuai harapannya.

Mohammad membeli 22 ekor sapi dari sejumlah desa untuk dijual di Kabul menjelang Idul Adha. Namun, menurutnya, pasar sapi sepi pembeli.

“Saya membayar 70.000 afghani untuk seekor sapi, tetapi pembeli menawarnya dengan harga 60.000 hingga 65.000 afghani. Saya pun merugi,” ungkap Mohammad (35) kepada Xinhua.

Meratapi kemiskinan dan kesulitan ekonomi di negaranya, pemasok ternak tersebut mengatakan dirinya hanya menjual lima ekor sapi dalam sepekan terakhir. Padahal tahun lalu, menjelang Idul Adha, dia bisa menjual 10 hingga 12 ekor sapi setiap harinya.

Tingginya angka pengangguran
Foto yang diabadikan pada 11 Juni 2024 ini menunjukkan kambing-kambing yang akan dikurbankan untuk Idul Adha di Kabul, ibu kota Afghanistan. (Xinhua/Saifurahman Safi)

Laporan sejumlah lembaga bantuan menyebut masyarakat Afghanistan kini tengah menghadapi kerawanan pangan akut dan sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan. Seperempat orang di Afghanistan tidur dalam keadaan lapar setiap malam, kata kantor Program Pangan Dunia (WFP) di Afghanistan, pada Jumat (14/6).

Eisa Khan (48), seorang penjual minuman ringan, menjadi korban lainnya yang terpuruk karena kemiskinan.

Dia mengaku tidak dapat membeli apa pun untuk hari raya tersebut dan tidak mampu mengurbankan seekor hewan pun. “Kami menderita. Anak-anak kami menderita. Mereka (anak-anak kami) ingin kami berkurban, tetapi kami tidak bisa,” ujar Khan, seorang ayah dari keluarga beranggotakan delapan orang yang sehari-harinya berpenghasilan sekitar 200 afghani.

*1 afghani = 232 rupiah

Laporan: Redaksi

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan