Taiwan tangani corona di bawah tekanan “Prinsip Satu China”

Taiwan tangani corona dan hadapi “Prinsip Satu China”
Pasar Shilin di ibu kota Taipei tetap ramai dikunjungi oleh masyarakat setempat dan wisatawan asing dalam suasana yang aman pada Selasa (11/2/2020), meskipun wabah virus corona baru telah menjadi isu global. (Indonesia Window)

Jakarta (Indonesia Window) – Bagi Taiwan, menangani wabah virus corona baru yang sejauh ini telah merenggut nyawa 1.369 orang di China, melampaui jumlah korban SARS pada 2002-2003, merupakan tantangan yang cukup berat.

Tidak hanya karena secara geografi Taiwan berada dekat dengan China (sekitar  2.103 kilometer, ditempuh dalam waktu 2,3 jam lewat udara), tapi juga prinsip satu China (One China Policy) telah menghambat partisipasi Taiwan dalam upaya penanganan global virus yang bermula dari Wuhan di Provinsi Hubei, China tersebut.

Pernyataan dari Kantor Ekonomi dan Perdagangan Taipei (TETO) yang diterima di Jakarta, Kamis menyebutkan bahwa “Prinsip Satu China” yang tidak masuk akal telah menyebabkan kesusahan besar bagi pemerintah dan masyarakat Taiwan. Hal tersebut juga menyebabkan keadaan semakin tidak kondusif dalam memerangi epidemi.

Taiwan yang bukan merupakan bagian dari China, tapi terletak paling dekat dengan negara tersebut turut menanggung dampak dari wabah virus corona. Sampai saat ini, 18 kasus yang dikonfirmasi di Pulau Formosa.

Dengan standar medis kelas dunia yang dimiliki Taiwan, tindakan pencegahan dan penanganan epidemi di wilayah tersebut terbilang berhasil.

Saat ini tidak ada komunitas terinfeksi di Taiwan, dan tidak ada kasus yang dikonfirmasi telah meninggal.

Jumlah kasus yang dikonfirmasi juga lebih rendah dari Hong Kong dengan 49 kasus, Singapura dengan 47 kasus, Thailand yang melaporkan 33 kasus, serta Jepang dan Korea Selatan yang masing-masing memiliki 28 kasus.

Prinsip Satu China

Pernyataan dari TETO menyebutkan bahwa selain memerangi wabah virus corona baru, Taiwan juga harus menghadapi “Prinsip Satu China” yang tidak masuk akal, yang menekankan bahwa Pulau Formosa adalah bagian dari China.

Prinsip tersebut menyebabkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan Taiwan ke dalam “wilayah epidemi China”, menyebabkan beberapa negara seperti Italia dan Filipina mengabaikan upaya anti-epidemi Taiwan.

Pemahaman yang salah dari WHO yang menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayah epidemi China juga mengakibatkan sejumlah negara menghentikan penerbangan dari Taiwan, dan melarang warga Taiwan memasuki negara-negara tersebut.

Padahal, menurut TETO, Taiwan adalah wilayah epidemi non-China dan tindakan menyamakan Taiwan dengan China telah menyusahkan pemerintah dan masyarakat Taiwan, serta warga asing termasuk 500.000 warga Indonesia yang tinggal di Pulau Formosa dan menjalin hubungan dengan rakyat setempat.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here