Taiwan minta dukungan Indonesia untuk partisipasi dalam WHO

Taiwan minta dukungan Indonesia untuk partisipasi dalam WHO
Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan, Dr. Shih-chung Chen. (TETO)

Jakarta (Indonesia Window) – Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan, Shih-chung Chen, menyampaikan permintaan dukungan kepada Indonesia agar dapat berpartisipasi penuh dalam Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dalam pernyataan dari Kantor Ekonomi dan Perdagangan Taipei (TETO) yang diterima di Jakarta, Rabu, Menteri Chen memaparkan sejumlah pengalaman sukses Taiwan dalam memerangi pandemik COVID-19.

Hal tersebut membuktikan bahwa Taiwan memiliki kemampuan untuk berkontribusi dalam perawatan kesehatan global dan seharusnya diikutsertakan secara penuh dalam berbagai pertemuan, mekanisme dan kegiatan WHO.

Menteri Chen menyatakan bahwa Taiwan pernah diprediksi menjadi salah satu negara yang paling parah terkena dampak pandemik karena kedekatan geografisnya dengan China.

Namun, karena Taiwan memiliki pengalaman dalam memerangi wabah SARS (penyakit pernapasan karena virus) pada 2003, maka pemerintah tidak mengabaikan berbagai peringatan yang diterima sejak awal.

Sejak 31 Desember 2019, Taiwan telah sepenuhnya memanfaatkan berbagai informasi untuk memperkuat pengawasan terhadap kemungkinan pandemik, serta secara aktif dan cepat mengadopsi berbagai tindakan pencegahan wabah.

Hingga Rabu (5/5), Taiwan hanya mancatat 1.160 kasus yang dikonfirmasi dengan 11 kematian.

Sementara itu, kebanyakan masyarakat Taiwan dapat mempertahankan kehidupan dan pekerjaan secara normal selama lebih dari satu tahun ini.

Selain itu, Taiwan telah mencetak rekor tidak ada kasus lokal selama 253 hari berturut-turut, dari April hingga Desember 2020.

Menurut Menteri Chen, Taiwan membentuk jaringan pencegahan dan pengobatan penyakit menular nasional setelah epidemi SARS pada tahun 2003.

Upaya tersebut termasuk memasukkan lebih dari 100 rumah sakit terisolasi di seluruh wilayah Taiwan dalam jaringan medis, serta menyiapkan rumah sakit tanggap darurat utama di 22 kabupaten dan kota di Pulau Formosa.

Mekanisme tersebut membantu melindungi sistem medis dan tenaga medis dari kelebihan beban, sehingga selama masa pandemik sebagian besar layanan medis yang bukan COVID-19 dapat beroperasi secara normal tanpa gangguan dari pandemik.

Sejauh ini, hanya dua kasus terkait pandemik COVID-19 yang berkaitan dengan rumah sakit, yang terjadi di Taiwan. Kedua kasus tersebut telah dikendalikan secara efektif, dan tidak ada tenaga medis yang meninggal.

Menteri Chen menegaskan bahwa kepercayaan dan kerja sama masyarakat dan pemerintah menjadi faktor utama keberhasilan Taiwan dalam menekan pandemic COVID-19.

Pemerintah Taiwan juga berupaya memenuhi hak masyarakat dalam mendapatkan informasi tentang pandemik, dan pada saat yang sama tetap menjaga data dan kebebasan pribadi.

Pemerintah juga memberikan perlindungan prioritas kepada komunitas yang kurang beruntung, termasuk pekerja migran.

Pemerintah Taiwan sangat menentang pelanggaran hak-hak rakyat, dan tidak pernah membatasi kebebasan berekspresi, berkumpul, dan berpartisipasi dalam kegiatan publik.

Menteri Chen juga menyebutkan bahwa Taiwan adalah salah satu negara paling sukses di dunia dalam menanggapi pandemik virus corona baru karena memiliki sistem medisnya yang baik, menerapkan strategi pengujian yang ketat, menyediakan informasi yang transparan, serta membangun kerja sama antara sektor publik dan swasta.

Dengan langkah-langkah tersebut, dampak ekonomi COVID-19 di Taiwan relatif kecil.

Pertumbuhan PDB (Pendapatan Domestik Bruto) Taiwan pada tahun 2020 sekitar 3,11 persen. Pada kuartal keempat PDB tumbuh sebesar 4,94 persen, saat terjadi resesi ekonomi global.

Menteri Chen menyerukan Indonesia dan pihak terkait lainnya untuk mendukung masuknya Taiwan ke dalam WHO, sehingga Taiwan dapat berpartisipasi penuh dalam pertemuan, mekanisme dan kegiatan WHO.

Taiwan juga berharap agar dapat bersama dengan negara-negara di dunia dalam mewujudkan Piagam WHO yang menegaskan bahwa kesehatan adalah hak asasi manusia, serta Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan “tidak ada yang dikesampingkan”.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here