Siswa SMA buat bioplastik dari pati biji karet

Siswa SMA buat bioplastik dari pati biji karet
Muhamad Yudi Triana, siswa SMA Negeri 1 Malingping, Banten, menunjukkan selembar bioplastik yang berhasil dibuatnya dari pati biji karet bersama rekannya, Fitrotullailas Tuti. (Indonesia Window/Libertina)

Jakarta (Indonesia Window) – Sadar akan sampah plastik yang kian mengancam kelangsungan lingkungan hidup, dua siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Malingping, Banten, berinisiatif membuat bioplastik dari pati biji karet.

“Memang sudah banyak yang membuat bioplastik ramah lingkungan. Tapi belum ada yang membuatnya dari pati biji karet, padahal produksi karet Indonesia termasuk yang terbanyak di dunia,” jelas Muhamad Yudi Triana, salah satu peneliti bioplastik kepada Indonesia Window di Tangerang baru-baru ini.

Bersama rekannya, Fitrotullailas Tuti, penelitian bioplastik mereka dipamerkan pada pameran ilmu pengetahuan Indonesia Science Expo (ISE) 2019 yang digelar oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Tangerang, Banten.

Muhamad Yudi menjelaskan biji karet mengandung karbohidrat yang merupakan salah satu komponen pembentuk pati dan dapat digunakan untuk membuat bioplastik.

Dalam penelitiannya Yudi melakukan percobaan dengan melarutkan pati biji karet dan akuades dengan perbandingan 1:20, kemudian dicampur dengan gliserol.

Percampuran larutan dengan gliserol dilakukan dengan dua perbandingan, yaitu gliserol 0 persen dan gliserol 5 persen.

“Karakteristik bioplastik terbaik diperoleh pada variasi gliserol 5 persen di mana sifat mekaniknya kuat. Kekuatan daya tariknya 28,1 MPa (megapascal), artinya masuk dalam Standar Nasional Indonesia (SNI),” terang Yudi.

Dia menambahkan, produk bioplastik dari pati biji karet terbukti dapat terurai sempurna di alam dalam waktu sembilan hari.

“Penelitian kami membuktikan bahwa kualitas bioplastik dari bahan dasar pati biji karet cukup baik,” tuturnya.

Selama melakukan penelitian bioplastik kedua siswa tersebut mendapat bimbingan dari peneliti LIPI, Dr. Lisman Suryanegara, dan guru, Moh. Indra Surya Laksana.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here