Sekolah: di mana seharusnya anak tumbuh dan berkembang (1 dari 2 tulisan)

Sekolah: di mana seharusnya anak tumbuh dan berkembang (1 dari 2 tulisan)
Ilustrasi. (Photo by Feliphe Schiarolli on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Sebuah Sekolah Dasar di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan tengah berbangga karena salah seorang muridnya lulus dengan nilai yang gemilang dan menempatkan nama sekolah itu di posisi lima besar pada tahun ajaran 2018/2019.

Liza, demikian murid cerdas itu biasa dipanggil, memperoleh nilai nyaris sempurna untuk tiga mata pelajaran, yakni Bahasa Indonesia, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Sementara pihak sekolah dan kawan-kawannya begitu bersemangat dengan kabar gembira tersebut, Liza tampak kalem menanggapinya.

Kata ibunya, Liza senang namun tak begitu puas karena kepikiran dengan satu soal matematika yang membuatnya tidak dapat meraih nilai sempurna.

“Liza digembleng langsung ayahnya. Apalagi beberapa bulan sebelum ujian akhir. Jadwal belajarnya semakin padat,” tutur sang ibu.

Sikap Liza tersebut menunjukkan dirinya semakin kompetitif dalam mengejar prestasi di sekolah. Nilai ujian dan peringkat akademik adalah prioritasnya kini, bukan hanya karena orangtuanya menghendaki Liza meraih hal-hal tersebut tapi juga masyarakat pada umumnya “menuntut” demikian.

Dalam dimensi budaya versi profesor psikologi sosial asal Belanda, Geert Hosfstede, kondisi tersebut dinamakan maskulinitas. Menurut dia, Indonesia menunjukkan nilai yang relatif tinggi untuk maskulinitas dibandingkan dengan negara-negara Eropa Utara yang cenderung feminin.

Dimensi maskulin menunjukkan bahwa masyarakat didorong oleh kompetisi, prestasi dan kesuksesan yang dimulai di sekolah dan berlanjut sepanjang kehidupan, termasuk di tempat kerja dan kehidupan sosial.

Dalam tulisannya tentang zonasi pendidikan, pemerhati pendidikan dan masalah sosial, Yumna Umm Nusaybah, yang saat ini menetap di London mengajukan sejumlah pertanyaan yang mengkritisi tujuan pendidikan, khususnya terkait kondisi di Indonesia.

“Apakah masyarakat kita beranggapan jika sekolah adalah demi mendapat pekerjaan bagus di masa depan atau untuk membentuk kepribadian generasi bangsa? Apakah sekolah demi status sosial atau menaikkan kemampuan intelektual? Apakah sekolah karena itulah jenjang kehidupan yang berikutnya, atau karena kecintaan pada ilmu yang bermanfaat untuk banyak orang?”

Berikut ini adalah pengalaman dan pandangan Yumna tentang konsep dan praktik pendidikan di Inggris yang jauh berbeda dari keadaan di tanah air.

Sekolah: di mana seharusnya anak tumbuh dan berkembang (1 dari 2 tulisan)
Ilustrasi. (Photo by Angelina Litvin on Unsplash)

Nilai dan ranking

Selama enam tahun terlibat dalam dunia sekolah, saya melihat perbedaan yang sangat nyata antara pendidikan yang saya peroleh di Indonesia dan di London, Inggris.

Hal mendasar yang jelas bisa saya tandai adalah falsafah pendidikannya. Sedangkan hal kepraktisan yang saya lihat sangat berbeda, di antaranya adalah di Inggris tidak ada kenaikan kelas dan sistem peringkat di kelas pada tiap jenjang pendidikan.

Setiap tahun setidaknya ada dua kali “Parents Evening” yakni pertemuan guru dengan wali murid. Pengalaman pertama saya dan suami di acara ini adalah tahun 2015 saat si sulung berada di kelas “reception” (kalau di tanah air sama seperti TK besar).

Di pertemuan itu kami hanya diberi laporan pengamatan para guru tentang Nusaybah. Apa yang sudah diajarkan padanya, target triwulan selanjutnya, dan dukungan apa yang bisa saya berikan di rumah guna menunjang proses belajarnya.

Tidak ada berita si gendhuk ranking berapa. Lah wong memang tidak ada atau tes.

Pihak guru hanya menunjukkan buku LKS (lembar kerja siswa) yang dikerjakan oleh Nusaybah di sekolah.

Ada penilaian harian yang difokuskan pada perkembangan kosakata, penumbuhan minat belajar dan rasa ingin tahu, serta pengenalan huruf dan angka sambil bermain.

Berhubung sang emak masih bermental jadul, saya tetap aja ngotot ingin tahu si gendhuk masuk kelompok belajar yang mana. Setelah sedikit memaksa akhirnya jawaban saya dapat juga. Dan, ach … sedikit lega.

Kompetisi

Di awal tahun ajaran, anak-anak dibebaskan duduk sekehendak mereka. Guru lebih mementingkan membangun suasana kelas yang nyaman dan teman-teman yang saling mengenal dan mendukung.

Berikutnya di pertengahan tahun ajaran, anak-anak mulai dikelompokkan berdasarkan kemampuan mereka. Sebisa mungkin hal ini dilakukan tanpa sepengetahuan si anak didik. Sang guru tidak ingin hal ini memunculkan perasaan bahwa anak-anak di meja biru lebih “cerdas” dibandingkan anak-anak yang ada di meja merah.

Filosofi ini sangat baru bagi saya. Sedari kecil, saya dididik untuk berkompetisi, paling tidak kawan sebangku adalah saingan sehingga pada saat ulangan kertas ujian ditutup sedemikian rupa supaya tidak bisa dicontek.

Situasi seperti itu tidak saya temukan di sekolah Nusaybah. Jangankan ranking, nilai saja tidak ada. Laporan perkembangan murid hanya ada tiga: “exceeding” (melampaui target), “met” (telah memenuhi target), dan “not met” (belum memenuhi target).

Perkembangan anak juga tidak pernah dibandingkan dengan anak lain. Perbandingan justru dilakukan dengan pencapaian anak itu sendiri tiap triwulan.

Misalnya, jika triwulan pertama anak “reception” sudah mampu membaca buku level 2 (padahal target kurikulum adalah level 1), maka di triwulan berikutnya si anak harus mampu naik menjadi level 3 atau 4 (meskipun secara kurikulum mereka hanya perlu sampai level 2).

Jadi, catatan evaluasi perkembangan anak dibuat berdasarkan kemampuan mereka dan sesuai dengan tenggat waktu yang sudah ditentukan. Dengan demikian setiap anak memiliki target yang berbeda, minimal harus memenuhi target kurikulum. Jika ternyata si anak mampu melampaui target maka itu pun tak masalah.

Namun paradigma saya masih berkutat bahwa prestasi atau keberhasilan mendidik anak diukur dari hasil ujian yang berujung pada nilai dan ranking. Karena dari hal-hal inilah saya tahu sejauh mana anak saya telah belajar dan paham, dibandingkan teman-teman sekelasnya. Wajar kan…

Lantas bagaimana saya bisa tahu kalau Nusaybah termasuk yang cerdas atau biasa biasa saja kalau tidak ada ujian, nilai pelajaran dan ranking?

(bersambung)

Penulis: Redaksi, dengan sumber utama dari tulisan Yumna Umm Nusaybah (Pemerhati pendidikan dan masalah sosial tinggal di London, Inggris).

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here