Sekitar 824 juta orang kekurangan gizi hingga akhir 2020: PBB

Sekitar 824 juta orang kekurangan gizi hingga akhir 2020: PBB
Ilustrasi. Gangguan ekonomi dan sosial karena pandemik COVID-19 telah sangat memprihatinkan, menyebabkan puluhan juta orang berisiko jatuh ke dalam kemiskinan ekstrim. (Iñigo De la Maza on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Gangguan ekonomi dan sosial karena pandemik COVID-19 telah sangat memprihatinkan, menyebabkan puluhan juta orang berisiko jatuh ke dalam kemiskinan ekstrim, menurut pernyataan beberapa organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sementara itu, jumlah orang yang kekurangan gizi di seluruh dunia, yang saat ini diperkirakan hampir 690 juta, dapat meningkat hingga 132 juta pada akhirnya di tahun ini, menjadi 824 juta orang, sebut pernyataan bersama ILO (Organisasi Buruh Internasional), FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian), IFAD (Dana Internasional Untuk Pembangunan Pertanian) dan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia).

Pandemik COVID-19 telah menyebabkan hilangnya nyawa manusia secara dramatis di seluruh dunia dan menghadirkan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi kesehatan masyarakat, sistem pangan, dan dunia kerja.

Pernyataan itu menyebutkan, jutaan perusahaan menghadapi ancaman gulung tikar, dan ampir separuh dari 3,3 miliar tenaga kerja di dunia berisiko kehilangan mata pencaharian.

Pekerja ekonomi informal sangat rentan karena mayoritas tidak memiliki perlindungan sosial dan akses ke perawatan kesehatan yang berkualitas dan kehilangan akses ke aset produktif.

Tanpa sarana untuk mendapatkan penghasilan selama lockdown, banyak yang tidak dapat menyediakan makan bagi keluarga mereka.

Bagi kebanyakan orang, tidak ada pendapatan berarti tidak ada makanan, atau, paling banter, lebih sedikit makanan dan makanan yang kurang bergizi, sebut pernyataan itu.

Pandemik telah mempengaruhi seluruh sistem pangan global.

Penutupan perbatasan dan pembatasan perdagangan telah menghambat para petani mengakses pasar, termasuk untuk membeli kebutuhan dan menjual produk mereka.

Sementara itu, para pekerja di sektor pertanian mengalami hambatan dalam memanen, sehingga mengganggu rantai pasokan pangan domestik dan internasional, serta mengurangi akses ke makanan yang sehat, aman dan beragam.

Pandemik telah menghancurkan pekerjaan dan membahayakan jutaan mata pencaharian.

Ketika pencari nafkah kehilangan pekerjaan, jatuh sakit dan meninggal, ketahanan pangan dan gizi jutaan orang berada di bawah ancaman.

Mereka yang berada di negara-negara berpenghasilan rendah, terutama masyarakat yang paling terpinggirkan, termasuk petani skala kecil dan masyarakat adat, mengalami pukulan paling keras dari kondisi tersebut.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here