Satu abad memantau gunung api

Satu abad memantau gunung api
Gunung Merapi di perbatasan Provinsi Yogyakarta dan Jawa Tengah. (Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral)

Jakarta (Indonesia Window) – “Jika ingin menikmati kemegahan dan keelokan gunung api, siapkan mitigasi bencana geologi.”

Karenanya, sebagai negeri kaya akan gunung api, bahkan terkenal dengan Tambora di Nusa Tenggara Barat yang meletus pada 1815 dan diyakini menyebabkan belahan bumi bagian utara mengalami tahun tanpa musim panas (the year without summer), Indonesia punya Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada Badan Geologi di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Tanggal 16 September 2020 akan menandakan seratus tahun PVMBG telah melaksanakan pemantauan gunung api di tanah air.

“Tahun 2020 ini, kegiatan Pemantauan gunung api Indonesia akan memasuki usia 100 tahun, suatu jangka waktu yang cukup lama untuk pengembangan suatu sistem,” ujar Kepala Badan Geologi Rudy Suhendar saat membuka kolokium hasil kajian kegunungapian PVMBG pada Rabu (15/1) di Bandung, Jawa Barat.

Rudy menjelaskan, sebelum menjadi PVMBG, ada sejumlah perubahan nama lembaga sejak pusat tersebut didirikan pertama kali pada 16 September 1920 dengan sebutan Dinas Penjagaan Gunungapi.

Meski mengalami perubahan, visi dan misi lembaga itu tetap sama, yaitu menjadi institusi utama dan terpercaya di bidang mitigasi bencana letusan gunung api, gerakan tanah, gempa bumi dan tsunami untuk menyelamatkan jiwa dan harta benda serta memberikan rasa aman kepada masyarakat.

Sejarah

Sejarah pemantauan gunung api berawal saat terjadi letusan Gunung Kelud pada 20 Mei 1919, yang tercatat sebagai erupsi terdahsyat pada abad 20 dengan korban mencapai 5.160 jiwa.

Menyusul kejadian tersebut, pada 16 September 2020 didirikan The Vulkaan Bewakings Dients atau Dinas Penjagaan Gunungapi di bawah Dients Van Het Mijnwezen.

Lembaga itu kini dikenal sebagai Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

“Seratus tahun adalah perjalanan panjang yang penuh berbagai pengalaman yang bisa kita ambil pelajaran, renungkan bahkan dirayakan bersama,” tutur Rudy.

Pada 1922, The Vulkaan Bewakings Dients diresmikan menjadi Volcanologische Onderzoek (VO), yang kemudian dikenal sebagai Volcanological Survey pada 1939.

Dalam kurun 1920-1941, Volcanologische Onderzoek membangun sejumlah pos penjagaan gunung api, yaitu Pos Gunung Krakatau di Pulau Panjang, Pos Gunung Tangkuban Perahu, Pos Gunung Papandayan, Pos Kawah Kamojang, Pos Gunung Merapi (Babadan, Krinjing, Plawangan, Ngepos), Pos Gunung Kelud, Pos Gunung Semeru, serta Pos Kawah Ijen.

Selama pendudukan Jepang, kegiatan penjagaan gunungapi ditangani oleh Kazan Chosabu.

Setelah kemerdekaan 1945, pemerintah Indonesia membentuk Dinas Gunung Berapi (DGB) di bawah Jawatan Pertambangan.

Pada 1966, dinas tersebut diubah menjadi Urusan Vulkanologi di bawah Direktorat Geologi, dan pada 1976 berubah lagi menjadi Sub Direktorat Vulkanologi di bawah Direktorat Geologi, Departemen Pertambangan.

Lalu, pada 1978 pemerintah membentuk Direktorat Vulkanologi di bawah Direktorat Jenderal Pertambangan Umum, Departemen Pertambangan dan Energi.

Empat belas tahun kemudian, pada 1992 Direktorat Vulkanologi di bawah Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral didirikan.

Perubahan atas lembaga tersebut terus berlanjut.

Pada 2001, urusan gunungapi, gerakan tanah, gempabumi, tsunami, erosi dan sedimentasi ditangani oleh Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

Setelah bergabung dengan Badan Geologi, Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi berubah nama menjadi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Penghargaan

Keberadaan PVMBG beserta perannya dalam memantau bencana geologi yang berkaitan dengan kegunungapian telah dirasakan oleh masyarakat di tanah air.

Dunia internasional juga mengakui kiprah PVMBG dengan sebutan Volcanology Survey Indonesia (VSI) dengan penghargaan kinerja yang tinggi dalam Pemantauan dan Manajemen Krisis Gunung Api dari organisasi vulkanologi terbesar dunia, International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth’s Interior (IAVCEI).

Penghargaan tersebut merupakan catatan sejarah penting karena PVMBG menjadi institusi vulkanologi pertama di dunia yang menerima penghargaan IAVCEI Volcano Surveillance and Crisis Management Award 2018 dari Presiden IAVCEI Don Dingwell di Napoli, Italy pada 7 September 2018.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here