Sabuk ‘Rumble in the Jungle’ Muhammad Ali dijual seharga 91,6 miliar rupiah

sabun rumble in the jungle
Sabuk juara Muhammad Ali dari pertarungan perebutan gelar kelas berat yang digelar pada 1974 dan dikenal dengan sebutan ‘Rumble in the Jungle’ terjual di lelang pada Ahad (24/7/2022) seharga 6,18 juta dolar atau sekira 91,6 miliar rupiah. (Foto: Istimewa)
Advertiser Popin

“Setelah beberapa jam menyaksikan dua penawar bolak-balik memperebutkan sabuk ini, ini terbukti menjadi pertarungan yang layak untuk Rumble itu sendiri.”

 

Jakarta (Indonesia Window) – Sabuk juara Muhammad Ali dari pertarungan perebutan gelar kelas berat yang digelar pada 1974 dan dikenal dengan sebutan “Rumble in the Jungle” terjual di lelang pada Ahad (24/7) seharga 6,18 juta dolar atau sekira 91,6 miliar rupiah.

Pemenang lelang sabuk itu adalah pemilik klub football Indianapolis Colts, Jim Irsay, menurut Heritage Auctions di Dallas, AS.

Dalam sebuah cuitan pada Ahad, Irsay mengkonfirmasi bahwa dia memperoleh sabuk untuk koleksinya di dunia musik rock, sejarah Amerika, dan memorabilia budaya pop.

Sabuk Muhammad Ali itu akan ditampilkan pada 2 Agustus di Dermaga Angkatan Laut Chicago dan pada 9 September di Indianapolis.

“Bangga menjadi steward (menjaga peninggalan harta orang lain)!” cuit Irsay.

“Setelah beberapa jam menyaksikan dua penawar bolak-balik memperebutkan sabuk ini, ini terbukti menjadi pertarungan yang layak untuk Rumble itu sendiri,” kata Chris Ivy, direktur lelang olahraga Heritage, dalam sebuah pernyataan.

sabun rumble in the jungle
Mural wajah Muhammad Ali di Brooklyn, Amerika Serikat. (Nelson Ndongala on Unsplash)

‘Rumble in the Jungle’

Pada 30 Oktober 1974, Muhammad Ali mengalahkan juara bertahan George Foreman dalam perebutan kembali gelar tinju kelas berat dunia. 

Berlangsung di Kinshasa, Zaire (sekarang Republik Demokratik Kongo), Ali menyebut pertarungan itu sebagai “Rumble in the Jungle” – secara harfiah berarti pertarungan di hutan – hingga terus dikenang sampai sekarang.

Ali yang pernah menyebut dirinya ‘the greatest’ atau ‘yang terhebat’ memenangkan pertarungan itu dengan KO di ronde kedelapan.

Meskipun Ali dan Foreman bertarung di Afrika, keduanya sama-sama berasal dari wilayah selatan Amerika Serikat – Ali dari Louisville, Kentucky, dan Foreman dari Houston, Texas – dan sama-sama punya prestasi di Olimpiade.

Ali memenangkan medali emas mewakili AS di divisi kelas berat ringan pada tahun 1960 di Roma, Italia dan Foreman di divisi kelas berat pada Olimpiade 1968 di Mexico City. 

Lebih muda dari Ali dan tak terkalahkan dalam karir profesionalnya, Foreman memasuki pertarungan sebagai favorit. 

Namun, Ali berhasil menggunakan teknik ‘rope-a-dope’ di mana dia berpura-pura terjebak sehingga mendorong Foreman untuk melakukan pukulan yang tidak efektif dan melelahkan. 

Tokoh yang menentukan di balik pertarungan tinju dunia yang sangat berkesan itu adalah promotor Don King. Dia bahkan meyakinkan diktator Zaire Mobutu Sese Seko untuk mensponsori pertarungan itu. Investasi Mobutu berhasil menarik perhatian Zaire. 

Tak hanya itu, sebanyak satu miliar pemirsa TV di seluruh dunia juga ikut menyaksikan pertarungan tersebut meskipun dijadwalkan pada waktu yang tidak lazim, yakni sekitar pukul 4 pagi di Kinshasa atau sama dengan jam tayang utama di Amerika Serikat. 

The Rumble in the Jungle membantu memperkuat reputasi Ali sebagai ‘yang terhebat’.

Foreman pensiun beberapa tahun setelah melawan Ali, tetapi kemudian kembali ke ring dan memenangkan gelar kelas berat lainnya pada tahun 1994. 

Sumber: Associated Press; National Geographic

Laporan: Redaksi

Advertiser Popin

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here