
Pejabat kesehatan sebut rilis informasi COVID-19 di China selalu transparan

Warga berkonsultasi dengan seorang tenaga kesehatan di sebuah klinik demam di Distrik Lianhu di Xi'an, Provinsi Shaanxi, China barat laut, pada 21 Desember 2022. Klinik demam telah didirikan di sejumlah kota termasuk Xi'an dan Changsha untuk memberikan pengobatan tepat waktu kepada pasien yang memiliki gejala COVID-19. (Xinhua/Zou Jingyi)
Rilis informasi COVID-19 China, termasuk informasi kematian terkait COVID-19, selalu transparan, dengan memublikasikan kasus-kasus di mana pasien terinfeksi oleh virus COVID-19 tetapi penyebab langsung kematiannya adalah karena penyakit bawaan.
Beijing, China (Xinhua) – Rilis informasi COVID-19 di China, termasuk informasi kematian terkait COVID-19, selalu transparan, demikian disampaikan seorang pejabat kesehatan pada Kamis (29/12)."China selalu memublikasikan informasi tentang kasus parah dan kematian akibat COVID-19 dalam semangat keterbukaan dan transparansi," kata Jiao Yahui, kepala Biro Administrasi Medis di bawah Komisi Kesehatan Nasional China, dalam sebuah konferensi pers yang digelar oleh Kantor Informasi Dewan Negara China.Dia menyebutkan bahwa kriteria global untuk menentukan kematian akibat COVID-19 terbagi menjadi dua kategori.Beberapa negara hanya menghitung kasus orang dengan hasil tes asam nukleat positif setelah terinfeksi virus corona baru dan meninggal karena kegagalan pernapasan yang disebabkan oleh virus tersebut.Namun berapa negara lain, kata Jiao, menghitung seluruh kematian dalam periode 28 hari setelah tes positif COVID-19. Artinya, jumlah korban bahkan bisa termasuk mereka yang bunuh diri atau meninggal dalam kecelakaan mobil setelah tertular virus."Sejak 2020, kriteria kematian akibat COVID-19 yang kami adopsi di China adalah jenis yang pertama," jelas Jiao, seraya mengatakan bahwa China menghitung kematian akibat kegagalan pernapasan yang disebabkan oleh virus corona baru setelah tes positif COVID-19 sebagai kematian akibat COVID-19.China juga telah memublikasikan kasus-kasus di mana pasien terinfeksi oleh virus COVID-19 tetapi penyebab langsung kematiannya adalah penyakit bawaan, katanya.Dalam kasus seperti itu, penyebab kematian dikaitkan dengan penyakit bawaan, lanjut Jiao."China selalu berkomitmen pada kriteria ilmiah untuk menentukan kematian akibat COVID-19, dari awal hingga akhir, yang sejalan dengan kriteria internasional," tambah Jiao.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Angka harapan hidup rata-rata di Jepang turun selama 2 tahun berturut-turut
Indonesia
•
30 Jul 2023

Penulis ‘Baduy A Novel’ dukung gagasan cetak satu juta penulis
Indonesia
•
11 Feb 2021

PBB: WHO kirimkan pasokan untuk putaran kedua kampanye vaksinasi polio di Gaza selatan
Indonesia
•
21 Oct 2024

Media: Bayi perempuan tak sengaja tertembak mati oleh saudara kandungnya di California, AS
Indonesia
•
21 Jul 2023


Berita Terbaru

Fokus Berita – Gempa 7,7 guncang Panama, lebih dari 40 gempa susulan picu kepanikan
Indonesia
•
11 Oct 2026

Feature – Lelah dengan hidup serba cepat? ‘Forest therapy’ bantu tenangkan diri, turunkan tekanan darah
Indonesia
•
11 Oct 2026

1 dari 12 warga Selandia Baru pernah mengalami sekstorsi, riset ungkap dampaknya
Indonesia
•
08 Oct 2026

Dunia kekurangan 50 juta guru pada 2030, PBB serukan profesi guru lebih menarik
Indonesia
•
07 Oct 2026
