
Studi ungkap resorpsi unsur hara tanaman di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet

Foto yang diabadikan menggunakan 'drone' pada 2 Februari 2024 ini menunjukkan gletser di depan Gunung Geladandong di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet. (Xinhua/Jigme Dorje)
Resorpsi unsur hara merupakan strategi vital untuk konservasi unsur hara, terutama dalam ekosistem permafrost, di mana pertumbuhan tanaman dibatasi oleh ketersediaan unsur hara.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi terbaru mengungkap karakteristik resorpsi unsur hara tanaman di ekosistem permafrost di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet, yang memberikan wawasan perihal strategi konservasi unsur hara di daerah dingin.Studi yang dilakukan oleh para peneliti dari Institut Botani Akademi Ilmu Pengetahuan China tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications.Resorpsi unsur hara merupakan strategi vital untuk konservasi unsur hara, terutama dalam ekosistem permafrost, di mana pertumbuhan tanaman dibatasi oleh ketersediaan unsur hara.Proyeksi saat ini, yang sebagian besar didasarkan pada pengukuran di daerah tropis, subtropis, dan beriklim sedang, mengindikasikan bahwa efisiensi resorpsi nitrogen daun di daerah dingin lebih tinggi dibandingkan efisiensi resorpsi fosfor daun.Namun, proyeksi tersebut belum sepenuhnya divalidasi karena kurangnya observasi dalam ekosistem permafrost.Tim penelitian tersebut melakukan kampanye pengumpulan sampel berskala besar di sepanjang transek permafrost yang membentang di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet dan menemukan bahwa, bertolak belakang dengan pandangan yang ada, efisiensi resorpsi fosfor daun malah tercatat lebih tinggi dibandingkan resorpsi nitrogen daun di ekosistem permafrost.Temuan itu menunjukkan lebih lanjut bahwa dalam ekosistem permafrost, efisiensi resorpsi fosfor daun melampaui efisiensi resorpsi tanaman herba yang ditemukan di seluruh dunia, meski tidak ada perbedaan signifikan yang diamati terkait efisiensi resorpsi nitrogen daun.Studi itu juga mengungkap pertukaran yang menarik antara efisiensi resorpsi nitrogen daun dan tingkat mineralisasi nitrogen tanah. Pola seperti itu tidak terdeteksi pada fosfor daun.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

COVID-19 – PM Rusia: Vaksinasi bisa jadi hal biasa
Indonesia
•
10 Mar 2021

Vaksin personalisasi pertama di dunia untuk kanker otak anak yang mematikan dalam tahap uji klinis
Indonesia
•
03 Feb 2026

Studi ungkap kebisingan lingkungan pengaruhi pemilihan pasangan pada hewan
Indonesia
•
13 Aug 2022

Aplikasi AI Libra dukung aktivitas korporasi dan bisnis
Indonesia
•
12 May 2026


Berita Terbaru

Urine manusia bisa jadi bahan bakar roket? Ilmuwan temukan prosesnya
Indonesia
•
18 Aug 2026

Protein yang selama ini lawan kanker ternyata bisa bantu sel kanker bertahan
Indonesia
•
15 Aug 2026

Telaah – Tiga gempa dahsyat guncang Amerika Selatan, benarkah kawasan ini makin aktif?
Indonesia
•
15 Aug 2026

Gigitan nyamuk bisa jadi ‘booster’ alami untuk cegah malaria, studi ungkap harapan baru
Indonesia
•
15 Aug 2026
