Ramadan 1447 H – Cara mengubah nasib di malam Lailatul Qodar

Ustadz Ustadz Ishom Aini, Lc., M.A., memberi kajian ilmiah dengan tema ‘Cara mengubah nasib di malam Lailatul Qodar’, di Masjid Raya Nurul Wathon, Cibinong, Bogor, pada Sabtu, 28 Maret 2026. (Tim Indonesia Window)
Takdir masih bisa berubah. Takdir global telah ditetapkan, tetapi rincian tahunan ditentukan pada malam Lailatul Qadar. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Setiap manusia telah ditetapkan takdirnya secara global ketika berusia 120 hari dalam kandungan, dan malaikat diutus untuk meniupkan ruh serta mencatat empat perkara: amalnya, rezekinya, ajalnya, serta apakah ia bahagia atau sengsara. Semua itu sudah ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala (ﷻ)
Rezeki tidak hanya uang. Rezeki bisa berupa kesehatan, pasangan yang saleh atau salehah, anak yang saleh, pekerjaan yang halal, dan berbagai nikmat lainnya. Kaya atau miskin bukan pilihan kita, melainkan ketentuan Allah ﷻ. Tugas kita adalah berikhtiar, kata Ustadz Ustadz Ishom Aini, Lc., M.A., pada kajian rutin dengan tema ‘Cara mengubah nasib di malam Lailatul Qodar’ di Masjid Raya Nurul Wathon, Cibinong, Bogor, pada Sabtu, 28 Maret 2026.
“Ajal juga telah ditentukan. Usia umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam (ﷺ) rata-rata antara 60 hingga 70 tahun. Karena itu, kita diperintahkan memperbanyak mengingat kematian,” kata Ustadz Ishom.
Kemudian akhir kehidupan, apakah husnul khatimah (akhir yang baik) atau suul khatimah (akhir yang buruk), juga telah ditetapkan secara global. Namun pertanyaannya: apakah takdir masih bisa berubah?, kata ustadz.
“Jawabannya, bisa. Takdir global telah ditetapkan, tetapi rincian tahunan ditentukan pada malam Lailatul Qadar. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa rincian tentang rezeki, ajal, dan berbagai ketetapan lainnya untuk setahun ke depan ditentukan pada malam tersebut,” jelasnya.
Inilah salah satu hikmah mengapa Allah ﷻ menjadikan kita mustajab doa di bulan Ramadan. Takdir dapat berubah dengan dua hal: ikhtiar maksimal dan doa, ungkapnya.
Allah ﷻ berfirman bahwa Dia tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri, dan jika selama ini kita banyak bermaksiat, evaluasilah sebabnya. “Jika karena lingkungan, perbaiki pergaulan. Jika karena pekerjaan yang haram, tinggalkan atau cari jalan keluar yang halal. Jika karena kebodohan agama, maka belajarlah,” kata ustadz.
Menurut Ustadz Ishom, banyak penyimpangan terjadi karena minimnya literasi agama, fanatisme pada figur tanpa dalil, semangat beramal tanpa ilmu, atau sinkretisme budaya yang tidak sesuai syariat. Solusinya adalah belajar Al-Qur’an dan sunah dengan benar.
“Dalam urusan rumah tangga, tidak ada rumah tangga tanpa masalah. Bahkan para sahabat pun mengalaminya. Jangan mudah berpikir cerai kecuali jika agama benar-benar terancam. Tujuan pernikahan adalah menjaga agama dan kehormatan,” katanya.
Dalam urusan rezeki, jangan terlalu memaksakan gaya hidup. Banyak masalah muncul karena gengsi. Rezeki adalah ketentuan Allah ﷻ, katanya seraya menambahkan, tugas kita berikhtiar dengan jujur, memperluas relasi, dan menjaga integritas, jelasnya.
“Waktu kita singkat. Allah ﷻ bersumpah demi waktu bahwa manusia dalam kerugian kecuali yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Nilai kita bukan pada harta, jabatan, atau status sosial, tetapi pada iman dan takwa,” katanya.
Jika selama ini kita sulit menerima nasihat, menganggap yang makruf sebagai mungkar dan sebaliknya, jangan-jangan itu tanda bahaya bagi akhir kehidupan kita. Maka manfaatkan Ramadan untuk memperbaiki diri dan memperbanyak doa, tambahnya.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa. Gunakan waktu-waktu mustajab: saat berpuasa, saat berbuka, antara azan dan iqamah, ketika sujud, sebelum salam, di hari Jumat, saat safar, dan di sepertiga malam terakhir ketika Allah ﷻ turun ke langit dunia dan menawarkan ampunan serta pengabulan doa, ustadz mengingatkan.
“Mintalah kepada Allah ﷻ agar dimudahkan taat, dijauhkan dari maksiat, diberi kesehatan, rezeki halal, pasangan yang baik, dan husnul khatimah. Jangan andalkan akal dan kekuatan diri kita semata. Manusia itu lemah. Nilai kita ada pada iman dan ketakwaan, katanya lagi.
“Jika kita ingin perubahan setelah Ramadan, lakukan dua hal: ikhtiar maksimal dan doa yang sungguh-sungguh. Semoga ketika rincian takdir ditetapkan pada Lailatul Qadar, ia sesuai dengan harapan dan permohonan kita kepada Allah,” ujarnya.
Ramadan bulan yang sangat istimewa
Ustadz Ishom lebih lanjut mengingatkan, Ramadan adalah bulan yang sangat istimewa, bulan yang sangat agung, dan bulan yang sangat dinanti oleh para salafus saleh, yang menjadikan bulan suci tersbut sebagai momen untuk memperbanyak ibadah, membaca Al-Qur’an, menunaikan qiyamullail, serta menghidupkan berbagai amal saleh lainnya.
Nabi kita Muhammad ﷺ menyampaikan bahwa ketika malam pertama Ramadan tiba, seluruh setan dan jin yang nakal dibelenggu, seluruh pintu surga dibuka dan tidak satu pun ditutup, seluruh pintu neraka ditutup dan tidak satu pun dibuka, ungkapnya.
“Ada yang menyeru di langit, ‘wahai orang yang ingin melakukan kebaikan, lakukanlah. Wahai orang yang ingin melakukan keburukan, berhentilah atau kurangi’. Dan Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari api neraka setiap malam di bulan Ramadan,” katanya.
Karena itu, para salafus saleh menjadikan Ramadan sebagai momen perubahan hidup agar lebih baik dan lebih bernilai di sisi Allah ﷻ, karena tujuan disyariatkannya puasa hanya satu: la‘allakum tattaqun — agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa, jelasnya.
Jika di bulan mulia ini kita menjalankan perintah, menjauhi larangan, dan tidak mengada-ada dalam agama, insyaa Allah akan lahir pribadi-pribadi bertakwa, meskipun sebelumnya mungkin kita adalah pelaku maksiat, ustadz menambahkan.
Di antara keistimewaan puasa Ramadan, Allah ﷻ menjadikan orang yang berpuasa dalam kondisi mustajab doa. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ada tiga doa yang tidak tertolak: doa orang yang berpuasa, doa orang yang terzalimi, dan doa musafir, katanya.
Mengapa orang yang berpuasa mustajab doanya? Karena dua hal. Pertama, puasa yang berkualitas membuat pelakunya mustajab doa. Namun tidak semua orang yang berpuasa mendapatkan keutamaan ini, ujarnya.
“Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Betapa banyak orang berpuasa, tetapi yang ia dapatkan hanya lapar dan dahaga. Betapa banyak orang qiyamullail, tetapi yang ia dapatkan hanya begadang. Artinya, hanya puasa yang sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ yang menghadirkan keistimewaan tersebut,” ucapnya.
Kedua, karena rutinitas ibadah di bulan Ramadan, baik yang wajib maupun sunah, membuat seorang hamba semakin dekat kepada Allah ﷻ hingga Allah ﷻ mencintainya, tambahnya.
Dalam hadis qudsi disebutkan bahwa seorang hamba terus mendekat kepada Allah ﷻ dengan ibadah sunah hingga Allah ﷻ mencintainya. Jika Allah ﷻ mencintainya, maka Allah ﷻ akan membimbing pendengarannya, penglihatannya, tangannya, dan kakinya agar hanya digunakan dalam ketaatan. Dan ketika ia meminta, Allah kabulkan; ketika ia memohon perlindungan, Allah lindungi. Inilah kondisi mustajab doa, ustadz menjelaskan.
“Lalu apa yang bisa kita manfaatkan dari mustajabnya doa ini? Untuk mengubah takdir kita,” kata Ustadz Ishom.
Laporan: Redaks
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Menteri sosial apresiasi langkah kemanusiaan SMSI
Indonesia
•
08 Feb 2021

Indonesia serukan kerja sama global hadapi pandemik pada Sidang Umum Majelis PBB
Indonesia
•
23 Sep 2020

Perekonomian Indonesia tahun 2022 tumbuh 5,31 persen
Indonesia
•
08 Feb 2023

Presiden serukan siap-siap hadapi krisis pangan, energi dan inflasi
Indonesia
•
14 Jun 2022
Berita Terbaru

Wawancara – Prof. Hikmahanto: AS, Israel perangi Iran untuk tumbangkan pemerintahan
Indonesia
•
01 Mar 2026

Produk halal diterima mayoritas non-Muslim NTT, bukti Islam inklusif
Indonesia
•
01 Mar 2026

Opini – Dino Patti Djalal: Iran tidak akan tinggal diam atas serangan AS dan Israel
Indonesia
•
01 Mar 2026

Iran nantikan Indonesia mediasi konflik pascaserangan mematikan AS, Israel
Indonesia
•
01 Mar 2026
